Mengapa Perlu Adanya Pengumuman sebelum Menikah secara Katolik?

0
1620

Sebut saja nama gadis itu Lola. Ia berharap pernikahannya berlangsung sederhana, supaya mantannya tidak mengetahui dan kemudian mengganggu pernikahannya dengan kekasihnya bernama Sani dari agama lain.

Karena bingung ia bertanya kepada Pastor Jeff. Pastor Jeff mengapa orang Katolik kalau menikah harus tiga kali diumumkan di Gereja, bukankah itu hanya keluarga dekat saja yang perlu mengetahui seseorang hendak menikah?”

Persiapan Pernikahan

Menikah merupakan keputusan hidup yang serius dalam hidup seseorang. Apalagi nikah dalam Gereja Katolik memiliki karakter monogami dan tak terceraikan. Karena itu pasangan yang hendak menikah perlu persiapan. Persiapan itu baik mempelai yang hendak meneguhkan perkawinannya maupun persiapan yang diberikan oleh Gereja atau disebut pastoral persiapan pernikahan.

Gereja menekankan pentingnya persiapan pernikahan ini karena Gereja menjunjung tinggi martabat pernikahan dan hidup berkeluarga. Apa saja pastoral persiapan perkawinan dalam Gereja Katolik?

Pertama, berdasarkan norma-norma pastoral atau kebijakan mengenai pastoral. Tugas pengembalaan Gereja (Kan 1063) ialah mendampingi umat Kristiani supaya perkawinan mereka terjaga dan berkembang menuju kesempurnaan.

Bagaimana pendampingannya? Pendampingan ialah melalui katekese, rekoleksi atau retret bagi peserta yang hendak menikah dan perayaan liturgis sakramen perkawinan. Melalui liturgi perkawinan, Gereja mau menyatakan bahwa kedua mempelai mengambil bagian dalam panggilan umum menggereja, menjadi rekan kerja Allah.

Selain itu ordinaris wilayah, termasuk pastor paroki mempunyai kewajiban untuk mengupayakan reksa pastoral perkawinan. Misalnya mengadakan kursus persiapan perkawinan dengan mengundang ahli-ahli keluarga, psikiater, psikolog, tenaga medis, kesaksian hidup orang yang sudah berkeluarga cukup lama dan setia, tim ekonomi dsbnya. Dalam Gereja Katolik ini dikenal dengan Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPP).

Karena pernikahan adalah sakramental maka perlu juga persiapan-persiapan yang sangat penting misalnya sebelum menikah pasangan perlu menerima sakramen tobat atau yang belum menerima sakramen ekaristi, khusus untuk pernikahan sesama Katolik, diberikan. Ini tidak berlaku bagi pihak beda agama atau gereja yang tidak mengakui sakramen-sakramen tersebut.

Kedua, norma-norma yuridis. Apa itu? Yang dimaksud norma-norma yuridis dalam pastoral perkawinan ialah penyelidikan kanonik dan pengumuman nikah. Kedua hal ini sangat penting untuk mempersiapkan perkawinan. Apa alasannya?

Pertama, perlunya kepastian moral. Kan 1066 menegaskan “sebelum perkawinan dirayakan, haruslah pasti bahwa tak satu hal pun menghalangi peneguhan perkawinan. Untuk memastikan semua hal sudah “beres”, sah (valid) dan layak (licit) untuk menikah, maka perlu penyelidikan. Lalu siapa yang memerlukan kepastian moral ini? Kepastian moral ini perlu dimiliki dan ketahui oleh gembala (pastor) dan oleh kedua pasangan.

Kepastian moral ini harus dimiliki demi menjaga kesucian perkawinan dan karena perkawinan merupakan sebuah institusi yuridis dengan konsekuensi-konsekuensinya yang penting. Melalui penyelidikan kanonik diharapkan bisa diketahui status bebas masing-masing calon, ada tidaknya halangan dan larangan serta pemahaman minimum tentang arti dan tujuan perkawinan Kristiani.

Penyelidikan Kanonik (Kan 1020) menerangkan  beberapa ketentuan umum penyelidikan kanonik yaitu: 1) Sebelum meneguhkan pernikahan, pastor paroki hendaknya menyelidiki dengan saksama apakah ada atau tidaknya halangan pada perkawinan yang diteguhkannya. 2) kedua pasangan ditanya secara terpisah apakah ada halangan pernikahan dan persetujuan bebas keduanya serta pemahaman mereka tentang perkawinan Katolik.

Biasanya di paroki-paroki sudah ada formulir penyelidikan kanonik. Beberapa hal yang ditanyakan dalam kanonik ini ialah  1) halangan-halangan nikah (baca KHK Kan 1083-1094), 2) Kehendak bebas untuk menikah dan 3) pemahaman tentang ajaran katolik tentang perkawinan seperti perkawinan menurut katolik, tujuan perkawinan, pendidikan anak dan sebagainya.

Apakah kanonik ini berlaku juga pada pihak non katolik yang menikah dengan katolik? Penyelidikan Kanonik berlaku untuk keduanya. Jika pihak non katolik menolak untuk dikanonik maka perlu diberitahukan kepada ordinaris wilayah (uskup, vikjen dll). Tempat penyelidikannya jelas di Paroki yang Katolik. Demikian juga jika keduanya Katolik, pada umumnya penyelidikan kanonik diberikan di Paroki mempelai wanita.

Pengumuman nikah

Setelah penyelidikan dan semua berkas-berkas persiapan perkawinan sudah beres maka pernikahan keduanya diumumkan di Gereja (Bdk Kan 1022). Mengapa perlu diumumkan? Tujuan pengumuman ini ialah untuk mencari tahu status bebas (liber) calon mempelai. Dengan pengumuman ini, umat beriman yang mengetahui halangan dan larangan perkawinan mempelai ini diharapkan segera melapor atau memberitahukannya kepada pastor paroki.

Pengumuman ini biasanya tiga kali dalam semua perayaan ekaristi pada hari minggu dan hari raya wajib. Bisa juga diumumkan pada papan pengumuman. Pengumuman itu diumumkan di paroki asal atau paroki domisili mempelai yang hendak menikah.

Pengumuman calon perkawinan ini merupakan keharusan dan tidak boleh dilalaikan. Untuk perkawinan campur beda agama (mixta religio) dan beda gereja (disparitas cultus) pengumaman itu bisa diumumkan jika sudah mendapat dispensasi atau ijin dari uskup dan tanpa menyebut nama pihak non Katolik (Bdk. 1026)

Dengan demikian mengapa perlu pengumuman sebelum peneguhan perkawinan di dalam Gereja Katolik? 1) Supaya adanya kepastian moral sah dan layak atau tidaknya perkawinan yang nantinya diteguhkan, 2) untuk mencaritahu halangan dan larangan pernikahan supaya tidak menjadi masalah dan batu sandungan dikemudian hari. Maksud lebih besar dari semuanya itu ialah Gereja menghormati martabat perkawinan baik dalam Gereja Katolik maupun perkawinan yang diteguhkan di agama-agama lain.

avatar
Anak kampung suka mancing. Kalau dipancing pasti dikencing. Kalo sudah dikencing pasti ketawa. Kena kerjain loh!