Sejarah Kitab Suci: Mengenal Sosok Santo Lukas, Penulis Injil

0
441
congerdesign / Pixabay

Jika kita memperhatikan dengan saksama, di antara keempat Injil, Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menyebutkan perumpamaan mengenai ‘orang Samaria yang baik hati’ (Luk. 10:25-37), Yesus yang memuji iman kaum non-Yahudi seperti janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria (Luk. 4:25-27), dan kisah seorang Samaria penderita kusta yang berterima kasih (Luk. 17:11-19).

Pengampunan dan belas kasih Allah kepada para pendosa juga sangat penting bagi penulis Injil Lukas. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar tentang wanita pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan air matanya (Luk. 7:36-50). Sepanjang Injil Lukas, Yesus berpihak kepada yang ingin kembali kepada kemurahan Tuhan.

Injil Lukas adalah Injil bagi orang miskin dan keadilan sosial. Hanya Injil Lukas yang mengisahkan tentang Lazarus dan Orang Kaya (Luk. 16:19-31). Hanya Injil Lukas-lah yang menggunakan kalimat “Berbahagialah orang miskin …” dan bukannya “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dalam Sabda Bahagia (Luk. 6:20-26, Matius 5:1-12).

Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang pemberitahuan akan kelahiran Yesus, kunjungan Maria ke Elisabet, Nyanyian Pujian Maria, Yesus dipersembahkan di Bait Allah, dan Yesus yang hilang di Yerusalem. Kita harus berterima kasih kepada Lukas atas bagian ayat-ayat Alkitab dari doa Salam Maria: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu” yang diucapkan oleh Malaikat Gabriel dan “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus” yang diucapkan oleh saudari sepupunya, Elisabet.

Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh orang yang sama. Fakta ini tampak jelas dari pendahuluan masing-masing kitab. Kedua kitab dipersembahkan kepada orang yang sama – Teofilus. Lantas, Siapa penulis Injil Lukas? Sekalipun nama penulisnya tidak disebutkan di dalam Injil itu  (berlaku bagi semua Injil), Gereja meyakini bahwa Lukaslah yang menjadi penulis Injil itu.

Lukas lahir dan tinggal di kota Antiokhia yang terletak di wilayah Siria kuno. Ia adalah satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Dalam Kolose 4:10-14, Paulus menyebutkan sahabat-sahabat yang bersamanya dari golongan mereka yang bersunat (Yahudi), dan dia tidak memasukkan Lukas dalam kelompok itu.

Tidak ada data-data yang jelas mengenai kapan Lukas bertobat dan menjadi seorang Kristen, tetapi dengan meneliti Kisah Para Rasul, kita bisa melihat bahwa dirinya bergabung dengan Paulus dan menjadi salah satu pengikut setianya. Ia mengikuti perjalanan misioner bersama dengan Paulus ke Makedonia, Yerusalem, dan juga Roma.

Menurut buku-buku sejarah, sebelum menjadi seorang Kristen, Lukas memiliki profesi sebagai seorang tabib atau dokter, meskipun para ahli meragukan fakta tersebut dan lebih memilih untuk menyebutnya sebagai seorang ahli dalam pengobatan. Makanya, Kitab Suci menyebut Lukas sebagai ‘tabib Lukas yang kekasih.’

Lukas mengenal Kristus melalui pewartaan Paulus. Ia banyak membantu Paulus dalam mewartakan iman Kekristenan. Meskipun ia tidak pernah bertemu langsung dengan Yesus semasa Yesus hidup di dunia, Lukas ingin menulis tentang Dia bagi umat Kristiani yang baru bertobat. Ia pun berbicara dengan para saksi awal yang mengenal Yesus secara pribadi. Ia mencatat semua perbuatan Yesus yang mereka lihat; dan Sabda Yesus yang mereka dengar (bdk. Luk. 1:1-4).

Menurut tradisi, Lukas memperoleh sebagian informasi penting untuk Injil yang ditulisnya dari Santa Perawan Maria sendiri. Bunda Maria merupakan orang yang tepat yang dapat menggambarkan secara jelas kedatangan Malaikat Gabriel kepadanya untuk menyampaikan Kabar Gembira. Bunda Maria-lah yang paling dapat menceritakan secara rinci kisah kelahiran Yesus di Betlehem serta pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.

Lukas juga menuliskan kisah tentang bagaimana para rasul mulai mewartakan Sabda Yesus setelah Yesus kembali ke surga. Dalam Kisah Para Rasul, kita mengetahui bagaimana jemaat perdana dan Gereja mulai bertumbuh dan berkembang. Beberapa informasi terperinci mengenai kehidupan Santo Lukas juga dapat diperkirakan dengan seksama.

Lukas pernah pergi ke Roma untuk membantu Paulus pada masa-masa menjelang kemartiran Paulus. Ini terlihat pada 2 Timotius 4:11: “Hanya Lukas yang tinggal dengan saya”, demikian tulis Paulus. Beberapa naskah juga mengatakan bahwa Lukas adalah murid Paulus yang paling setia. Saat Paulus ditangkap dan dipenjara di Yerusalem, Lukas dengan setia mengunjungi gurunya tersebut di tahanan.

Bila melihat dari tata bahasanya yang halus dan keahliannya dalam menulis, Santo Lukas tentu saja adalah seorang yang memiliki pendidikan. Ia digambarkan dengan seekor lembu bersayap, karena Injil karangannya dimulai dengan adegan kurban persembahan di Bait Allah yang dilakukan oleh Zakaria. Menurut tradisi Lukas meninggal dunia pada usia 84 tahun di Boeotia. Makamnya terletak di Thebes (Yunani).

*** dari berbagai sumber

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.