Bangsa Israel Menggerutu, Musa dan Harun Dilarang Memasuki Tanah Terjanji

0
477
LoggaWiggler / Pixabay

Bangsa Israel Menggerutu, Musa dan Harun Dilarang Memasuki Tanah Terjanji: Renungan Harian Katolik, Kamis 8 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Bil. 20:1-13

Orang-orang Israel yang baru saja dibawa keluar dari perbudakan di Mesir suka menggerutu, bersungut-sungut, dan protes. Parahnya, mereka justru merasa bahwa pengalaman di Mesir jauh lebih baik daripada apa yang mereka rasakan di padang gurun.

Mirip dengan orang tua kita. Mereka selalu membandingkan zaman mereka dulu dengan zaman sekarang; dan selalu mengatakan bahwa zaman mereka jauh lebih baik daripada zaman sekarang. Maka, muncullah kalimat: “Piye kabare. Enak zamanku to?”

Masa padang gurun adalah masa pemurnian bagi bangsa Israel. Segala pengalaman pahit di Mesir dibersihkan di sini; sebelum mereka masuk ke tanah terjanji. Masalah utama yang mereka hadapi adalah tidak adanya ketersediaan air untuk minum. Mereka mengamuk dan protes terhadap Musa dan Harun. Mereka berkata:

“Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?” (Bil. 20:3-5).

Telinga Musa panas mendengar ocehan orang-orang Israel itu. Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa:

“Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Hanya saja, ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

Apa kesalahan Musa di situ? Yaitu ia marah. Bukannya dikasih solusi saja, malah marah-marah. Kemarahan Musa dipandang oleh Tuhan sebagai ungkapan ketidakpercayaan. Nah, karenanya Tuhan menghukum Musa. TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Gara-gara hal yang kecil, Musa tidak bisa menikmati apa yang diimpikannya sejak lama. Ia dan Harun tidak diperbolehkan masuk ke tanah terjanji. Masalah kecil dan sepele bisa mendatangkan akibat yang besar jika tidak ditangani dengan baik dan bijak. Ada sederet situasi yang kadang-kadang membuat kita marah, jengkel, dan sakit hati; tetapi kita toh tetap harus mampu menahan diri. Barangkali itu ujian kecil yang harus kita hadapi.

Orang Israel tidak mampu mengatasi ujian di padang gurun; makanya sebagian besar dari mereka tidak sampai ke tanah terjanji. Mereka mati di padang gurun. Hanya anak cucu mereka yang masuk ke tanah terjanji. Musa dan Harun tidak sabar menerima tantangan, mereka pun tidak sampai ke tanah terjanji. Mereka hanya diberi kesempatan untuk melihat tanah terjanji dari kejauhan. Jangan sampai karena kesalahan yang kecil membuat kita makin jauh dari Tuhan.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.