Sebuah Kesaksian: Orang Katolik Tidak Menyembah Maria

0
3840

Penganut Kristen non-Katolik sering salah kaprah dalam menafsikan iman Katolik. Mereka mengira bahwa orang Katolik “menyembah Maria” dan memposisikannya di atas Yesus. Tentu saja tuduhan semacam ini tidak benar. Karena orang Katolik tahu persis apa yang mereka imani. Orang Katolik menghormati Maria sebagaimana pesan Injil Luk. 1:48, bahwa segala keturunan akan menyebut Maria berbahagia. Maka orang Katolik mewujudkan hal itu dalam tindakan penghormatan (Hiperdulia) misalnya, Doa Salam Maria dan lain sebagainya.

DASAR ALKITABIAH

Sejak lama saya menganggap orang-orang Katolik menyembah Maria. Apalagi ada doa Salam Maria, yang menurut saya sama sekali tidak Alkitabiah. Meskipun demikian, dalam iman saya sebelumnya, setidaknya ada dua kali peristiwa di mana Maria dikenang, yaitu ketika Natal dan Paskah. Namun, tidak ada satupun ajaran yang menempatkan Maria sebagai tokoh istimewa. Bahkan hampir tidak ada dalam khotbah yang membahas tentang Maria, kecuali tentang ketaatan dan kerendahan hatinya dihadapan Allah.

Ketika itu saya mengira orang-orang Katolik sangat dimurkai Allah, karena menempatkan Maria sejajar dengan Yesus Kristus. Maria adalah manusia biasa dan tidak layak disembah. Maria tidak mempunyai keistimewaan. Ia sama dengan wanita-wanita lain yang disebut dalam Kitab Suci. Senjata ampuh yang saya gunakan untuk menyerang orang-orang Katolik adalah penyembahan terhadap Maria.

Saya membaca Alkitab dari hari kehari, sehingga saya mulai menemukan nubuat-nubuat tentang Maria. Saya membaca kitab Kejadian 3:15, di mana Tuhan berfirman  bahwa ada permusuhan antara ular (iblis) dengan seorang perempuan, keturuan perempuan itu akan meremukkan kepala ular dan ular akan meremukkan tumitnya. Saya mulai menelusi siapa yang dimaksud.

Pada saat itu mata saya tertuju pada kalimat ‘keturunan’ yang meremukkan kepala iblis. Saya sama sekali belum tahu ajaran Gereja Katolik soal ayat ini. Saya berpendapat bahwa sosok yang dimaksud tidak mungkin Adam dan Hawa, karena mereka justru dikalahkan oleh iblis. Saya belum menemukan sosok itu, maka saya terus membaca Alkitab hingga sampai pada Mikha 5:2,  Zakharia 9:9, di mana terdapat nubuat tentang kedatangan Yesus. Saya mengingat kisah kelahiran Yesus yang dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Maria. Yesus tidak datang dengan semarak, melainkan dengan kesederhanaan. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan dalam keluarga yang bermata pencaharian tukang kayu.

Saya terus menelusuri tentang kedatangan Yesus, yang dilahirkan oleh  seorang perempuan yang saleh. Kemudian saya menemukan Yesaya 7:14. Ayat ini menceriterakan bahwa seorang Dara akan melahirkan seorang anak laki-laki. Pada ayat itu belum disebutkan nama Dara itu. Saya mulai menemukan titik terang,  bahwa dua tokoh keturunan Hawa yang meremukkan iblis adalah Yesus dan Maria. Saya sampai pada Injil Matius 1:22-23 yang menyebutkan nama seorang dara, yaitu Maria. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Imanuel-Allah beserta kita. Selain Yesus, Maria juga dinubuatkan dalam Alkitab.

Kemudian saya membuka Injil Lukas untuk melihat kisah kelahiran Yesus. Saya terkejut membaca kekaguman dan salam yang diberikan malaikat kepada Maria. Malaikat Gabriel sangat  menghormati Maria (bdk. Luk. 1:28). Tidak ada seorang perempuan yang disapa sebagai yang dikaruniai selain Maria. Meskipun ada, tetapi perempuan lain tidak melahirkan Yesus, Sang Juru selamat manusia.

Saya secara perlahan membaca sehingga sampai pada ayat 39-45. Perikop itu menceritakan bagaimana Maria mengunjungi kerabatnya Elisabeth disebuah kota. Maria masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabeth. Ketika Elisabeth mendengar salam Maria, maka melonjaklah anak dalam rahimnya. Elisabeth penuh dengan Roh  Kudus dan berkata berkata “Diberkatilah engaku di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”. Elisabet sangat menghormati Maria dan merasa tidak pantas bila Maria mengunjungi rumahnya.

Saya membaca rangkaian kisah itu hingga ayat 46-56. Perikop itu berisi pujian Maria kepada Allah.  Maria dalam pujiannya mengatakan “..Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturuna akan menyebut aku berbahagia..”.

Saya kesulitan untuk menemukan siapa keturunan yang dimaksud dan dengan cara apa mereka menyebut Maria berbahagia. Saya mengabaikan hal itu dan semakin tekun membaca hingga sampai pada Lukas 2:21-40. Pada ayat itu, Simeon berkata kepada Maria bahwa ‘…suatu pedang akan menembus jiwanya..’  Saya membayangkan kisah penyaliban Yesus. Jiwa Maria sungguh-sungguh tertembus menyaksikan  kematian Putranya.

Saya membuka Injil yang bercerita tentang kisah Maria yang berada di bawah salib Yesus. Kisah tersebut sering saya dengar dalam kebaktian, terutama saat paskah.  Saya membuka Injil Yohanes pasal 19:25-27. Ayat itu bercerita tentang beberapa orang bernama Maria yaitu, Maria ibu Yesus, Maria isteri Klopas, dan Maria Magdalena dan murid yang dikasihi Yesus. Ketika Yesus melihat ibunya dan murid yang dikasihinya, ia berkata kepada ibunya: “ibu, inilah, anakmu!”. Kemudian ia berkata kepada murid yang dikasihi-Nya “inilah ibumu!”. Sejak saat itu murid yang dikasihiNya menerima Maria di rumahnya.

Saya penasaran dan terus membaca Alkitab. Pada suatu hari saya sampai pada Wahyu 12:1-6. Saya pernah mendengar bahwa orang Katolik percaya Maria diangkat ke surga. Saya membaca perlahan-lahan dari ayat pertama hingga ayat keempat. Pada ayat kelima saya menemukan gambaran seorang perempuan yang diceritakan pada ayat pertama hingga keempat. Perempuan yang digambarkan itu melahirkan seorang Anak laki-laki yang  menggembalakan segala bangsa dengan gada besi. Saya melihat ayat-ayat sebelumnya, siapakah yang melahirkan gembala segala bangsa. Jika perikop itu ditafsirkan sebagai bangsa Israel, maka perempuan yang melahirkan anak laki-laki itu berasal dari bangsa Israel. Saya mencoba kembali melihat Injil untuk meyakinkan saya bahwa itu seorang perempuan bernama Maria.

Saya coba mengaitkan kisah Wahyu 12:1-6 dengan kisah dalam Mat. 2:13-15. Kedua perikop serupa, namun dalam wahyu berupa gambaran. Secara perlahan saya menemukan bahwa yang dimaksud adalah tentang Maria yang mengungsi ke Mesir.

Cerita dalam Kitab Wahyu adalah gambaran kejadian masa lampau, di mana Maria pernah mengungsi ke Mesir menghindari pembunuhan anak pertama yang dilakukan oleh Raja Herodes. Maka yang melahirkan gembala segala bangsa adalah Maria, seorang perempuan dari Israel.

Saya menemukan beberapa poin penting dalam pencarianku tentang Maria, yaitu: pertama, segala keturunan menyebut Maria berbahagia. kedua, Maria seorang yang saleh dan taat pada Allah, sehingga mampu mengalahkan iblis atau meremukkan iblis. Ketiga, Maria sangat mengasihi Yesus sehingga mengikuti Yesus sampai puncak golgota. Keempat, Maria memberi teladan iman kepada pengikut Yesus, agar setia mengikuti Yesus dalam suka dan duka. Kelima, Yesus sangat menghormati ibunya. Ia memberikan ibunya kepada pengikutNya. Maria berada dan hadir di tengah Para Rasul (bdk. Kis. 1:12-14). Pandangan saya yang keliru tentang keberadaan Maria dalam Gereja Katolik perlahan-lahan luntur. Saya mulai menyadari betapa Gereja Katolik menafsirkan Alkitab dengan utuh tanpa ada kontradiksi.

Akhirnya saya menemukan bahwa orang-orang Katolik tidak menyembah Maria, melainkan menghormatinya (bdk Luk. 1:48). Orang-orang Katolik menghormati Maria sebagaimana Allah memberikan tempat istimewa kepadanya, yakni melahirkan Yesus Sang Juruselamat. Maria memiliki peran penting yang patut dihargai dan dihormati oleh pengikut Yesus. Dengan demikian, keberadaan Maria dalam Gereja Katolik tidak pernah menggantikan keutamaan Yesus sebagai penyelamat manusia.

[Diangkat dari kisah Silvester Detianus Gea, yang menjadi Katolik pada tahun 2009].

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289