Orang Katolik Tidak Menyembah Patung (Seri II)

0
1905

Dialog tentang pemakaian patung dalam Gereja Katolik tidak ada habisnya. Hampir di semua media kelompok yang menolak pemakaian patung terus melancarkan serangan. Mereka menyerang ajaran Gereja Katolik dari berbagai sisi. Mereka mengutip ayat dari berbagai kitab, meskipun terkadang tidak mengetahui konteks dan tafsir dari perikop yang dikutip.

Gereja Katolik telah melawan bertubi-tubi tuduhan dari berbagai jenis bidat sejak abad pertama hingga kini. Meskipun ajaran Gereja Katolik terus diserang, namun mereka tidak berhasil menghancurkan Gereja Katolik. Yesus sendiri telah berjanji untuk menjaga Gerejanya sehingga kuasa maut tidak  menguasainya (bdk. Mat. 16:18).

Banyak dari kelompok penuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah patung tidak mengerti sama sekali iman Katolik. Mereka juga seringkali mengutip ayat yang sama sekali tidak membahas tentang pemakaian patung. Biasanya mereka mengutip Yohanes 4:24 yang berisi tentang menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Entah bagaimana mereka menafsirkan ayat ini sehingga mereka menganggap bahwa itu larangan pemakaian patung. Bila kita membaca secara utuh perikop Injil Yohanes 4:21-26 dan perikop sebelumnya, kita tidak menemukan sama sekali pembahasan tentang patung.

Perikop sebelumnya ada dialog Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan Samaria tersebut mengatakan bahwa penyembahan terhadap Bapa yang benar hanya ada di Yerusalem. Maka Yesus mengatakan bahwa telah tiba saatnya perempuan itu tidak lagi menyembah Allah di Yerusalem. Yesus mengatakan bahwa penyembah-penyembah benar menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Yesus hendak meluruskan pemahaman perempuan Samaria bahwa Allah dapat disembah dimana saja, tanpa terikat tempat. Lebih dari itu, Yesus menekankan yang terpenting dalam penyembahan adalah berfokus dan berpusat kepada-Nya. Maka perikop itu sama sekali tidak menyampaikan larangan terhadap pemakaian patung, selama patung itu membuat kita fokus dan berpusat kepada sosok Yesus yang sesungguhnya.

Kutipan lain yang sering digunakan untuk menyerang pemakaian patung dalam Gereja Katolik adalah Kis. 17:29, Keluaran 20:4-5, Yesaya 48:5-8, Mazmur 115:4-8, Ulangan 27:15, Keluaran 34:17, Imamat 19:4, Ulangan 4:16-19. Menurut mereka kutipan ayat-ayat itu menunjukkan bahwa pemakaian patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa dilarang oleh Allah. Mari kita lihat isi dari kutipan ayat-ayat di atas.

Pertama, Kis. 17:29, “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia”. Tampaknya pengutip ayat menafsir ayat itu secara lurus atau harfiah, sehingga menimbulkan pemahaman yang salah kaprah. Perikop Kis. 17: 16-23 sebenarnya membahas Kisah Rasul Paulus ketika sedang berada di Atena. Rasul Paulus sedang berbincang-bincang dengan golongan Epikorus dan Stoa mengenai patung-patung dewa-dewa asing atau dewa-dewa Atena. Rasul Paulus hendak mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran yang menyembah dewa-dewa asing. Maka Rasul Paulus mengatakan bahwa Allah tidak tinggal dalam kuil-kuil dewa yang dibuat oleh orang-orang Atena. Kemudian Rasul Paulus mengajak orang-orang Atena bertobat dan mengikuti Tuhan. Maka ia mengatakan kepada mereka bahwa keadaan ilahi tidak sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Rasul Paulus mengatakan itu agar mereka tidak lagi menyembah patung dewa-dewa asing, melainkan mengikuti Kristus. Jelas kutipan ayat tersebut tidak membahas mengenai patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa yang hanya digunakan sebagai sarana, lambang dan simbol. Gereja Katolik tidak pernah menganggap patung Yesus, Bunda Maria dan santo-santa sebagai ilahi atau Tuhan.

Kedua, Keluaran 20:4-5, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan m  yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, … Ayat ini tidak dapat dijelaskan secara terpisah, maka harus dimulai dari ayat 3. Mari kita liat satu persatu.

Keluaran 20:3-5 (menurut LAI, 1999), jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

Menurut orang-orang yang menentang pemakaian patung, ayat 4 dan 5 tidak dapat dipisahkan sehingga diartikan bahwa pengikut Yesus tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh sujud menyembah kepadanya.

Seandainya pandangan tersebut benar, maka Allah sendirilah yang pertama melanggar FirmanNya, karena Ia memerintahkan Musa membuat patung ular tembaga dan patung kerub (bdk. Kel. 21:4-9, 25:20-21, Raj. 7:1-51). Tentu kita tidak ingin mengkontradiksikan Firman Tuhan dalam Alkitab. Maka, kita harus menghindari tafsiran lurus atau harfiah. Oleh sebab itu, ayat di atas perlu dilihat dari berbagai bahasa. Dalam terjemahan bahasa Inggris kita akan menemukan patung apa yang sesungguhnya dilarang.

You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me (RSV, NIV, KJV); You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth; you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Dari catatan terjemahan tersebut kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah Carved Idols yang berarti patung berhala/allah lain atau carven image yang berarti ukiran dari suatu gambaran allah lain. Kalau pengertian kita sebatas pada ukiran suatu gambaran maka kembali lagi kita menemukan kontradiksi, karena Allah sendiri memerintahkan Salomo membuat Bait Allah dengan membuat suatu ukiran pada dinding.

Maka, tuduhan sebagian orang Kristen non-Katolik bahwa Katolik menyembah berhala adalah keliru, karena orang Katolik tidak menghormati atau menyembah patung, melainkan menghormati pribadi yang digambarkan. Malahan bila kita menelusuri lebih jauh, banyak ayat dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Tuhan memerintahkan pembuatan patung untuk kepeluan ibadah (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8). Dengan demikian kita menemukan bahwa Allah melarang kita menyembah image/gambaran/patung sebagai Tuhan.

Ketiga, Keluaran 34:17, “Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan”.  Ayat ini tidak dapat diartikan bila dipisahkan dari ayat sebelumnya atau topik perikop. Perikop ini setidaknya berisi tentang penegasan Tuhan agar orang Israel berpegang pada perintahNya. Konsekuensi dari ketaatan pada perintah Tuhan adalah orang Israel dilarang mengikuti allah-allah orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Orang Israel malah diperintahkan untuk merubuhkan dan meremukkan mezbah-mezbah, tugu-tugu berhala, dan tiang-tiang berhala orang orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Oleh sebab itu, orang Israel dilarang menyembah dan membuat patung dewa-dewi orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Sekali lagi kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah carve idols/graven image (patung berhala/allah lain), dalam konteks ayat tersebut adalah patung dewa-dewi (bdk. Kel. 34:11-18).

Keempat, Yesaya 48:5-8, “…maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya”. Ayat di atas tidak bisa dipisahkan dengan kisah pembuangan bangsa Israel di Babel. Seperti kita ketahui Yesaya Bab 40-55 mengisahkan kehidupan orang-orang Yehuda dalam pembuangan. Mereka tidak mempunyai harapan lagi. Oleh sebab itu, mereka mulai terpengaruh dengan agama babel yang menyembah dewa-dewi/allah lain dengan membuat patung tuangan/pahatan. Maka, Yesaya memberitahukan bahwa Tuhan yang menguasai sejarah dan menyelamatkan mereka, bukan allah lain atau patung pahatan/tuangan orang-orang babel. Sekali lagi kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah patung berhala (carve idols/graven image) atau patung allah lain.

Kelima, Mazmur 115:4-8, “Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.” Ayat di atas membahas tentang patung yang disembah sebagai Tuhan (berhala). Oleh sebab itu, Tuhan tidak menghendaki penyembahan terhadap patung berhala. Sekali lagi ayat ini membahas tentang (carve idols/graven image) atau patung allah lain. Dan dalam konteks ini berhala mempunyai banyak jenis, misalnya uang, jabatan, dan lain sebagainya. Ayat di atas cukup jelas tidak membahas tentang patung yang digunakan sebagai simbol, lambang, sarana dalam ibadah.

Keenam, Ulangan 27:15, Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin!. Ayat tersebut tidak dapat ditafsirkan secara terpisah dari ayat sebelumnya. Perikop ini setidaknya membahas tentang perintah Tuhan yang harus dipatuhi oleh bangsa Israel ketika mereka sampai di tanah terjanji. Tuhan memerintahkan mereka agar mendirikan mezbah bagi-Nya dan mezbah itu harus dibuat dari batu. Selanjutnya, Tuhan melarang mereka untuk membuat patung pahatan atau patung tuangan  untuk disembah atau dijadikan Tuhan. Sekali lagi, yang dimaksud oleh ayat ini adalah patung berhala atau patung allah lain (carve idols/graven image). Sekiranya ini larangan untuk membuat patung sebagai simbol, lambang, dan sarana tentulah akan muncul kontradiksi karena dalam berbagai ayat Tuhan juga memerintahkan pembuatan patung (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8).

Ketujuh, Imamat 19:4, “Janganlah kamu berpaling kepada berhala-berhala dan janganlah kamu membuat bagimu k  dewa tuangan; Akulah TUHAN, Allahmu.” Perikop ayat tersebut setidaknya membahas tentang perintah Tuhan kepada bangsa Israel agar mereka berpegang teguh pada Tuhan. Oleh sebab itu, Tuhan melarang mereka untuk berpaling kepada berhala-berhala dan dewa tuangan. Sekali lagi, kita menemukan bahwa yang dimaksud adalah patung allah lain (carve idols/graven image).

Kedelapan, Ulangan 4:16-19, “supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka,…” Perikop ini setidaknya membahas tentang perintah Tuhan yang harus ditaati oleh bangsa Israel agar masuk negeri yang dijanjikan. Oleh sebab itu, Tuhan melarang mereka membuat patung berhala (allah lain) yang menyerupai apapun untuk disembah. Sekali lagi yang dimaksud adalah patung allah lain (berhala) atau carve idols/graven image. Apabila ayat tersebut diartikan secara harfiah maka akan kontradiksi dengan berbagai ayat dimana Tuhan sendiri memerintahkan pembuatan patung untuk ibadah (bdk. Kel. 25:1,18-20, 1 Taw. 28:18-19, Yehezkiel 41:17-18, Bilangan 21:8). Maka, yang dimaksud adalah patung allah lain (berhala) atau carve idols/graven image yang disembah menggantikan Tuhan.

Gereja Katolik  tidak pernah mengajarkan penyembahan terhadap patung. Bagi Gereja Katolik, patung adalah simbol, lambang, sarana dan alat untuk mengingat/mengenang. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2132:

“Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601) Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67.. Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah. “Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (Tomas Aqu., s.th. 2-2,81,3, ad 3).**

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected] atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289