10.4 C
New York
Monday, April 12, 2021

Perayaan Kamis Putih: Ekaristi Menggerakkan Hati untuk ‘Membasuh Kaki Sesama’

Malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama para murid-Nya ini dapat dikatakan sebagai malam lahirnya Sakramen Ekaristi. Tentang hal ini, Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus sebagaimana dibacakan malam ini menegaskan:

“Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan dalam Darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:23-26).

Perayaan Ekaristi (eucharistia: syukur) tak lain adalah perayaan syukur Yesus kepada Bapa-Nya sebagai ungkapan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa sekaligus pemberian diri-Nya secara total kepada kita. Penyerahan tubuh-Nya (yang dilambangkan dengan roti) dan darah-Nya (dilambangkan dengan anggur) merupakan ungkapan pemberian diri yang total. Semuanya ini dilakukan-Nya dengan tujuan agar manusia diselamatkan. Jadi, keselamatan kita adalah tujuan pemberian diri-Nya.

Tuhan Yesus juga meminta para murid-Nya agar terus melakukan hal tersebut. “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sepanjang zaman Gereja terus melakukan apa yang diwariskan oleh Yesus itu melalui Perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari di seluruh dunia. Perayaan yang dipimpin atas nama Kristus oleh Bapa Suci, para Uskup dan para imam dan melibatkan umat beriman ini telah terbukti menghidupkan Gereja hingga saat ini. Gereja bertahan karena Ekaristi!

Bagi kita Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup umat beriman. Disebut demikian, karena di dalam Ekaristi, umat beriman berjumpa dengan Kristus melalui sabda-Nya dan teritimewa melalui santapan Tubuh dan Darah-Nya (roti dan anggur). Karena itu, orang yang tekun mengikuti Ekaristi pasti sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Yesus dan pasti mendapatkan rahmat berlimpah dalam hidup.

Hal penting lain yang direnungkan pada perayaan Kamis Putih adalah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 13:4-15).

“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak. Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:4-15).

Apa yang dilakukan Yesus ini adalah tindakan tidak biasa dalam masyarakat Yahudi. Ini pekerjaan seorang hamba! Hanya hamba yang bertugas membasuh kaki tuannya. Bukan sebaliknya! Tak ada pula guru yang membasuh kaki para muridnya. Hanya murid yang membasuh kaki gurunya. Itulah alasannya mengapa Petrus pada awalnya tidak mau dibasuh kakinya oleh Yesus, gurunya. Tapi akhirnya Yesus tetap membasuh kaki Petrus.

Tindakan Yesus ini memiliki pesan yang sangat mendalam. Antara lain: ini ungkapan kerendahan hati-Nya yang tulus! Yesus mau para murid-Nya menjadi pribadi rendah hati. Yesus juga mau agar para murid-Nya saling melayani. “Kamu pun wajib saling membasuh kaki!” Itu yang dikatakan-Nya. Inti perutusan mereka adalah pelayanan. Mereka harus menjadi pelayan; harus melayani satu sama lain. Tak hanya asal melayani, tapi melayani dengan rendah hati. Keutamaan seorang pelayan adalah kerendahan hati!

Apa hubungan Ekaristi dengan membasuh kaki? Menurutku, hubungannya adalah Ekaristi menggerakkan hati orang untuk saling membasuh kaki. Membasuh kaki artinya melayani satu sama lain. Maksudnya, perjumpaan dengan Kristus yang dialami dalam Ekaristi mengandung perutusan penting yakni pelayanan kepada sesama. Bahkan perjumpaan dengan Kristus itu mendesak orang untuk pergi melayani sesama dan tidak hanya tinggal diam.

Selain itu, rahmat yang berlimpah yang diterima melalui Ekaristi harus dibagikan; jangan dinikmati sendiri, sebagaimana Yesus rela membagi-bagikan diri-Nya (tubuh dan darah-Nya) demi keselamatan manusia. Semuanya ini dilakukan dengan tulus dan rendah hati. Dengan demikian, menurut saya, Ekaristi mendorong atau menggerakkan hati umat beriman agar menjadi pelayan yang rendah hati seperti Yesus. Ekaristi mendorong kita saling membasuh kaki dalam semangat kerendahan hati.

Mari sejenak melihat ziarah hidup kita yang telah berlalu! Kita sudah sering mengikuti Ekaristi baik saat misa harian maupun hari Minggu dan Hari Raya lainnya. Harapannya kita sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mendapatkan banyak rahmat yang mengalir dari Ekaristi.

Apakah Ekaristi yang kita ikuti selama ini mendorong kita menjadi pelayan? Apakah perjumpaan kita dengan Kristus mendesak kita agar melayani sesama dan tidak hanya hidup bagi diri sendiri? Apakah Ekaristi menggerakkan hati untuk saling membasuh kaki? Harapannya, kita semua sudah melakukannya. Harapannya kita semua telah menjadi pelayan yang rendah hati. Di mana kita melakukannya? Di mana saja kita berada sesuai panggilan dan perutusan kita masing-masing (keluarga, komunitas, lingkungan, tempat kerja, di tengah masyarakat, dan sebagainya).

Kalau sudah melakukannya, itu berarti kita sudah menjadi pribadi Ekaristi. Yang saya maksudkan dengan pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau berbagi kepada sesama, peduli dengan sesama, tergerak untuk membantu sesama dan tidak hanya hidup untuk diri sendiri. Pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau saling membasuh kaki (saling melayani). Pribadi Ekaristi melakukan semuanya itu dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Teladan sempurna pribadi Ekaristi adalah Tuhan Yesus. Dialah pelayan sejati!

Tetapi jika belum sungguh-sungguh melakukannya, semoga perayaan Kamis Putih malam ini membarui hidup kita agar semakin menjadi pribadi Ekaristi. Semoga ke depan kita juga semakin mencintai Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup kita. Semoga kita juga semakin menjadi pribadi yang ‘mau saling membasuh kaki’ (melayani) dan rela berbagi dengan sesama terutama yang sangat membutuhkannya di jalan panggilan dan perutusan kita masing-masing. Semua itu kita perlu lakukan dengan tulus dan rendah hati. Itulah pribadi Ekaristi!***

Salam Ekaristi!

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,547FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini