6.4 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog

Membongkar Kesesatan Martin Luther Menambahkan “Sola” dalam Kita Suci

0
man holding book statue under white clouds during daytime

Pengantar

Dalam livestreaming saya sebelumnya (lihat https://www.youtube.com/watch?v=Sq-LMrl-0OQ&t=608s), saya sudah menunjukkan bahwa Martin Luther ketika menafsirkan Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah pezinah; dan Yesus melakukan perzinahan kepada tiga perempuan. Ini jelas tafsiran heretik. Anehnya, Dekky Nggadas dan para pengikutnya tetap membela tafsiran-tafsiran Martin Luther.

Selain menuduh Yesus sebagai pezinah, Martin Luther juga menambahkan kata “hanya” (allein atau sola) dalam Roma 3: 28. Dan, Martin Luther tetap dibela mati-matian oleh Dekky Nggadas dan teman-temannya. Hal itu tampak dalam video Dekky Nggadas “VV-200 Pertanyaan yang Belum Terjawab (1)”. Dalam video tersebut (dan juga dalam beberapa video lainnnya), Dekky Nggadas berkali-kali memakai kata-kata kasar (seperti goblok, penipu) ketika menyampaikan pembelaannya. Artinya, ia memakai “ad hominem” dalam menyampaikan gagasannya. Sebenarnya kita tidak heran dengan kata-kata kasar itu. Dekky Nggadas hanya mengikuti Martin Luther yang juga memakai kata-kata kasar, menghina dan sekaligus memuji dirinya ketika menyampaikan ajarannya. Hal itu bisa kita baca dalam buku Martin Luther dengan judul: “Luther’s Work, Volume 35”, secara khusus halaman 182-202. Dalam halaman-halaman itu, Martin Luther menyampaikan ajaran heretiknya, yakni:

  • menambahkan kata “sola” (allein) dalam Roma 3: 28;
  • merendahkan Santo-Santa
  • mengubah kata-kata Malaikat “penuh rahmat” kepada Bunda Maria. Ini berarti Martin Luther mengubah isi Kitab Suci yang secara khusus dialamatkan kepada Bunda Maria.
  • Memuji dirinya sendiri.

Dalam video VV 200, Dekky Nggadas merujuk Luther’s Work, Volume 35 tersebut, dengan menyebut halaman spesifik, yakni: halaman 189. Ketika mendengar video itu, saya menunggu-nunggu apakah Dekky Nggadas BERANI memaparkan tulisan Martin Luther itu dari halaman 182 hingga 2002. Pasti menarik karena Martin Luther tidak sekadar menyampaikan pengakuannya bahwa ia tambahkan kata sola (allein) dalam Roma 3: 28, tetapi juga Martin Luther mengumpat, menghina, memakai kata-kata kasar.

Saya mau menunjukkan tulisan Martin Luther itu, untuk melihat kesesatannya dalam menambahkan kata “sola” untuk mendukung ajarannya mengenai “sola fide”. Maka saya mulai dari halaman 182 hingga 189 dan 193-195.

Kutipan dan Terjemahan Ajaran Martin Luther

Sekali lagi, supaya kita fokus, saya hanya membahas penambahan kata SOLA dalam Roma 3: 28 untuk membongkar kesesatan Martin Luther. Oleh karena itu, saya hanya menampilkan ajaran Luther dalam halaman 182 – 189 dan 193-195. Berikut pernyataan Martin Luther itu, yang tulis pada 8 September tahun 1530:

To the honorable and worthy N., my esteemed lord and friend.

Grace and peace in Christ, honorable, worthy, and dear lord and friend. I have received your letter with the two questions, or inquiries, to which you ask my reply. First you ask why in translating the words of Paul in Romans 3 [:28], Arbitramur hominem justificari ex fide absque operibus, I rendered them thus: “We hold that a man is justified without the works of the law, by faith alone.” You tell me, besides, that the Papists are making a tremendous fuss, because the word sola (alone) is not in Paul’s text, and this addition of mine to the words of God is not to be tolerated. Second you ask whether the departed saints too intercede for us, since we read that angels indeed do intercede for us?

Kasih karunia dan damai sejahtera dalam Kristus, tuan dan sahabat yang terhormat, layak, dan terkasih. Saya telah menerima surat Anda dengan dua permasalahan, atau pertanyaan, yang Anda minta untuk dijawab. Pertama, Anda bertanya mengapa dalam menerjemahkan kata-kata Rasul Paulus dalam Roma 3 [:28], Arbitramur hominem justificari ex fide absque operibus, saya menerjemahkannya sebagai berikut: “Kami yakin bahwa manusia dibenarkan tanpa melakukan hukum Taurat, hanya oleh iman.” Selain itu, Anda mengatakan kepada saya bahwa “Papists”[1] (para pengikut Paus) membuat keributan yang luar biasa, karena kata sola (hanya) tidak terdapat dalam teks Paulus, dan penambahan saya terhadap Firman Allah tidak dapat ditoleransi. Kedua, Anda bertanya apakah orang-orang kudus yang telah meninggal juga berdoa bagi kita, karena kita membaca bahwa malaikat memang berdoa bagi kita?

With reference to the first question, you may give your papists the following answer from me, if you like. First if I, Dr. Luther, could have expected that all the Papists taken together would be capable enough to translate a single chapter of the Scriptures correctly and well, I should certainly have mustered up enough humility to invite their aid and assistance in putting the New Testament into German. But because I knew— and still see with my own eyes—that none of them knows how to translate, or to speak German, I spared them and myself that trouble. It is evident, indeed, that from my German translation they are learning to speak and write German, and so are stealing from me my language, of which they had little knowledge before. They do not thank me for it, however, but prefer to use it against me. However, I readily grant them this, for it tickles me that I have taught my ungrateful pupils, even my enemies, how to speak.

Sehubungan dengan pertanyaan pertama, Anda dapat memberikan jawaban berikut ini kepada Papists Anda, jika Anda mau. Pertama, jika saya, Dr. Luther, dapat mengharapkan bahwa semua Papists secara bersama-sama akan cukup mampu untuk menerjemahkan satu pasal dari Kitab Suci dengan benar dan baik, maka saya tentu saja harus memiliki cukup kerendahan hati untuk meminta bantuan dan pertolongan mereka dalam menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Tetapi karena saya tahu – dan masih melihat dengan mata kepala sendiri – bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat menerjemahkan, atau berbicara dalam bahasa Jerman, maka saya menghindarkan diri dari kesulitan itu. Jelaslah bahwa dari terjemahan bahasa Jerman saya, mereka belajar berbicara dan menulis dalam bahasa Jerman, dan dengan demikian mencuri dari saya bahasa saya, yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Akan tetapi, mereka tidak berterima kasih kepada saya untuk itu, tetapi lebih suka menggunakannya untuk melawan saya. Namun, saya dengan senang hati memberikannya kepada mereka, karena hal itu menggelitik saya bahwa saya telah mengajari murid-murid saya yang tidak tahu berterima kasih, bahkan musuh-musuh saya, cara berbicara.

Komentar analitik:

· Menarik menganalisis terjemahan Martin Luther terhadap Roma 3 :28 dari teks Bahasa Latin: Arbitramur hominem justificari ex fide absque operibus. Martin Luther menerjemahkan kalimat tersebut dengan menambahkan kata “sola” (hanya) atau dalam bahasa Jerman: allein (hanya). Terjemahkan Luther jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, demikian: “Kami yakin bahwa manusia dibenarkan tanpa melakukan hukum Taurat, hanya oleh iman.” Dari sini, Luther kemudian memantapkan ajaran Sola Fide!

· Martin Luther tentu tidak jujur menerjemahkan; ia tidak menerjemahkan, dan bukan juga menafsirkan tetapi justru menambahkan Kitab Suci. Dengan demikian, ia belokkan maksud dari Roma 3: 28 karena ia tambahkan kata “hanya”. Argumentasi linguistiknya begini: berdasarkan tata bahasa Latin, kata “fide” dalam “Arbitramur hominem justificari ex fide absque operibus” (Roma 3: 28) tersebut, didahului oleh preposisi “ex”, maka kata “fide” termasuk kata benda “ablativus”. Suatu kata dipastikan sebagai “ablativus” jika didahului oleh preposisi “ex”. Dengan demikian kata fide mesti diterjemahkan menjadi “by faith” (oleh iman/karena iman) atau “from faith” (dari iman) atau “with faith” (dengan iman) atau “in faith” (dalam iman). Dan tidak mungkin diterjemahkan menjadi “hanya oleh iman” (by faith alone); tidak boleh juga diterjemahkan menjadi “oleh karena hanya iman”.

· Kita tahu bahwa kasus “ablativus” dalam bahasa Latin bertujuan untuk menyatakan “perbandingan” dari dua hal/orang, atau menunjukkan “pembedaan” dari dua hal/orang atau menyatakan “kesesuaian” (accordance) dari sesuatu atau seseorang. Namun, dengan menambahkan kata “hanya”, maka kalimat itu berubah 180 derajat. Tidak lagi membandingkan dua hal, tetapi yang satu meniadakan yang lain. Dalam arti, iman dipertahankan sebagai “satu-satunya” yang benar, sementara “perbuatan” dihilangkan.

· Padahal, dalam teks tersebut, Rasul Paulus membandingkan “iman kepada Kristus” dengan “melakukan Hukum Taurat” dan bukan semua “perbuatan”. Martin Luther dan para pengikutnya justru hanya menyebut: kita diselamatkan hanya karena iman dan bukan karena perbuatan. Dari pernyataan ini, maka semua “perbuatan” menjadi tidak penting lagi dalam keselamatan kita. Ini jelas bertentangan dengan isi Kitab Suci. Sekali lagi, Roma 3: 28 itu sudah mengkhususkan perbandingan iman, yakni: “melakukan Hukum Taurat”. Ajaran Luther ini juga bertentangan dengan Yakobus 2: 17; 2: 22; 2: 24 dan ayat 26. Bahkan, bertentangan dengan Matius 7: 21, dan lain sebagainya (ada banyak kutipan Kitab Suci yang justru menegaskan bahwa iman dan perbuatan tidak bisa dipisahkan).

· Dengan menambahkan kata “allein” (sola) dalam Roma 3: 28, Martin Luther secara ekstrim meniadakan “hukum Taurat”. Ini jelas bertentangan dengan Sabda Yesus sendiri dalam Matius 5:17-19. Yesus datang bukan untuk MENIADAKAN Hukum Taurat, tetapi justru “menggenapinya”. Maksud dari ‘menggenapi’ adalah menjadikan hukum Taurat itu sempurna. Hukum Taurat menjadi sempurna kalau orang paham apa yang mendasari Hukum Taurat itu, yakni agar orang Israel hidup sesuai dengan martabat mereka sebagai umat Allah. Dua hal yang menjadi dasar adalah kasih kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan kasih kepada sesama dengan sepenuh hati pula. Jadi, “perbuatan” yang dilandasi oleh “kasih”, tentu tidak bisa dipisahkan dari iman. Dan perbuatan kasih tidak bertentangan dengan iman. Oleh karena itu, perbuatan kasih tidak boleh dihilangkan!

· Setelah membaca pernyataan Luther di atas, tampaknya Luther tidak sedang menerjemahkan Sabda Allah dengan hati yang tulus dan murni, tetapi sedang “curhat” atau sedang “menabuh genderang kebenciannya kepada Paus dan Gereja Katolik”. Dalam kutipan-kutipan berikut, Martin Luther berkata kasar, merendahkan dan menghina Paus dan umat Katolik dengan sebutan Papists.

· Sabda Allah dalam Kitab Suci itu tidak seperti informasi di dalam koran atau majalah atau buku sejarah, yang “bebas” ditafsirkan. Sabda Allah itu bukan kita “kuasai”, tetapi justru setelah memahami Sabda Allah itu, lalu kita membiarkan diri kita “dikuasai dan diarahkan” oleh Tuhan Allah.

· Tuhan Allah tidak mengarahkan umatNya untuk menghina dan menyerang orang lain. Tetapi Martin Luther melakukan sebaliknya: sambil menerjemahkan Sabda Allah, ia juga menambah isi Kitab Suci sesuai “kemampuan bahasa Jermannya”. Dengan demikian, ia berjuang “menguasai maksud Sabda Allah sesuai rasa bahasa Jermannya”, dan bukan berdasarkan maksud asli Kitab Suci itu sendiri. Dalam pendekatan penafsiran Kitab Suci tentu cara Martin Luther ini jelas tidak akademik dan tidak sesuai dengan prinsip penerjemahan Kitab Suci.

· Martin Luther lebih mengikuti hasrat subjektif dan berusaha menjadikan dirinya lebih superior dari yang lain. Martin Luther memuji diri sendiri dan merendahkan yang lain dengan menyatakan: saya lebih tahu bahasa Jerman, dan tidak ada satupun di antara Papists yang tahu menerjemahkan Kitab Suci dari Bahasa Latin ke bahasa Jerman. Luther tidak sadar bahwa ia sedang membuat dirinya sebagai pusat (self-centered) dan bukan Tuhan Allah sebagai pusat (God-centered). Luther-sentris tampak dalam caranya menafsirkan Kitab Suci semata-mata berdasarkan Pengetahuan Jermannya” dan bukan berdasarkan “bahasa Kitab Suci”, sehingga Martin Luther juga “membiaskan” (mengaburkan) maksud Tuhan Allah.

 

Second you may say that I translated the New Testament conscientiously and to the best of my ability. I have compelled no one to read it, but have left that open, doing the work only as a service to those who could not do it better. No one is forbidden to do a better piece of work. If anyone does not want to read it, he can let it alone. I neither ask anybody to read it nor praise anyone who does so. It is my Testament and my translation, and it shall continue to be mine. If I have made some mistakes in it—though I am not conscious of any and would certainly be most unwilling to give a single letter a wrong translation intentionally—I will not allow the papists [to act] as judges. For their ears are still too long, and their hee-haws too weak, for them to criticize my translating. I know very well—and they know it even less than the miller’s beast—how much skill, energy, sense, and brains are required in a good translator. For they have never tried it.

Kedua, Anda dapat mengatakan bahwa saya menerjemahkan Perjanjian Baru dengan cermat dan sebaik mungkin. Saya tidak memaksa siapa pun untuk membacanya, tetapi membiarkannya terbuka, melakukan pekerjaan ini hanya sebagai pelayanan bagi mereka yang tidak dapat melakukannya dengan lebih baik. Tidak ada yang dilarang untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik. Jika ada yang tidak ingin membacanya, biarkan saja. Saya tidak meminta siapa pun untuk membacanya atau memuji siapa pun yang membacanya. Ini adalah Perjanjian saya (my Testament; mungkin terjemahan itu bisa dikatakan sebagai Luther Testament hahahaha) dan terjemahan saya, dan akan terus menjadi milik saya. Jika saya telah membuat beberapa kesalahan di dalamnya – meskipun saya tidak sadar akan hal itu dan tentu saja saya tidak ingin memberikan satu huruf pun yang salah dalam terjemahan yang disengaja – saya tidak akan mengijinkan Papists [bertindak] sebagai hakim (untuk menilai terjemahan saya). Karena telinga mereka masih terlalu panjang, dan teriakan (hee-haws[2]) mereka terlalu lemah, untuk mengkritik terjemahan saya. Saya tahu betul – dan mereka bahkan lebih tidak tahu daripada binatang buas penerkam (the miller’s beast) – berapa banyak keahlian, energi, akal sehat, dan otak yang dibutuhkan dalam penerjemahan yang baik. Karena mereka tidak pernah mencobanya.

Komentar

· Martin Luther percaya diri bahwa dengan menambahkan kata “sola” ketika menerjemahkan Roma 3: 28 merupakan pekerjaan yang baik. Padahal, jelas-jelas penambahan kata “sola” itu justru perbuatan menyimpang karena menambahkan Sabda Allah.

· Hal yang sangat fatal adalah pengakuan Martin Luther bahwa kendati dia melakukan kesalahan dalam menerjemahkan Kitab Suci, dia tidak mau dikritik oleh Paus. Di sini, Martin Luther tidak memiliki kerendahan hati, dan bahkan sangat dominan karakter pembangkangnya. Intinya, kendati salah, Luther tidak mau tunduk kepada otoritas kepausan yang tentu punya kewenangan untuk menjaga kebenaran iman Katolik.

· Kata hee-haws itu bisa berarti teriakan keras dari keledai atau bagal. Jadi, Martin Luther menghina atau melakukan ad hominem kepada Paus dan umat Katolik, yang juga ia hina sebagai Papists.

 

There is a saying, “He who builds along the road has many masters.” That is the way it is with me too. Those who have never even been able to speak properly, to say nothing of translating, have all at once become my masters and I must be the pupil of them all. If I were to have asked them how to put into German the first two words of Matthew’s Gospel, Liber Generationis (The book of the genealogy) none of them would have been able to say Quack! And now they sit in judgment on my whole work! Fine fellows! That is the way it was with St. Jerome too when he translated the Bible. Everybody was his master. He was the only one who was totally incompetent. And people who were not worthy to clean his shoes criticized the good man’s work. It takes a great deal of patience to do a good thing publicly, for the world always wants to be Master Know-it-all. It must always be putting the bit under the horse’s tail, criticizing everything but doing nothing itself. That is its nature; it cannot get away from it.

Ada pepatah mengatakan, “Siapa yang membangun di sepanjang jalan, maka ia akan memiliki banyak tuan.” Begitulah yang terjadi pada saya. Mereka yang bahkan tidak pernah bisa berbicara dengan baik, apalagi menerjemahkan, sekaligus menjadi guru saya dan saya harus menjadi murid mereka semua. Jika saya bertanya kepada mereka bagaimana cara menerjemahkan dua kata pertama dari Injil Matius, Liber Generationis (Kitab Silsilah) ke dalam bahasa Jerman, tak seorang pun dari mereka akan mampu mengatakan Quack! Dan sekarang mereka duduk menghakimi seluruh pekerjaan saya! Teman-teman yang baik! Jerome juga demikian ketika ia menerjemahkan Alkitab. Semua orang adalah tuannya. Dia adalah satu-satunya orang yang sama sekali tidak kompeten. Dan orang-orang yang tidak layak untuk membersihkan sepatunya mengkritik pekerjaan orang yang baik. Dibutuhkan banyak kesabaran untuk melakukan hal yang baik di depan umum, karena dunia selalu ingin menjadi Tuan yang tahu segalanya. Ia harus selalu berada di bawah ekor kuda, mengkritik segala sesuatu tetapi tidak melakukan apa-apa. Itulah sifatnya; ia tidak bisa melepaskan diri darinya.

Komentar:

· Dengan pernyataan ini, Martin Luther juga merendahkan guru-guru dan dosen-dosennya selama ia mengenyam pendidikan di biara dan universitas. Tampak jelas bahwa dalam tulisan ini, Martin Luther sedang menuliskan sesuatu dengan “luapan emosional” dari hatinya yang penuh kebencian dan penghinaan.

· Kata Quack itu sangat kasar. Sebab bisa diartikan sebagai “mangab”, atau seperti suara bebek.

· Apakah bisa kita percaya pengakuan Martin Luther bahwa ia satu-satunya yang paling paham bagaimana menerjemahkan Kitab Suci dari Bahasa Latin ke Bahasa Jerman pada waktu itu? Tentu tidak! Saat itu, ada banyak Uskup dari Jerman yang bisa bahasa Latin dan juga tentu bisa bahasa Jerman. Seolah-olah pada saat itu, hanya Martin Lutherlah “orang Katolik” yang paling tahu Bahasa Latin dan Bahasa Jerman. Ini halusinasi tingkat tinggi! Saat itu juga ada banyak biarawan-biarawan hebat dari Jerman yang menguasai bahasa Latin dan bahasa Jerman dengan baik.

 

I should like to see a papist who would come forward and translate even a single epistle of St. Paul or one of the prophets without making use of Luther’s German translation. Then we should see a fine, beautiful, praiseworthy German translation! We have seen the Dresden scribbler who played the master to my New Testament. I shall not mention his name?” again in my books as he has his Judge now, and is already well known anyway. He admits that my German is sweet and good. He saw that he could not improve on it. But eager to discredit it, he went to work and took my New Testament almost word for word as I had written it. He removed

my introductions and explanations, inserted his own, and thus sold my New Testament under his name. Oh my, dear children, how it hurt me when his prince, in a nasty preface, condemned Luther’s New Testament and forbade the reading of it; yet commanded at the same time that the scribblers New Testament be read, even though it was the very same one that Luther had produced!

Saya ingin melihat seorang Papist yang mau maju dan menerjemahkan bahkan satu surat Santo Paulus atau salah satu kitab dari para nabi tanpa menggunakan terjemahan bahasa Jerman Luther. Maka kita akan melihat sebuah terjemahan bahasa Jerman yang bagus, indah, dan patut dipuji! Kita telah melihat juru tulis dari (kota) Dresden yang telah menjadi ahli dalam Perjanjian Baru. Saya tidak akan menyebutkan namanya lagi dalam buku-buku saya karena dia sudah menjadi hakim sekarang, dan sudah sangat terkenal. Dia mengakui bahwa bahasa Jerman saya manis/memuaskan) dan bagus. Dia melihat bahwa dia tidak dapat memperbaikinya. Tetapi karena ingin mendiskreditkannya, ia mulai bekerja dan mengambil Perjanjian Baru saya hampir kata demi kata seperti yang saya tulis. Dia menghapus pengantar dan penjelasan saya, menyisipkan kata-katanya sendiri, dan dengan demikian menjual Perjanjian Baru saya dengan namanya. Oh, anak-anakku yang terkasih, betapa sakitnya hati saya ketika pangerannya, dalam kata pengantar yang keji, mengutuk Perjanjian Baru Luther dan melarang membacanya; tetapi pada saat yang sama memerintahkan agar Perjanjian Baru yang ditulis oleh para pencetaknya dibaca, meskipun Perjanjian Baru tersebut adalah Perjanjian Baru yang sama dengan yang telah dibuat oleh Luther!

Komentar:

· Dalam paragraf ini, Martin Luther sedang berhalusinasi bahwa ketika Paus (dan Kardinal/Uskup utusan Paus) melarang terjemahan Luther, itu sebagai upaya Paus untuk sekadar mendeskritkan Martin Luther. Padahal, pada saat itu, Paus melarang terjemahan Kitab Suci versi Luther oleh karena Martin Luther menambahkan beberapa kata di dalamnya. Bahkan, tidak menerjemahkan Kitab Suci sesuai dengan kebenaran yang diilhami oleh Roh Kudus. Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Latin ke Bahasa Jerman sambil menyisipkan pandangan pribadinya, dan bahkan untuk menyerang ajaran Gereja Katolik.

· Kita tahu bahwa Martin Luther itu seorang Pastor Katolik. Ia seharusnya sudah tahu bahwa jika para Pastor Katolik (dan juga awam) menulis buku seputar Kitab Suci, Teologi, Spiritualitas, Liturgi, Moral atau menerjemahkan Kitab Suci, maka mesti bebas dari KESESATAN. Maka, tulisan-tulisan itu perlu diperiksa oleh otoritas Gereja Katolik. Maka, dalam buku-buku Katolik hingga kini selalu tertulis NIHIL OBSTAT, dan juga IMPRIMATUR. Nihil Obstat berarti TIDAK ADA KESESATAN. Sementara IMPRIMATUR berarti layak disebarluaskan/dipublikasikan.

· Pada tahun 1520, Paus Leo X dalam Bulla Exsurge Domine (melalui Bulla ini, Paus mengekskomunikasi Martin Luther), menyatakan:

· Versi Inggris: “Some, putting aside her true interpretation of Sacred Scripture, are blinded in mind by the father of lies. Wise in their own eyes, according to the ancient practice of heretics, they interpret these same Scriptures otherwise than the Holy Spirit demands, inspired only by their own sense of ambition, and for the sake of popular acclaim, as the Apostle declares. In fact, they twist and adulterate the Scriptures. As a result, according to Jerome, “It is no longer the Gospel of Christ, but a man’s, or what is worse, the devil’s.”

· Versi Indonesia: Beberapa orang, mengesampingkan penafsiran yang benar atas Kitab Suci, dibutakan pikirannya oleh bapa segala dusta. (Merasa) bijaksana di mata mereka sendiri, sesuai dengan praktik kuno para bidat, mereka menafsirkan Kitab Suci yang sama ini secara berlawanan dengan yang dituntut oleh Roh Kudus, diilhami hanya oleh rasa ambisi mereka sendiri, dan demi pujian yang populer, seperti yang dinyatakan oleh Rasul. Bahkan, mereka memutarbalikkan dan memalsukan Kitab Suci. Akibatnya, menurut Jerome (Eusebius Hieronymus), “Itu bukan lagi Injil Kristus, tetapi Injil manusia, atau yang lebih buruk lagi, Injil Iblis.”

· Dari Bulla Paus Leo X di atas, ternyata bukan hanya Martin Luther yang menerjemahkan Kitab Suci, tetapi ada beberapa yang lain. Dan, kenderungan mereka adalah menambahkan kata-kata atau maksud dari Kitab Suci. Ini jelas heretik atau menyesatkan umat Kristini, maka mesti dilarang!

 

That no one may think I am lying, just take the two Testaments, Luther’s and the scribbler’s, and compare them; you will see who is the translator in both of them. He has patched and altered it in a few places. And though not all of it pleases me, still I can let it go; it does me no particular harm, so far as the text is concerned. For this reason I never intended to write against it either. But I did have to laugh at the great wisdom that so terribly slandered, condemned, and forbade my New Testament, when it was published under my name, but made it required reading when it was published under the name of another. What kind of virtue that is, to heap slander and shame on somebody else’s book, then to steal it and publish it under one’s own name—thus seeking personal praise and reputation through the slandered work of somebody else—I leave that for his Judge to discover. Meanwhile I am satisfied and glad that my work (as St. Paul also boasts [Phil. 1:18]) must be furthered even by enemies; and that Luther’s book, without Luther’s name but under that of his enemies, must be read. How could I avenge myself better?

Agar tidak ada orang yang mengira saya berbohong, ambillah dua Perjanjian, Perjanjian Luther dan Perjanjian juru tulis, dan bandingkanlah keduanya; Anda akan melihat siapa yang menjadi penerjemah di dalam keduanya. Ia telah menambal dan mengubahnya di beberapa tempat. Dan meskipun tidak semuanya menyenangkan saya, namun saya dapat membiarkannya; hal itu tidak membahayakan saya, sejauh menyangkut teksnya. Untuk alasan ini, saya juga tidak pernah berniat untuk menulis menentangnya. Tetapi saya harus menertawakan kebijaksanaan besar yang dengan sangat memfitnah, mengutuk, dan melarang Perjanjian Baru saya, ketika itu diterbitkan di bawah nama saya, tetapi menjadikannya sebagai bacaan wajib ketika diterbitkan di bawah nama orang lain. Kebajikan macam apa itu, menumpuk fitnah dan aib pada buku orang lain, lalu mencurinya dan menerbitkannya di bawah nama sendiri – dengan demikian mencari pujian dan reputasi pribadi melalui karya orang lain yang difitnah – saya serahkan hal itu kepada Hakim untuk menemukannya. Sementara itu, saya puas dan senang bahwa pekerjaan saya (seperti yang juga dibanggakan oleh Paulus [Flp. 1:18]) harus diteruskan bahkan oleh para musuh, dan bahwa buku Luther, tanpa nama Luther tetapi dengan nama para musuhnya, harus dibaca. Bagaimana saya dapat membalaskan dendam saya dengan lebih baik?

Komentar:

· Martin Luther sedang “playing victim” bahwa ketika otoritas Gereja Katolik MENGOREKSI dan menegaskan terjemahan yang benar mengenai Kitab Suci, justru dipandang oleh Martin Luther sebagai tindakan memfitnahnya, mengutuknya, dan melarang terjemahannya. Padahal, Martin Luther harus dikoreksi, terjemahannya pun mesti dilarang, karena Luther telah menambahkan isi Kitab Suci. Ini fatal, karena menyisipkan ajaran heretiknya.

· Di sini, Martin Luther juga membuat pernyataan yang tidak dapat dibenarkan karena ia menganggap Kitab Suci terjemahannya sebagai “Kitab Perjanjian Luther”. Kitab Suci sudah dikanonkan oleh Gereja Katolik melalui Bapa-Bapa Gereja dalam Konsili-Konsili sejak tahun 382, dan Martin Luther dengan gampang mengklaim sebagai “Kitab Perjanjian Luther”!

 

But to return to the matter in hand! If your papist wants to make so much fuss about the word sola (alone) tell him this, “Dr. Martin Luther will have it so, and says that a papist and an ass are the same thing.” Sic volo, sic jubeo; sit pro ratione voluntas. We are not going to be the pupils and disciples of the papists, but their masters and judges. For once, we too are going to be proud and brag with these blockheads; and as St. Paul boasts over against his mad raving saints [II Cor. 11:21f.], so I shall boast over against these asses of mine. Are they doctors? So am I. Are they learned? So am I. Are they preachers? So am I. Are they theologians? So am I. Are they debaters? So am I. Are they philosophers? So am I. Are they dialecticians? So am I. Are they lecturers? So am I. Do they write books? So do I.

Tetapi kembali ke masalah yang sedang dibahas! Jika seorang Paus (Luther memakai kata hinaan “Papist” dan bukan “Pope”) Anda ingin meributkan kata sola (hanya), katakan padanya, “Dr. Martin Luther akan memintanya begitu, dan mengatakan bahwa seorang paus dan keledai (kata ass itu bisa diartikan sebagai keledai, tetapi bisa juga pantat, bodoh, idiot) adalah hal yang sama.Sic volo, sic jubeo; sit pro ratione voluntas. Kita tidak akan menjadi murid dan pengikut para paus (papists), tetapi kita akan menjadi tuan dan hakim mereka. Untuk kali ini, kita juga akan menjadi sombong dan membanggakan diri di hadapan orang-orang dungu (blockheads) ini; dan seperti Santo Paulus yang membanggakan diri dengan ocehan gilanya berhadapan dengan orang-orang kudus [2 Kor. 11:21 dst.], demikian juga saya akan membanggakan diri di hadapan orang-orang idiot ini. Apakah mereka doktor? Saya juga doktor. Apakah mereka terpelajar? Saya juga terpelajar. Apakah mereka pengkhotbah? Saya juga pengkhotbah. Apakah mereka teolog? Saya juga teolog. Apakah mereka ahli debat? Saya juga ahli debat. Apakah mereka filsuf? Begitu juga saya. Apakah mereka ahli dialektika? Begitu juga saya. Apakah mereka dosen? Begitu juga saya. Apakah mereka menulis buku? Saya juga menulis buku.

Komentar:

· Ketika saya membaca kata-kata kasar Martin Luther ini, saya geleng-geleng kepala. Ia merendahkan Paus dengan istilah papist. Bahkan, ia menghina paus dan para pengikut paus sebagai orang dungu (blockheads).

· Tidak berhenti di situ, Martin Luther juga memakai kata “ass” ketika menghina paus dan orang-orang yang bersama paus (misalnya beberapa uskup dan kardinal). Kata ass itu bisa diterjemahkan sebagai keledai, tetapi bisa diartikan sebagai “dungu, tolol, idiot. Bahkan, ass juga bisa diartikan sebagai “pantat” atau anus. Ini sangat kasar.

· Dari pernyataan ini, kita bisa melihat betapa sombongnya Martin Luther. Ia menyamakan dirinya dengan Rasul Paulus. Ia juga memuji dirinya sendiri bahwa ia seorang doktor, terpelajar, pengkhotbah, teolog, ahli debat, filsuf, ahli dialektika, dosen, penulis buku. Martin Luther hendak mengatakan: “saya tahu segalanya”!

· Kalimat “Sic volo, sic jubeo; sit pro ratione voluntas”, dijelaskan dalam buku Martin Luther ini, di dalam catatan kaki no. 21. Terjemahannya, yakni: “Aku menghendakinya, aku memerintahkannya, kehendakku cukup beralasan”. Kalimat itu adalah baris ke-223 dari syair satire keenam yang terkenal dari penyair Romawi, Juvenal (sekitar tahun 60-140 Masehi), yang ditujukan kepada kaum perempuan. Luther menggunakan kutipan tersebut ketika ia ingin mengkarakterisasi kekuasaan paus yang tidak terbatas dan berubah-ubah. Anda bayangkan, Martin Luther sungguh merendahkan Paus seperti “perempuan”. Kita heran sekali dengan karakter Martin Luther ini. Saat itu, Luther itu seorang biarawan Katolik. Dia mengucapkan 3 kaul: ketaatan, kemiskinan dan kemurnian/selibat. Salah satu karakter yang mesti dihidupi oleh biarawan (dan biarawati) adalah kerendahan hati, ramah, hidup miskin, taat, dan juga “menyangkal diri” tidak justru menyombongkan diri.

 

 

I will go further with my boasting. I can expound psalms and prophets; they cannot. I can translate; they cannot. I can read the Holy Scriptures; they cannot. I can pray; they cannot. And, to come down to their level, I can use their own dialectics and philosophy better than all of them put together; and besides I know for sure that none of them understands their Aristotle. If there is a single one among them all who correctly understands one proemium [preface] or chapter in Aristotle, I’ll eat my hat. I am not saying too much, for I have been trained and practiced from my youth up in all their science and am well aware how deep and broad it is. They are very well aware, too, that I can do everything they can. Yet these incurable fellows treat me as though I were a stranger to their field, who had just arrived this morning for the first time and had never before either seen or heard what they teach and know. So brilliantly do they parade about with their science, teaching me what I outgrew twenty years ago, that to all their blatting and shouting I have to sing, with the harlot, “I have known for seven years that horseshoe-nails are iron.”

Saya akan melangkah lebih jauh dengan kesombongan saya. Saya dapat menguraikan mazmur dan kitab para nabi; mereka tidak bisa. Saya dapat menerjemahkan; mereka tidak bisa. Saya bisa membaca Kitab Suci; mereka tidak bisa. Saya bisa berdoa; mereka tidak bisa. Dan, untuk mencapai tingkat mereka, saya dapat menggunakan dialektika dan filosofi mereka sendiri dengan lebih baik daripada mereka semua secara bersama-sama; dan selain itu saya tahu dengan pasti bahwa tidak satupun dari mereka yang memahami Aristoteles mereka. Jika ada satu saja di antara mereka semua yang memahami dengan benar satu proemium [kata pengantar] atau bab dari Aristoteles, saya akan makan topi saya. Saya tidak berkata terlalu banyak, karena saya telah dilatih dan berlatih sejak masa muda saya dalam semua ilmu pengetahuan mereka dan sangat menyadari betapa dalam dan luasnya ilmu pengetahuan itu. Mereka juga sangat menyadari bahwa saya bisa melakukan semua yang mereka bisa. Namun, orang-orang yang tidak dapat disembuhkan ini memperlakukan saya seolah-olah saya adalah orang asing di bidang mereka, yang baru saja tiba pagi ini untuk pertama kalinya dan belum pernah melihat atau mendengar apa yang mereka ajarkan dan ketahui. Begitu cemerlangnya mereka berparade dengan ilmu pengetahuan mereka, mengajari saya apa yang telah saya kuasai dua puluh tahun yang lalu, sehingga untuk semua ngembikkan (blatting; maksudnya: ngembikkan seperti kambing) dan teriakan mereka, saya harus bernyanyi, dengan pelacur, “Saya telah mengetahui selama tujuh tahun bahwa paku tapal kuda adalah besi.”

Let this be the answer to your first question. And please give these asses no other and no further answer to their useless braying about the word sola than simply this, “Luther will have it so, and says that he is a doctor above all the doctors of the whole papacy.” It shall stay at that! Henceforth I shall simply hold them in contempt, and have them held in contempt, so long as they are the kind of people—I should say, asses—that they are. There are shameless nincompoops among them who have never learned their own art of sophistry—like Dr. Schmidt and Doctor Snotty-Nose, and their likes—and who set themselves against me in this matter, which transcends not only sophistry, but (as St. Paul says [I Cor. 1:19- 25]), all the world’s wisdom and understanding as well. Truly an ass need not sing much; he is already well known anyway by his ears.

Biarlah ini menjadi jawaban untuk pertanyaan pertama Anda. Dan tolong berikanlah kepada orang-orang dungu ini jawaban yang tidak lain dan tidak lebih jauh lagi atas ocehan mereka yang tidak berguna tentang kata sola, selain jawaban sederhana ini, “Luther memang menghendaki demikian, dan ia mengatakan bahwa ia adalah seorang doktor di atas semua doktor di dalam kepausan.” Akan tetap seperti itu! Untuk selanjutnya saya hanya akan menganggap mereka hina, dan membuat mereka hina, selama mereka adalah jenis orang – saya harus mengatakan, orang-orang dungu – itulah mereka adanya. Ada orang-orang yang tidak tahu malu di antara mereka yang tidak pernah mempelajari seni sofistri/kecerdikan mereka sendiri – seperti Dr. Schmidt dan Dokter Hidung Ingusan (Doctor Snotty-Nose; ini juga ejekan Luther), dan orang-orang sejenisnya – dan yang menempatkan diri mereka sendiri melawan saya dalam hal ini, yang tidak hanya melampaui seni sofistri, tetapi (seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus [I Korintus 1:19-25]), demikianlah semua hikmat dan pengertian di dunia ini. Sesungguhnya orang dungu tidak perlu banyak bernyanyi; ia sudah dikenal baik oleh telinganya.

Komentar:

· Anda bisa bayangkan betapa “labil”nya Martin Luther. Dia menyombongkan dirinya sendiri. Dari pernyataan Martin Luther ini bisa jadi ia mengidap penyakit psikis “megalomania” karena ia sangat dominan menyombongkan diri, merasa LEBIH hebat, pintar, bisa semuanya daripada yang lain.

· Semoga ke depan semakin banyak yang membongkar dan menampilkan ke publik ajaran-ajaran Martin Luther sehingga semakin BANYAK ORANG tahu kualitas pengajaran Martin Luther yang sangat jelas sebagai ajaran heretik.

 

To you and to our people, however, I shall show why I chose to use the word sola—though in Romans 3 [:28] it was not sola, but solum or tantum that I used, so sharply do the asses look at my text! Nevertheless I have used sola fide elsewhere, and I want both: solum and sola. I have constantly tried, in translating, to produce a pure and clear German, and it has often happened that for two or three or four weeks we have searched and inquired for a single word and sometimes not found it even then. In translating Job, Master Philip, Aurogallus, and I labored so, that sometimes we scarcely handled three lines in four days.

Namun, kepada Anda dan umat kita, saya akan menunjukkan mengapa saya memilih untuk menggunakan kata sola – meskipun dalam Roma 3:28 tidak ada kata sola, tetapi saya tetap menggunakan kata solum atau tantum, kendati begitu tajamnya orang-orang dungu itu melihat teks saya! Namun demikian, saya telah menggunakan sola fide di tempat lain, dan saya menginginkan keduanya: solum dan sola. Dalam menerjemahkan, saya selalu berusaha untuk menghasilkan bahasa Jerman yang murni dan jelas, dan sudah sering terjadi bahwa selama dua atau tiga atau empat minggu kami mencari dan menanyakan satu kata dan kadang-kadang tidak menemukannya. Dalam menerjemahkan kitab Ayub, Tuan Philip, Aurogallus, dan saya bekerja keras, sehingga kadang-kadang kami hampir tidak dapat menyelesaikan tiga baris dalam empat hari.

Now that it is translated and finished, everybody can read and criticize it. One now runs his eyes over three or four pages and does not stumble once—without realizing what boulders and clods had once lain there where he now goes along as over a smoothly-planed board. We had to sweat and toil there before we got those boulders and clods out of the way, so that one could go along so nicely. The plowing goes well when the field is cleared. But rooting out the woods and stumps, and getting the field ready—this is a job nobody wants. There is no such thing as earning the world’s thanks. Even God himself can earn no thanks, with the sun, indeed with heaven and earth, or with his own Son’s death. It simply is and remains world, in the devil’s name, because it just will not be anything else.

Sekarang setelah diterjemahkan dan selesai, semua orang dapat membaca dan mengkritisinya. Orang sekarang membaca tiga atau empat halaman dan tidak tersandung sekali pun – tanpa menyadari batu-batu besar dan gumpalan-gumpalan yang pernah ada di sana, di mana dia sekarang berjalan di atas papan yang telah direncanakan dengan mulus. Kami harus berkeringat dan bekerja keras di sana sebelum menyingkirkan batu-batu besar dan gumpalan itu, agar bisa berjalan dengan baik. Pembajakan berjalan dengan baik ketika lahan sudah bersih. Namun, membabat habis hutan dan tunggul-tunggul, serta menerima ladang yang telah tersedia – ini adalah pekerjaan yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Tidak ada yang namanya mendapatkan ucapan terima kasih dari dunia. Bahkan Allah sendiri tidak bisa mendapatkan ucapan terima kasih, dengan matahari, bahkan dengan langit dan bumi, atau dengan kematian Putra-Nya sendiri. Itu hanyalah dan tetaplah dunia, dalam nama iblis, karena itu tidak akan menjadi sesuatu yang lain.

Komentar:

· Kesalahan fatal Martin Luther adalah “starting point” dalam menerjemahkan Roma 3: 28 itu, yakni “menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Jerman yang menurut Luther terbaik”. Padahal, semestinya “starting point” dalam menerjemahkan Kitab Suci adalah “memahami dengan sungguh maksud yang benar dari isi Kitab Suci itu”. Oleh karena itu, penerjemah Kitab Suci, tidak boleh menambahkan isi Kitab Suci, dan juga tidak memanipulasi maksud dari teks Kitab Suci.

· Jika kita amati, dalam pernyataan di atas, dasar Martin Luther memakai kata “sola fide” tidak didasari pada pemahaman yang benar mengenai isi Kitab Suci. Martin Luther memaksakan ajaran “sola fide”nya, karena ia menolak ikut aturan untuk taat pada aturan Gereja, taat kepada otoritas Gereja. Menurut Luther, aturan-aturan ini sama seperti “hukum Taurat”. Ini salah besar! Otoritas uskup dan paus diajarkan dalam Kitab Suci sebagai suksesi apostolik!

· Martin Luther merasa bahwa melalui terjemahannya, pembaca Kitab Suci tidak tehalang lagi dengan batu-batu besar dan gumpalan-gumpalan tanah (mungkin ini maksudnya adalah keterbatasan memahami Kitab Suci karena masih ditulis dalam Bahasa Latin). Padahal, yang jauh lebih fatal adalah heresi yang disisipkan oleh Martin Luther dalam terjemahannya dengan menambahkan kata “sola”. Ini batu besar yang justru “menghambat” para pembaca memperoleh maksud yang benar dari isi Kitab Suci.

 

Here, in Romans 3 [:28], I knew very well that the word solum is not in the Greek or Latin text; the papists did not have to teach me that. It is a fact that these four letters sola are not there. And these blockheads stare at them like cows at a new gate. At the same time they do not see that it conveys the sense of the text; it belongs there if the translation is to be clear and vigorous. I wanted to speak German, not Latin or Greek, since it was German I had undertaken to speak in the translation. But it is the nature of our German language that in speaking of two things, one of which is affirmed and the other denied, we use the word solum (allein) along with the word nicht [not] or kein [no]. For example, we say, “The farmer brings allein grain and kein money”; “No, really I have now nicht money, but allein grain”; “I have allein eaten and nicht yet drunk”; “Did you allein write it, and nicht read it over?” There are innumerable cases of this kind in daily use.

Di sini, dalam Roma 3 [:28], saya tahu betul bahwa kata solum tidak ada dalam teks Yunani atau Latin; para papists tidak perlu mengajari saya hal itu. Itu adalah fakta bahwa keempat huruf sola tidak ada di sana. Dan orang-orang tolol (blockheads) ini menatap mereka seperti sapi di gerbang baru. Pada saat yang sama mereka tidak melihat bahwa hal itu menyampaikan makna dari teks; kata (sola) tersebut seharusnya ada di sana jika terjemahannya ingin jelas dan kuat. Saya ingin menggunakan bahasa Jerman, bukan bahasa Latin atau Yunani, karena bahasa Jermanlah yang saya gunakan dalam penerjemahan ini. Namun, sudah menjadi sifat bahasa Jerman kita bahwa dalam membicarakan dua hal, yang satu ditegaskan dan yang lain disangkal, kita menggunakan kata solum (allein) bersama dengan kata nicht (tidak) atau kein (bukan). Sebagai contoh, kita berkata, “Petani itu membawa allein (hanya) gandum dan kein (bukan) uang”; “Tidak, sesungguhnya saya sekarang nich (tidak) memiliki uang, tapi allein (hanya) gandum”; “Saya allein (hanya) makan dan nicht (tidak) minum”; “Apakah kamu allein (hanya) menulis ini, dan nicht (tidak) membacanya?” Ada banyak sekali kasus semacam ini dalam penggunaan sehari-hari.

In all these phrases, this is the German usage, even though it is not the Latin or Greek usage. It is the nature of the German language to add the word allein in order that the word nicht or kein may be clearer and more complete. To be sure, I can also say, “The farmer brings grain and kein money,” but the words “kein money” do not sound as full and clear as if I were to say, “The farmer brings allein grain and kein money.” Here the word allein helps the word kein so much that it becomes a complete, clear German expression.

Dalam semua frasa ini, demikianlah cara penggunaan bahasa Jerman, meskipun bukan penggunaan bahasa Latin atau Yunani. Sudah menjadi sifat bahasa Jerman untuk menambahkan kata allein agar kata nicht atau kein menjadi lebih jelas dan lengkap. Tentu saja, saya juga dapat mengatakan, “Petani itu membawa gandum dan kein bukan) uang,” namun kata “kein (bukan) uang” tidak terdengar selengkap dan sejelas jika saya mengatakan, “Petani itu allein (hanya) membawa gandum  dan kein (bukan) uang.” Di sini kata allein sangat membantu kata kein sehingga menjadi ungkapan bahasa Jerman yang lengkap dan jelas.

Komentar:

· Argumen Martin Luther dalam menambahkan kata “sola” dalam Roma 3: 28 didasari pada pendekatan linguistik Jermanik. Dalam analogi linguistik yang dipakai oleh Luther justru Luther semakin tampak kesesatannya dalam memahami Roma 3: 28 itu. Misalnya, analogi “makan-minum”. Luther memberi analogi: Saya allein (hanya) makan dan nicht (tidak) minum”. Pertanyaannya: apakah untuk selama-lamanya seseorang yang makan juga tidak akan minum? Tentu tidak. Orang yang makan, mungkin bisa menahan untuk tidak minum sekali atau dua kali. Tapi, tidak mungkin selamanya. Sama halnya dengan iman dan perbuatan: tidak mungkin iman itu dipisahkan dari perbuatan. Iman mesti disertai dengan perbuatan, atau iman terwujud dalam tindakan, dalam perbuatan nyata.

· Mari kita uji analogi Martin Luther ini: Apakah kamu allein (hanya) menulis ini, dan nicht (tidak) membacanya?”. Apakah ada orang yang tidak akan membaca apa yang ia tulis? Ini mustahil. Analogi ini sangat rapuh jika dipakai untuk memahami Roma 3: 28.

· Anda bayangkan jika masing-masing orang, suku dan negara memakai pendekatan linguistiknya – seperti Luther – dalam menerjemahkan dan menafsirkan isi Kitab Suci, bisa saja isi Kitab Suci diubah-ubah, ditambah-tambahkan. Dan akitbanya: isi Kitab Suci tidak lagi sesuai maksud Kitab Suci, tetapi justru sesuai maksud dari penerjemah. Ini fatal sekali!

· Martin Luther memakai logika yang salah “Iman atau perbuatan”, dan bukan “iman dan perbuatan”. Dari logika Luther ini, maka seolah iman menjadi saingan dari perbuatan, maka perbuatan mesti disangkal. Logika yang salah Luther ini juga diteruskan oleh para pengikutnya hingga kini.

 

Saya tidak menerjemahkan halaman 190-192 karena Martin Luther sudah ganti topik, tidak membahas SOLA FIDE dalam halaman-halaman itu. Saya fokus pada penambahan kata SOLA. Maka berikut, saya mulai lagi pada halaman 193 hingga 195.

Therefore, I will tolerate no papal ass[3] or mule to be my judge or critic, for they have never tried it. He who desires none of my translating may let it alone. If anyone dislikes it or criticizes it without my knowledge and consent, the devil repay him![4] If it is to be criticized, I shall do it myself. If I do not do it, then let them leave my translation in peace. Let each of them make for himself one that suits—what do I care?

Oleh karena itu, saya tidak akan membiarkan keledai atau bagal kepausan menjadi hakim atau pengkritik saya, karena mereka tidak pernah mencobanya. Barangsiapa yang tidak menyukai terjemahan saya, biarlah ia membiarkannya. Jika ada orang yang tidak menyukainya atau mengkritiknya tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya, setan akan membalasnya! Jika harus dikritik, saya akan melakukannya sendiri. Jika saya tidak melakukannya, maka biarkanlah mereka meninggalkan terjemahan saya dengan tenang. Biarlah mereka masing-masing membuat terjemahan yang cocok untuk dirinya sendiri – emang gue peduli?

Komentar:

· Kata ass sangat kasar. Kata itu bisa juga diartikan: pantat/anus, orang bodoh, badut, idiot, bajingan, dungu, tolol; mule bisa berarti: keledai, bagal.

· Martin Luther sungguh seperti oleh yang kesurupan dengan mengatakan bahwa dia bekerja sama dengan setan untuk membalas pengkritiknya (yang adalah Paus). Jelas-jelas, kata-kata Luther ini penuh kebencian!

This I can testify with a good conscience—I gave it my utmost in care and effort, and I never had any ulterior motives. I have neither taken nor sought a single penny for it, nor made one by it. Neither have I sought my own honor by it; God, my Lord, knows this. Rather I have done it as a service to the dear Christians and to the honor of One who sitteth above, who blesses me so much every hour of my life that if I had translated a thousand times as much or as diligently, I should not for a single hour have deserved to live or to have a sound eye. All that I am and have is of his grace and mercy, indeed, of his precious blood and bitter sweat.

Hal ini dapat saya saksikan dengan hati nurani yang baik – saya memberikan yang terbaik dalam perhatian dan upaya saya, dan saya tidak pernah memiliki motif tersembunyi. Saya tidak pernah mengambil atau mencari satu sen pun untuk itu, atau tidak menghasilkan satu sen pun darinya. Saya juga tidak mencari kehormatanku sendiri dengan itu; Allah, Tuhanku, mengetahui hal ini. Sebaliknya, saya telah melakukannya sebagai pelayanan kepada orang-orang Kristen yang terkasih dan untuk menghormati Dia yang duduk di atas, yang memberkati saya begitu banyak setiap jam dalam hidup saya, sehingga jika saya menerjemahkan seribu kali lebih banyak atau lebih tekun, saya tidak akan layak untuk hidup atau memiliki mata yang sehat selama satu jam pun. Semua diriku dan yang yang saya miliki adalah berkat kasih karunia dan kemurahan-Nya, sungguh, dari darah dan keringat-Nya yang berharga.

Therefore, God willing, all of it shall also serve to his honor, joyfully and sincerely. Scribblers and papal asses may blaspheme me, but real Christians—and Christ, their Lord—bless me! And I am more than plentifully repaid, if even a single Christian acknowledges me as an honest workman. I care nothing for the papal asses; they are not worthy of acknowledging my work, and it would grieve me to the bottom of my heart if they blessed me. Their blasphemy is my highest praise and honor. I shall be a doctor anyway, yes even a distinguished doctor; and that name they shall not take from me till the Last Day, this I know for certain.

Oleh karena itu, jika Tuhan menghendaki, semua itu juga akan melayani untuk kehormatan-Nya, dengan sukacita dan tulus. Para juru tulis dan para paus yang dungu boleh saja menghujat saya, tetapi orang-orang Kristen sejati – dan Kristus, Tuhan mereka – memberkati saya! Dan saya akan dibalas dengan berlimpah, jika ada satu orang Kristen saja yang mengakui saya sebagai seorang pekerja yang jujur. Saya tidak peduli dengan kedunguan kepausan; mereka tidak layak untuk mengakui pekerjaan saya, dan akan dari hati yang paling dalam sangat menyedihkan bagi saya jika mereka memberkati saya. Hujatan mereka adalah pujian dan kehormatan tertinggi bagi saya. Saya akan tetap menjadi seorang doktor, ya, bahkan seorang doktor yang terhormat; dan nama itu tidak akan mereka cabut dari saya sampai Hari Akhir, ini saya ketahui dengan pasti.

Komentar:

· Di sini, Luther tidak konsisten. Dia mengatakan bahwa dia tidak mencari kehormatan atas dirinya dari usahanya menerjemahkan Kitab Suci. Tapi, dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya, Luther justru menyombongkan diri bahwa hanya dia yang paling bisa menerjemahkan Kitab Suci dibanding Paus dan orang-orang Katolik. Bahkan, Luther menyombongkan diri: saya seorang doktor, terpelajar, filsuf, teolog, dll.

· Luther mengakui bahwa ia dengan sengaja menambhkan kata sola dalam Roma 3: 28. Apakah Luther pada saat itu BELUM membaca Amsal 30:6: “Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta”. Dan Kitab Wahyu 22: 18: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.”

On the other hand I have not just gone ahead anyway and disregarded altogether the exact wording of the original. Rather with my helpers I have been very careful to see that where everything turns on a single passage, I have kept to the original quite literally and have not lightly departed from it. For example, in John 6 [:27] Christ says, “Him has God the Father sealed [versie- gelt].” It would have been better German to say, “Him has God the Father signified [gezeichent],” or, “He it is whom God the Father means [meinet].” But I preferred to do violence to the German language rather than to depart from the word. Ah, translating is not every man’s skill as the mad saints imagine. It requires a right, devout, honest, sincere, God-fearing, Christian, trained, informed, and experienced heart. Therefore I hold that no false Christian or factious spirit can be a decent translator. That becomes obvious in the translation of the Prophets made at Worms. It has been care- fully done and approaches my German very closely. But Jews had a hand in it, and they do not show much reverence for Christ. Apart from that there is plenty of skill and craftsmanship there. So much for translating and the nature of the languages!

Di sisi lain, saya juga tidak begitu saja meneruskan atau mengabaikan kata-kata yang tepat dari aslinya. Sebaliknya, dengan para pembantu saya, saya telah sangat berhati-hati untuk melihat bahwa di mana segala sesuatu berubah pada satu perikop, saya tetap berpegang teguh pada kata aslinya secara harfiah dan tidak dengan mudah meninggalkannya. Sebagai contoh, dalam Yohanes 6 [:27] Kristus berkata, “Dia telah dimeteraikan oleh Allah Bapa [versie- gelt].” Akan lebih baik jika dalam bahasa Jerman dikatakan, “Dia yang telah Allah Bapa tandai [gezeichent],” atau, “Dialah yang Allah Bapa maksudkan [meinet].” Tetapi saya lebih suka melakukan penegasan terhadap bahasa Jerman daripada menyimpang dari kata-katanya. Ah, menerjemahkan bukanlah keahlian setiap orang seperti yang dibayangkan oleh orang-orang kudus yang gila (mad saints). Hal ini membutuhkan hati yang benar, taat, jujur, tulus, takut akan Tuhan, Kristen, terlatih, berpengetahuan, dan berpengalaman. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa tidak ada orang Kristen palsu atau roh palsu yang dapat menjadi penerjemah yang baik. Hal ini terlihat jelas dalam terjemahan Kitab Para Nabi yang dibuat di Worms. Terjemahan ini dikerjakan dengan penuh perhatian dan sangat mendekati bahasa Jerman saya. Namun orang-orang Yahudi memiliki andil di dalamnya, dan mereka tidak menunjukkan rasa hormat yang besar kepada Kristus. Selain itu, ada banyak keahlian dan keterampilan di sana. Begitu banyak hal yang dapat diterjemahkan dan sifat dari bahasa-bahasa tersebut!

Komentar:

· Salah satu ciri khas kaum heretik adalah MEMILIH-MILIH yang ia suka dan membuang yang tidak ia sukai. Martin Luther melakukan ini, dan dia akui sendiri. Dalam Roma 3: 28, agar sesuai dengan cara berpikirnya, maka ia tambahkan kata SOLA. Tetapi, jika dalam ayat lain, tidak mengganggu ajarannya, maka ia tetap mempertahankan maksud asli dari ayat Kitab Suci tersebut!

Now I was not relying on and following the nature of the languages alone, however, when, in Roman 3 [:28] I inserted the word solum (alone). Actually the text itself and the meaning of St. Paul urgently require and demand it. For in that very passage he is dealing with the main point of Christian doctrine, namely, that we are justified by faith in Christ without any works of the law. And Paul cuts away all works so completely, as even to say that the works of the law—though it is God’s law and word—do not help us for justification [Rom. 3:20]. He cites Abraham as an example and says that he was justified so entirely without works that even the highest work—which, moreover, had been newly commanded by God, over and above all other works and ordinances, namely circumcision—did not help him for justification; rather he was justified without circumcision and without any works, by faith, as he says in chapter 4[:2], “If Abraham was justified by works, he may boast, but not before God.” But when all works are so completely cut away—and that must mean that faith alone justifies—-whoever would speak plainly and clearly about this cutting away of works will have to say, “Faith alone justifies us, and not works.” The matter itself, as well as the nature of the language, demands it.

Namun sekarang, saya tidak hanya mengandalkan dan mengikuti sifat bahasa saja, ketika, dalam Roma 3 [:28] saya memasukkan kata solum (hanya/satu-satunya). Sebenarnya teks itu sendiri dan makna dari Santo Paulus sangat membutuhkan dan menuntutnya. Karena dalam perikop tersebut, ia (Rasul Paulus) sedang membahas poin utama dari doktrin Kristen, yaitu bahwa kita dibenarkan oleh iman di dalam Kristus tanpa melakukan hukum Taurat. Dan Paulus meniadakan semua perbuatan dengan sangat tegas, bahkan sampai mengatakan bahwa perbuatan hukum Taurat – meskipun itu adalah hukum Allah dan firman Allah – tidak menolong kita untuk justifikasi [Rm. 3:20]. Ia mengutip Abraham sebagai contoh dan mengatakan bahwa ia dibenarkan sepenuhnya tanpa perbuatan sehingga bahkan perbuatan yang paling tinggi sekalipun – yang baru saja diperintahkan oleh Allah, di atas segala perbuatan dan ketetapan lainnya, yaitu sunat – tidak menolongnya untuk dibenarkan; sebaliknya, ia dibenarkan tanpa sunat dan tanpa perbuatan apa pun, yaitu melalui iman, seperti yang dikatakannya dalam pasal 4[:2] dari Kitab Roma, “Jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, maka ia bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” Tetapi ketika semua perbuatan ditiadakan sama sekali – dan ini berarti hanya iman yang membenarkan – maka siapa pun yang berbicara dengan gamblang dan jelas tentang peniadaan perbuatan ini harus berkata, “Hanya iman yang membenarkan kita, dan bukan perbuatan.” Masalahnya sendiri, dan juga sifat bahasanya, menuntut demikian.

Komentar:

· Dalam ilmu filsafat ada teori falsifikasi (bisa dibaca dalam teori Filsuf Karl R. Popper). Maksud sederhananya adalah ‘suatu hipotesis atau ide/argumen akan dinyatakan benar jika ia tahan terhadap semua fakta, bukti dan kritik  yang melawannya; dan dinyatakan salah jika ada fakta lain yang menyangkalnya atau menyatakan sebaliknya (falsifikasi)’. Argumen Luther meniadakan PERBUATAN dan HANYA IMAN SAJA, tidak tahan pada falsifikasi. Mengapa? Sebab, Yakobus 2: 17; 21-26 justru menyatakan dengan sangat jelas bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.  “..Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati […] Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. ” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.

· Martin Luther sebagai Pastor Katolik” saat itu, tentu sudah belajar filsafat. Maka, ia semestinya tidak membiarkan dirinya terperangkap dalam kedangkalan pemahaman ketika menerjemahkan Roma 3: 28 tersebut.

· Suatu ajaran dapat disebut heretik jika ajaran itu mempertentangkan isi Kitab Suci. Martin Luther dengan menambahkan kata “sola” dalam Roma 3: 28, maka ia telah mempertentangkannya dengan Yakobus bab 2!

Saya cukupkan sampai di sini. Anda bisa membaca lanjutan dari tulisan Martin Luther itu sampai halaman 202.

[1] Dalam terjemahan selanutnya, saya tetap menggunakan kata “Papists”. Istilah Papists yang sering digunakan oleh Martin Luther adalah ejekannya kepada umat Katolik pada saat itu, yang ia sebut “Katolik Roma”. Martin Luther mengklaim bahwa umat Katolik adalah para pengikut Paus. Dengan kata lain, Martin Luther menyatakan diri sebagai orang yang “tidak taat kepada Paus”. Dan dengan begitu, Martin Luther juga menyatakan dirinya bukan sebagai Katolik!

[2] Kata hee-haws itu bisa berarti teriakan keras dari keledai atau bagal. Jadi, Martin Luther itu menghina atau melakukan ad hominem kepada Paus dan umat Katolik, yang juga ia hina sebagai Papists.

[3] Kata ass sangat kasar. Kata itu bisa diartikan: pantat, orang bodoh, badut, idiot, bajingan, dungu, tolol; mule bisa berarti: keledai, bagal.

[4] Dia bekerja sama dengan setan

Sumber Materi: Pastor Postinus Gulö, OSC

Apakah Maria “Co-Redemptrix”? Dogma Berikutnya? Gelar yang Saleh? Bid’ah atau Penistaan?

0
a statue of a person holding a cross in front of a building

 

Atas permintaan yang sangat banyak, saya menulis artikel ini tentang gelar kontroversial Maria, “co-redemptrix”. Saya menyebutnya kontroversial karena jika disalahpahami, paling banter itu adalah bidah, dan paling buruk adalah penghujatan. Sebagai penyangkalan awal, Gereja tidak “secara resmi” menyatakan apakah Maria adalah “co-redemptrix” atau bukan, setidaknya tidak dengan cara yang sama seperti Gereja menyatakan bahwa ia adalah “Advokat, Auxiliatrix, Adjutrix, dan Mediatrix.”

Pada tanggal 4 November, Dikasteri untuk Ajaran Iman akan merilis sebuah dokumen tentang peran Maria dalam keselamatan. Semoga dokumen ini akan memberikan pencerahan yang sangat dibutuhkan mengenai posisi Gereja saat ini dalam perdebatan “co-redemptrix”. Sampai saat itu tiba, kita harus menyelidiki bersama sumber-sumber ajaran ini, pernyataan Magisterium mengenainya, dan keakuratan teologis gelar tersebut. Terakhir, kita akan berdebat apakah gelar ini menambahkan sesuatu, secara teologis, pada pemahaman Gereja tentang Wahyu.

Apa artinya Menebus?

Penebusan adalah tindakan, tepatnya, di mana manusia diperdamaikan dengan Allah, dipulihkan kepada keadaan kesempurnaan yang asli bagi umat manusia. Seluruh sejarah keselamatan hanyalah perwujudan rencana Allah untuk penebusan manusia. Dengan pengetahuan tentang penebusan korban darah Perjanjian Lama yang tidak memuaskan, orang-orang Yahudi dengan cemas menantikan Mesias yang akan benar-benar membebaskan mereka.

Jadi, dalam rencana keselamatan, Allah mengutus Putra tunggal-Nya, yang menjadi manusia, menderita, mati, dan bangkit kembali untuk penebusan terakhir manusia. Nah, dalam tatanan sejarah, umat manusia ditebus melalui darah Yesus Kristus yang berharga yang tercurah di kayu Salib. Penebusan kita dimenangkan oleh Kristus, tetapi itu bukanlah pemberian, itu membutuhkan penerimaan sukarela dari pihak umat manusia untuk bertobat, percaya kepada Injil, dan dibaptis dengan air.

Dalam pengertian ini, dan dalam pengertian metafisik, penebusan dimenangkan oleh satu-satunya kebajikan Yesus Kristus, titik; “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12). Natur manusia yang tak tertebus pasca-kejatuhan bukanlah natur yang dapat dibalikkan, kecuali oleh Allah sendiri. Allah sendirilah yang harus menebus manusia. Umat manusia tidak mampu menebus diri sendiri. Lalu, bagaimana mungkin seorang ciptaan, Maria, dikatakan sebagai agen dalam rencana penebusan? Bagaimana ia bisa menjadi “penebus bersama” dengan Kristus? Itulah pertanyaan teologis yang sedang dibahas. Apakah akurat secara teologis untuk mengatakan bahwa Maria adalah “penebus bersama” dalam karya keselamatan? Bukankah Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa hanya ada satu Juruselamat, Yesus Kristus? Lalu, bagaimana mungkin orang lain menjadi “penebus bersama” dengan-Nya?

Apa yang Tersirat dan Tidak Tersirat dalam Gelar “Co-Redemptrix”?

Gelar “co-redemptrix”, pertama kali digunakan sekitar abad ke-10, dan dipopulerkan pada abad terakhir, khususnya pada masa kepausan Paus St. Yohanes Paulus II, berarti bahwa dalam rencana keselamatan, Maria, bersama Putranya, adalah seorang penolong, atau asisten dalam penebusan manusia. Ini berarti bahwa Yesus dibantu dalam karya penebusan-Nya oleh Bunda-Nya. Jika Maria adalah “co-redemptrix”, itu berarti, atau lebih tepatnya, bukan berarti bahwa ia dengan cara tertentu mengambil alih peran Kristus sebagai satu-satunya penebus. Dengan cara apa pun ia membantu dalam karya penebusan, itu tidak menyiratkan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya penebus.

Sebagai contoh, saya merujuk pada ensiklik Paus Pius X, Ad diem illum. Ensiklik ini, pada peringatan lima puluh tahun dogma Dikandung Tanpa Noda, memuat sebuah bagian di mana Paus membahas gelar Maria sebagai Perantara. Penjelasannya tentang gelar ini, saya yakin, membantu mengilustrasikan usulan gelar co-redemptrix. Beliau menyatakan bahwa dengan Perantara, Gereja tidak menghilangkan “pemberian tunggal atas harta-harta ini (rahmat)” yang merupakan buah tunggal dari karya Kristus di kayu Salib, Dia yang adalah satu-satunya perantara antara Allah dan manusia. Selanjutnya, Paus menyatakan bahwa “dengan persahabatan dalam duka dan penderitaan yang telah disebutkan antara Bunda Maria dan Putra, Perawan yang agung telah diijinkan untuk menjadi ‘perantara dan pembela paling berkuasa bagi seluruh dunia di hadapan Putra tunggalnya.'” Lebih lanjut, beliau menyatakan, mengutip Santo Bernardus dari Clairvaux, bahwa meskipun Maria bukanlah sumber rahmat, ia adalah “saluran air”. Akhirnya, jika Anda mengizinkan saya mengutip lebih lanjut, Paus Pius X menyimpulkan demikian:

Maka, akan terlihat, kita sangat jauh dari menganggap Bunda Allah memiliki daya rahmat yang produktif—daya yang hanya milik Allah. Namun, karena Maria menanggung semuanya dalam kekudusan dan persatuan dengan Kristus dan telah dipersatukan oleh Kristus dalam karya penebusan, ia berjasa bagi kita secara de congruo (dengan cara yang kongruen), dalam bahasa para teolog, apa yang Kristus berikan bagi kita secara de condigno (dengan cara yang bermartabat), dan ia adalah pelayan tertinggi dalam penyaluran rahmat.

Sekarang kita memiliki apa yang saya yakini sebagai kualifikasi yang sangat membantu dalam pembahasan judul; yaitu, apakah yang kita kaitkan dengan Maria bersifat aktif atau pasif—apakah Maria adalah miliknya berdasarkan kodratnya, atau berdasarkan persekutuannya dengan Putranya. Dengan kata lain, apa yang Maria lakukan selaras dengan apa yang Kristus lakukan berdasarkan siapa Dia. Ia memainkan peran yang berbeda dalam rencana itu, tetapi rencana itu tidak berasal darinya, juga tidak datang darinya secara aktif, seolah-olah kita keliru mengklaim bahwa ia menciptakannya.

Jika hal itu berlaku untuk perdebatan Mediatrix, saya percaya klarifikasi tersebut sangat membantu dalam perdebatan co-redemptrix.

Maka, kita dapat mengatakan bahwa Maria adalah rekan penebus karena ia secara unik, dan dengan cara yang hanya pantas baginya, secara aktif bekerja sama dengan rencana penebusan Allah, yang melibatkan fiat-nya yang unik. Fiat itu, dan fiat itu sendirilah yang memungkinkan satu-satunya perantara, Kristus, menjadi manusia, dan, bersama ibu-Nya, menebus umat manusia. Jadi, kita melihat Maria pada Pesta Pernikahan di Kana sebagai orang yang bekerja sama dengan putranya dalam mukjizat tersebut. Ia tidak melakukan mukjizat itu, hanya Kristus yang dapat melakukannya, tetapi keterlibatannya penting ketika ia berkata kepada para pelayan, “Apa pun yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:5). Gelar rekan penebus, menurut saya, hanyalah seruan saleh dan pengakuan akan peran unik yang dimainkan Bunda Maria dalam perjalanan sejarah keselamatan. Hanya peran-Nya yang unik di antara umat manusia. Perannya adalah peran tunggal yang memungkinkan Putra Allah mengambil rupa manusia dan mengerjakan penebusan umat manusia. Karya penebusan yang aktif, Sengsara dan Kebangkitan, adalah milik Kristus sendiri; Ia menanggung penderitaan-Nya bersama-Nya, tetapi Dia dan hanya Dia sendiri yang menanggung dosa umat manusia dan menebusnya dengan darah-Nya sendiri. Jika pantas untuk mengatakan Maria adalah “rekan penebus”, menurut saya, hal itu hanya dalam cara di mana jawaban “ya”-nya yang aktif menghasilkan kerja samanya dalam karya penebusan yang dimenangkan Kristus bagi umat manusia.

Dengan kualifikasi tersebut, dan dengan nuansa teologis yang diperlukan, saya tidak melihat alasan teologis mengapa gelar rekan penebus tidak dapat diberikan kepada Maria. Di samping gelar-gelarnya yang lain sebagai “Pendukung, Pembantu, Adjutrix, dan Mediatrix”, rekan penebus tampaknya juga tepat.

Kesesuaian teologis dari gelar tersebut adalah satu hal, perlunya mewartakan gelar tersebut adalah hal lain—yang akan saya uraikan di bawah ini.

Bukti dari Tradisi dan Ajaran Kepausan

Sebelum membahas kesesuaian atau ketidaksesuaian gelar tersebut, ada baiknya kita meninjau sekilas tempat tradisional dan magisterial gelar dan teologi ini dalam Gereja.

Pada abad kedua, Santo Irenaeus dari Lyon, dalam karyanya Melawan Ajaran Sesat, menyatakan bahwa Maria, “dengan taat, menjadi penyebab keselamatan, baik bagi dirinya sendiri maupun seluruh umat manusia.”6 Jadi, menurut Irenaeus, ketaatan Maria kepada kehendak Allah memungkinkannya menjadi penyebab keselamatan.

Paus Pius XII dalam ensikliknya, Sempiternus Rex, menyatakan bahwa Maria adalah “rekan mulia Sang Penebus Ilahi”. Demikian pula, dalam ensikliknya, Ad caeli Reginam, Pius XII menyatakan bahwa Maria memiliki “peran luar biasa dalam karya keselamatan kekal kita” dan mengutip Francisco Suarez, S.J., Paus menyatakan bahwa dengan cara yang unik, Maria “membantu dalam penebusan kita” dengan memberikan substansinya dalam karya itu. Lebih lanjut, dengan cara yang analogis, Maria, sebagai rekan Putranya, memiliki andil dalam “martabat kerajaan”-Nya. Akhirnya, dalam ensiklik Paus Pius XII, Haurietis aquas, beliau menyatakan bahwa “atas kehendak Allah, dalam melaksanakan karya penebusan manusia, Perawan Maria yang Terberkati terhubung tak terpisahkan dengan Kristus sedemikian rupa sehingga keselamatan kita berasal dari kasih dan penderitaan Yesus Kristus, yang dengannya kasih dan penderitaan Bunda-Nya bersatu erat.” Bagi Paus Pius, kerja sama Maria dengan Putranya bukan sekadar peristiwa yang terjadi, tetapi secara harfiah, merupakan bagian integral dari rencana keselamatan; sedemikian rupa sehingga kerja sama itu, hubungan dengan Putranya itu menyebabkan mereka “terhubung tak terpisahkan.”

Paus Leo XIII, dalam ensikliknya, Octobri mense, menyatakan bahwa Kristus tidak mempersatukan diri-Nya dengan umat manusia “tanpa menambahkan persetujuan bebas dari Bunda Maria yang terpilih, yang bertindak dalam beberapa cara sesuai peran umat manusia itu sendiri.” Di sini, Paus Leo XIII dengan sangat jelas melanjutkan gagasan teologis pendahulunya, Pius X, dengan menyatakan bahwa Maria memang berperan dalam keselamatan melalui perintahnya kepada Malaikat Agung Gabriel.

Paus St. Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum tanggal 1 Oktober 1997, menyatakan bahwa “gelar ‘Bunda dalam tata rahmat’ menjelaskan bahwa Perawan Maria yang Terberkati bekerja sama dengan Kristus dalam kelahiran kembali rohani umat manusia.” Lebih lanjut, beliau berbicara tentang peran unik Maria dalam penebusan manusia dalam Audiensi hari Rabu tanggal 25 Oktober 1995. Dalam Audiensi ini, Paus St. Yohanes Paulus II menelusuri Tradisi dan menelusuri peran unik Maria dalam keselamatan melalui St. Irenaues, banyak penulis dan Orang Suci Abad Pertengahan, seperti St. Bernardus, Arnaldo de Chartres, seorang biarawan Bizantium—Yohanes Geometra—, St. Anselmus, Guerrico d’Igny, dan teks abad ke-13, Mariale. Melalui semua contoh ini, Yohanes Paulus menyoroti perkembangan teologis Keibuan Maria dan kerja samanya dengan Putranya dalam karya penebusan-Nya. Menurut Paus yang kudus, sumber-sumber ini berfungsi untuk mengembangkan “doktrin kerja sama khusus Maria dalam kurban penebusan.”

Cukuplah untuk mengatakan bahwa Yohanes Paulus II sangat menganjurkan perkembangan teologis ini dan menemukan dalam Tradisi bukti permulaannya, baik dalam Kitab Suci maupun dalam tradisi teologis dan saleh Gereja.

Apa yang Ditambahkan “Co-Redemptrix”?

Setelah saya pikir kita telah cukup menjelaskan kesesuaian dan kebenaran teologis dari gelar ini, kini muncul pertanyaan tentang bagaimana gelar ini menambah pemahaman kita tentang Kitab Wahyu secara umum dan Kristologi secara khusus. Pertanyaan kedua adalah apakah gelar ini akan atau seharusnya didefinisikan secara khidmat sebagai dogma.

Setiap elemen Mariologi, seperti Theotokos, Dikandung Tanpa Noda, Kenaikan Maria, dan gelar-gelar lain yang disebutkan di atas, menambah kedalaman wawasan teologis tentang misteri Kristus dan Kitab Wahyu. Lalu, apa yang ditambahkan “co-redemptrix”? Atau, apakah itu hanya mengaburkan?

Poin pertama dalam diskusi ini adalah pertanyaan umum: Bukankah segala sesuatu yang benar, baik, dan indah berbicara tentang Kristus? Dengan kata lain, apakah kita memiliki kewajiban untuk mengatakan apa yang benar? Saya akan menjawab ya. Misalnya, Dikandung Tanpa Noda adalah pengakuan bahwa oleh rahmat preeimanet, Perawan Maria dikandung tanpa Dosa Asal sehingga menjadi wadah tak bernoda dari Putra Allah dalam Inkarnasi-Nya. Dogma ini berbicara tentang Maria dan Kristus. Dogma ini benar karena itulah yang dilakukan Allah. Kebenarannya menerangi Kristus dan Maria. Gelar rekan penebus, jika memang benar, juga harus menerangi karya keselamatan Kristus.

Jika kita memahami dengan benar peran Maria dalam keselamatan, ia adalah rekan kerja yang intim dengan Putranya dalam karya penebusan-Nya yang tunggal, bahwa atas perintahnya, Putra Allah menjadi manusia dan dengan bebas mengizinkan ibu-Nya untuk menjadi rekan intim dalam rencana keselamatan-Nya; dengan menanggung hal-hal itu di dalam hatinya, dengan menanggung, di dalam hatinya, penderitaan batin yang dialami Putranya dalam daging-Nya, ia, di atas segalanya, secara tunggal bekerja sama dalam rencana keselamatan. Sebagaimana diutarakan di atas, hal ini tampaknya hanya menunjukkan bahwa memang benar ia adalah instrumen pasif (seperti dalam rekan atau orang yang membantu agen aktif dalam Keselamatan kita) dalam rencana keselamatan. Gelar yang diusulkannya sebagai “co-redemptrix” mengungkapkan sesuatu tentang dirinya—penyerahannya yang tanpa syarat kepada kehendak Allah—dan sesuatu tentang Kristus—hubungan bebas-Nya dengan ibu-Nya dan penerimaan-Nya yang murah hati atas perannya dalam misi-Nya. Bagi saya, gelar ini menekankan bahwa Allah benar-benar menuntut jawaban “ya” dari Maria; bahwa tindakan itu bukanlah kedok; bahwa Surga benar-benar menunggu dengan napas tertahan akan ketetapannya. Ketetapan itu adalah wahyu Allah bahwa meskipun Ia dapat menyelamatkan umat manusia tanpa bantuan, dengan kehendak-Nya yang penuh kasih karunia, Ia memilih Perawan Maria yang Terberkati sebagai makhluk yang kepadanya akan melepaskan simpul ketidaktaatan Hawa dan menghancurkan, sekali untuk selamanya, kepala ular itu.

Dogma Berikutnya?

Jika secara teologis benar, haruskah ia didefinisikan secara khidmat sebagai dogma Maria berikutnya? Sederhananya, saya tidak tahu. Namun, jika saya boleh menebak, saya akan mengatakan bahwa tidak perlu menyatakan ini sebagai dogma Gereja. Ada banyak pernyataan yang secara teologis benar tetapi tidak didefinisikan secara khidmat. Definisi khidmat adalah sesuatu yang luar biasa. Saya tidak berpikir gelar ini diperlukan bagi iman, sama seperti Dikandung Tanpa Noda dan Kenaikan Maria. Sesuatu bisa akurat secara teologis namun tidak diperlukan bagi keselamatan—yang merupakan implikasi langsung dari dogma yang terdefinisi. Dengan demikian, menurut saya seseorang tidak dapat menyangkal peran Maria dalam keselamatan, sebagai rekan dekat dan rekan kerja yang intim dalam karya Penebusan. Namun, hal itu tidak serta merta menyiratkan bahwa peran tersebut harus didefinisikan secara khidmat.

Jadi tidak, saya tidak berpikir hal itu perlu didefinisikan dan saya tidak memperkirakan hal itu akan benar-benar didefinisikan. Namun, saya rasa hal ini perlu dijelaskan lebih mendalam dan saya rasa hal ini bermanfaat secara teologis untuk memahami keselamatan.

Diterjemahkan dari https://indefenseoftheology.substack.com/p/is-mary-co-redemptrix-the-next-dogma

Referensi

  • Second Vatican Council, “Dogmatic Constitution on the Church, Lumen Gentium, 21 November, 1964,” in The Word on Fire Vatican II Collection: Constitutions, ed. by Matthew Levering (Park Ridge, IL: Word on Fire Institute, 2021), 62.
  • Pius X. Encyclical, Ad diem illum. DS 3370.
  • Irenaeus of Lyon, Against Heresies 3, 22. https://www.newadvent.org/fathers/0103322.htm.
  • Pius XII. Encyclical, Sempiternus Rex, DS 3902.
  • Pius XII. Encyclical, Ad caeli Reginam, DS 3914.
  • Ad caeli Reginam, DS 3914.
  • Ad caeli Reginam, DS 3916.
  • Pius XII, Encyclical, Haurietis aquas,DS 3926
  • Leo XIII, Encyclical, Octobri mense, DS 3272.
  • John Paul II, General Audience, 1 October 1997. https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/audiences/1997/documents/hf_jp-ii_aud_01101997.html
  • John Paul II, General Audience, 25 October 1995. https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/es/audiences/1995/documents/hf_jp-ii_aud_19951025.html. (Unofficial English Translation).

 

 

Mengkritisi Ajaran Saksi Yehuwa: Malaikat Michael Bukan Yesus

0
woman in dress statue during daytime

Apakah benar ajaran Saksi-Saksi Yehuwa yang percaya bahwa malaikat Michael dan Yesus adalah oknum yang sama?

Saksi-saksi Yehuwa tentu berkata: ya. Saksi-Saksi Yehuwa mempertahankan bahwa Yesus adalah malaikat Michael sebelum kedatangannya di Bumi: menurut mereka “Bukti Alkitab menunjukkan bahwa nama Michael disebut Anak Allah sebelum ia meninggalkan surga untuk menjadi Yesus Kristus dan juga setelah kembali” ( Bantuan untuk Memahami Alkitab , Menara Pengawal Bible & Tract Society, 1971, 1152).

Saksi-Saksi Yehuwa mengajarkan kepercayaan yang keliru melalui tafsir dari dua ayat Alkitab:Daniel 10:13, 21, di mana dalam ayat itu disebutkan bahwa Michael sebagai “pemimpin besar,” dan I Tesalonika 4:16, di mana Tuhan Yesus digambarkan sebagai turun dari surga diiringi suara malaikat ini.

The Jehovah Weaknes sendiri dalam Alkitab Edisi Terjemahan Dunia Baru (Alkitab ala SSY), menerjemahkan sebagai berikut: “Tuan sendiri akan turun dari surga dengan seruan yang kuat, dengan suara penghulu malaikat.”

Menurut JWs, Michael adalah satu-satunya malaikat selain Gabriel yang disebutkan dalam Alkitab. (Malaikat Raphael disebutkan dalam kitab Tobit, tetapi karena Saksi-Saksi Yehuwa muncul dari Protestan, mereka menggunakan Alkitab versi Protestan, yang kitabnya dihilang tahun 1827 pada edisi terbitan penerbit Inggris)

Karena Tuhan Yesus turun dari surga “dengan suara penghulu malaikat ini,” Menurut JWs bagian ini sebagai “menunjukkan bahwa Yesus, sebagai penghulu malaikat. ( Bantuan untuk Memahami Alkitab , 1152).

Sementara ada beberapa masalah penalaran dalam baris ini, ada dua titik yang menunjukkan dengan mudah mengungkapkan kesalahan penafsiran saksi-saksi Yehuwa.

Pertama, fakta bahwa Tuhan Yesus turun “dengan suara penghulu malaikat” tidak berarti bahwa itu adalah suara Yesus sendiri yang dibicarakan. Bagian ini hanya mengatakan bahwa suara seorang malaikat akan menemani turunnya Tuhan dari surga. Seumpama suara jurusita ketika hakim masuk ke dalam ruangan.( dengan reflek “Semua berdiri!). Maka suara itu adalah bukan suara hakim (analogi sederhana)

Kedua, Ibrani 1: 5 mengatakan, ” sebagai contoh, kepada siapakah dari antara para malaikat Ia pernah mengatakan:” Engkaulah Putraku; Aku, Aku, hari ini, Aku telah menjadi Bapakmu”? (Terjemahan Dunia Baru Alkitab ala SSY). Jawaban untuk pertanyaan itu adalah, tentu saja, “tidak ada.” Tidak ada malaikat yang Allah katakan sebagai Putra/Anak, maka Yesus bukan malaikat Michael. Dengan demikian, jika Tuhan tidak pernah menyebut malaikat sebagai Anak-Nya, maka Michael – yang adalah seorang malaikat – tidak bisa menjadi Anak (tidak sama dengan Yesus). Fakta bahwa Michael adalah malaikat tidak mengubah apa pun, karena ia masih seorang malaikat. Seorang malaikat tetaplah seorang malaikat, walaupun Ia mempunyai tatanan sebagai penghulu malaikat, – berarti hanya “penguasa” dalam situasi dan konteksnya sebagai malaikat/penghulu malaikat.”

Diterjemahkan dari https://www.catholic.com/magazine/online-edition/a-jehovahs-witness-identity-crisis

Blessed One: Dia yang Terlupakan

0

Nancy J. Duff dalam buku Blessed One-Terberkatilah Engkau-Perspektif Gereja Protestan tentang Maria berkata: “…umat Protestan praktis selama ini telah mengabaikan diri Maria. Umat Protestan selalu mengulang peneguhan iman mereka bahwa Yesus “dilahirkan oleh anak dara Maria”, kadang juga menyanyikan Ave Maria pada upacara perkawinan dan secara berkala mengakui Maria pada hari raya Natal, namun mereka jarang menganggap penting sosok Maria untuk maksud kontemplasi di dalam puji-pujian maupun pembentukan kerohanian. Umat Protestan selama ini banyak mencurahkan perhatian mereka terhadap kontroversi atas doktrin mengenai kelahiran Yesus dari seorang Perawan, tetapi jarang menyebut Perawan itu (Maria) di dalam khotbah, madah maupun doa.

Bunda Maria adalah figur yang selalu ditampilkan ketika perayaan natal tiba. Ada suatu keanehan jika denominasi Kristen tertentu mengabaikan siapa yang melahirkan Sang Juruselamat. Bayangkan jika ibu anda tidak diakui oleh orang yang anda cintai, apa yang anda lakukan? Tentu saja anda merasa kecewa. Terlepas dari ketuhanan Yesus, ia juga manusia yang pernah hidup dan diasuh orang tuanya (bdk. Luk. 2:51). Melupakan historis bahwa Maria sungguh-sungguh melahirkan Yesus di Betlehem membawa dampak buruk. Salah satu dampak buruk adalah menuduh umat Katolik menyembah Maria.

Apakah tuduhan mereka benar? Tidak! Lalu mengapa Maria begitu popular dalam iman Katolik? Adakah dasar Alkitabnya? Ya, ada! Iman Katolik bukanlah iman yang buta akan Alkitab. Namun dalam iman Katolik ada 2 pilar yakni Alkitab dan Tradisi Suci Para Rasul serta Magisterium sebagai penopang dan penjaga ajaran. Mengapa Maria Bunda Yesus sangat dihormati dan dikagumi oleh umat Katolik? Artikel ini akan membahas dari perspektif Alkitab dan sudut pandang beberapa teolog Protestan, bagaimana Maria mempunyai peran besar dalam karya keselamatan.

Joel B. Green dalam buku Blessed One-Terberkatilah Engkau-Perspektif Gereja Protestan tentang Maria mengutip Thomas D’Sa: “Maria dengan demikian menyatakan dirinya sebagai tokoh kontra yang melawan kultur yang didominasi oleh kaum pria dan dengan demikian menjalani hidupnya dengan berpatokan pada berbagai pola dan irama yang berasal pada karya penyelamatan Allah”. Telah kita ketahui bersama bahwa manusia pertama yang jatuh dalam dosa adalah Hawa (Kej. 3:6-7). Maria membuka harapan baru dan mengangkat derajat kaum Hawa yang telah jatuh karena dosa. Keturunan Hawa, yakni Maria. Maria inilah yang akan melahirkan Yesus yang akan meremukkan kepala Iblis (Kej. 3:15). Maria meremukkan iblis karena ketaatannya pada rencana Allah, demikian pula Yesus meremukkan iblis karena ketaatan-Nya pada Bapa. Maria adalah perawan yang suci dan telah ditetapkan oleh Allah sebagai Bunda Yesus. Maria terpilih dari antara perempuan, karena Ia seorang yang taat dan patuh pada kehendak Allah (Yes. 7:14, Mat. 1:23).

Ketika malaikat Gabriel datang ke rumah maria, ia menyampaikan salam. Malaikat Gabriel berkata: Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau (Luk. 1:28). Maria terkejut ketika mendengar salam dari malaikat Gabriel. Maria sendiri bertanya dalam hatinya mengapa malaikat Gabriel memberi salam yang sangat mulia itu (Luk.1:29). Sebab sepatutnya Maria-lah yang memberi penghormatan kepada malaikat Gabriel. Namun, malaikat Gabriel menyahut bahwa Maria beroleh dan akan rahmat untuk mengandung seorang anak laki-laki (bdk. Luk. 1:30-31).

Ketaatan dan kepatuhan Maria kepada Allah amat terbukti dalam reaksinya menanggapi kabar dari malaikat Gabriel. Maria berkata: sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38). Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan itu terlihat ketika Maria mengunjungi Elisabet. Ketika Maria memberi salam kepada Elisabet, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabeth penuh dengan Roh Kudus (Bdk. Luk. 1:39-41). Maria memberikan salam kepada Elisabet.

Maria penuh dengan Roh Kudus, maka Elisabet berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk. 1:42-43). Lalu Maria melantunkan pujian: jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus (Luk. 1:46-49).

Maria memadahkan pujian kepada Tuhan karena rahmat yang dilimpahkan padanya. Bunda Maria disebut berbahagia oleh segala keturunan (Bdk. Luk. 1:50-53). Maria adalah teladan bagi kaum beriman Katolik. Karena keteladanan Maria, karya keselamatan dapat terlaksana. Maria patut diberi penghormatan yang istimewa. Maria membuktikan kepatuhan dan ketaatannya kepada Allah melalui tindakan dan perbuatan. Maria tidak menolak rencana Allah dalam hidupnya, meskipun berat. Maka, bunda Maria menjadi tanda besar yang patut diteladani oleh umat beriman (Why. 12:1-6).

Maria adalah seorang ibu yang bertanggungjawab terhadap anaknya. Tindakan itu terlihat ketika Yesus ketinggalan di Yerusalem (Bdk. Luk. 2:41-44). Maria penuh tanggungjawab terhadap anaknya. Meskipun jarak Yerusalem dan Nazaret cukup jauh, namun Maria berusaha kembali lagi ke Bait Allah. Maria rela berkorban demi anaknya Bahkan Simeon berkata, bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Maria. Jiwa Maria bagai ditembus pedang, ketika menyaksikan Putranya sengsara (Mat. 27:27-31, Mrk. 15:16-20, Yoh. 19:2-3), disalibkan ( Mat. 27:32-44, Mrk. 15:21-32, Luk. 23:26,33-43, Yoh. 19:17-24) dan wafat ( Mat. 27:45-56, Mrk. 15:33-41, Luk. 23:44-49, Yoh. 19:28-30) dikuburkan (Mat. 27:-61, Mrk. 15:42-47, Luk. 23:50-56, Yoh. 19:38-42), bangkit ( Mat. 28:1-10, Mrk. 16:1-8, Luk. 24:1-12, Yoh. 20:1-10).

Bunda Maria mengandung dari Roh Kudus. Bunda Maria melahirkan seorang anak laki-laki yang menyelamatkan umatnya dari dosa mereka. Bunda Maria menggenapi nubuat dalam Kitab Yesaya. Bunda Maria melahirkan seorang penyelamat yang menyertai umat-Nya (bdk. Mat. 1:18-25). Ketika penyingkiran ke Mesir, Bunda Maria penuh tanggugjawab untuk membawa anaknya. Bunda Maria tidak melepas tanggungjawabnya sebagai ibu Yesus (Mat 2:13-15). Begitu pula ketika kembali dari Mesir, bunda Maria penuh tanggungjawab untuk mengurus anaknya. Bunda Maria memberikan teladan yang baik bagi para ibu (Mat. 1:19-23).

Selain itu, Bunda Maria, seorang yang peduli dan solider terhadap kepentingan orang lain. Ketika dalam perkawinan di Kana yang di Galilea kehabisan anggur. Bunda Maria memberitahukan kepada Yesus, bahwa tuan rumah kehabisan anggur. Bunda Maria mengatakan kepada para pelayan; buatlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu. Maka, Yesus pun melakukan mukjizat mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11). Kepedulian dan solidaritas bunda Maria patut diteladani oleh umat beriman. Bunda Maria tidak melihat siapa yang dibantu. Tetapi bunda Maria turut peduli dan solider dengan apa yang dialami oleh tuan rumah. Kepedulian dan solidaritas bunda Maria, akhirnya membuat pesta semakin meriah dan tuan rumah merasa bahagia.

Yesus telah memberikan tanggungjawab kepada para rasul untuk menjaga Bunda-Nya. Yesus memberi tanggugjawab besar itu, ketika Ia akan wafat di atas kayu salib. Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, Maria isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:”Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya:”INILAH IBUMU!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh. 19:25-27). Setelah Yesus naik ke surga, bunda Maria tinggal bersama para rasul. Mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, bersama dengan ibu Yesus (Kis. 1:6-14).

Daftar Pustaka:
– Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
– Beverly Roberts Gaventa, dkk. 2006. Blessed One Terberkatilah Engkau-erspektif Gereja Protestan Tentang Maria, Medan: Bina Media Perintis.

SPMB Sekolah-Sekolah YBHK Telah Dibuka

2

Jakarta-Sekolah-sekolah di bawah Yayasan Bunda Hati Kudus (YBHK) yakni Tarsisius 1, Tarsisius 2, Tarsisius Vireta, Damai dan Vianney akan segera membuka SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) Tahun Pelajaran 2026/2027.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh sidang pembaca terkait letak persekolahan kami:

  1. Sekolah Tarsisius 1 terletak di jalan KH. Hasyim Ashari No.26, RT.7/RW.7, Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat.
  2. Sekolah Tarsisius 2 terletak di jalan Batusari Raya No. 12, Jakarta Barat.
  3. Sekolah Damai terletak di jalan Duri Selatan V No. 29, RT.14/RW.2, Duri Sel., Kec. Tambora, Kota Jakarta Barat.
  4. Sekolah Vianney terletak di jalan Bojong Raya No. 98, RT.14/RW.4, Rw. Buaya, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat.
  5. Sekolah Tarsisius Vireta terletak di jalan Jalan Danau Singkarak No.Raya Blok AE No. 8-9, Gelam Jaya, Kec. Ps. Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten.

Semua persekolahan kami terakreditasi A dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana pendukung pembelajaran yang aman, nyaman, dan ramah bagi perkembangan serta kemajuan peserta didik.

Santo Valentinus, Sang Pelindung Cinta

0

Kisah Hidup St. Valentinus

St. Valentinus hidup antara tahun 175 hingga 245, pada masa penganiayaan terhadap orang Kristen sedang marak di kekaisaran Romawi. Ia lahir dalam keluarga bangsawan yang mengabdikan diri menjadi Uskup di Terni pada tahun 197. Ia ditahbiskan oleh St. Felician dari Foligno.

St. Valentinus sangat peduli dan berbelas kasih kepada orang yang membutuhkan. Ia sering melakukan mukjizat dan menyembuhkan orang sakit. St. Valentinus adalah seorang yang beriman teguh kepada Kristus. Bukti keteguhannya diuji ketika tetap mempertahankan imannya kepada Kristus meskipun harus dipenjara dan dijatuhi hukuman mati.

St. Valentinus menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Prasasti sejarah mencatat bahwa ia dipukul secara brutal, dipenjara, dan dipenggal kepalanya atas perintah prefek Romawi, Placidus. Ia dimakamkan di luar tembok kota  di sepanjang Via Flaminia di Terni. Pada abad ke-5, makamnya menjadi tempat ziarah utama.

Sang Pelindung Cinta

Berabad-abad setelah kemartirannya, penghormatan kepada St. Valentinus menyebar ke seluruh Eropa. Penyebaran tersebut sebagian besar berkat pewartaan para biarawan Benediktin. Nama St. Valentinus telah sinonim dengan cinta mulai pada abad pertengahan. Salah satu legenda menyatakan bahwa Santo Valentinus secara diam-diam memberikan Sakramen Perkawinan kepada pasangan Kristen. Kala itu kaisar membuat aturan wajib militer dan salah satu syaratnya, tidak boleh menikah.

Sementara itu, kisah lain menyatakan tentang Mawar Rekonsiliasi. St. Valentinus pernah mempersembahkan setangkai mawarkepada pasangat yang sedang bertengkar. Ia membimbing mereka untuk memegang tangkainya bersama-sama tanpa saling menyakiti. Ia juga mengajarkan mereka tentang “satu hati”.

Kisah yang paling mengharukan adalah kisah Sabino dan Serapia, seorang prajurit Romawi dan seorang wanita Kristen yang dilarang menikah karena perbedaan keyakinan. Akhirnya Sabino memilih bertobat dan dibaptis oleh Uskup Valentinus. Sebelum pernikahan berlangsung, Serapia jatuh sakit. St. Valentinus memimpin pernikahan mereka saat mereka telah meninggal dunia, terikat selamanya dalam cinta dan iman.

Sekularisasi Kisah St. Valentinus

Ada dua pendapat yang menjelaskan tentang sekularisasi kisah Santo Valentinus. Pertama, hari raya Santo Valentinus menggantikan festival kesuburan Romawi Kuno, Faunalia yang dirayakan pada tanggal 13 Februari. Kedua, hari raya Santo Valentinus dikaitkan dengan pembaruan kehidupan musiman yang ditandai dengan bunga-bunga yang mekar dan burung-burung mulai kawin. Terlepas dari semua sekularisasi kisah St. Valentinus, perayaan hari Valentin sering kali dikaitkan terbatas pada pemberian hadiah dan romansa dan memiliki banyak perbedaan dengan kisah asli dari Santo Valentinus. Setidaknya, kehidupan St. Valentinus memberi contoh bagi kita tentang cinta yang penuh pengorbanan, komitmen dan kesetiaan.

*Di sadur dari berbagai sumber oleh Silvester Detianus Gea

Berjalan bersama Bunda Maria – Renungan PW. Santa Perawan Maria, Bunda Gereja

0
woman in black dress painting

Berjalan bersama Bunda Maria: Renungan PW. Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, 20 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kej. 3:9-15.20; Injil: Yoh. 19:25-34

Perjalanan hidup seorang anak tidak pernah lepas dari peran ibunya. Ibu selalu hadir dalam setiap situasi anaknya. Bahkan dalam situasi yang paling sulit, seorang anak akan merasa tenang dalam dekapan kasih ibunya.

Seluruh ziarah hidup Gereja tidak pernah lepas dari kasih Bunda Maria.

Bunda Maria adalah Bunda Gereja. Mengapa? Karena sejak semula, Bunda Maria selalu berjalan bersama dengan para murid Yesus. Seperti yang dikisahkan oleh penulis Kisah Para Rasul bahwa ‘dengan sehati para rasul bertekun dalam doa bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, dan dengan saudara-saudara Yesus.’ Hal ini dilakukan oleh Bunda Maria sebagai bentuk kasihnya kepada para murid karena ia telah diserahkan oleh Yesus kepada murid yang dikasihi dengan berkata: “Inilah ibumu!” dan sebaliknya kepada Bunda Maria, Yesus berkata: “Ibu, inilah anakmu!”

Seluruh ziarah hidup Gereja tidak pernah lepas dari kasih Bunda Maria. Ia selalu mengiringi ziarah hidup Gereja dengan doa-doanya seperti yang telah ia lakukan ketika mendampingi Putra-Nya, Yesus Kristus, hingga di bukit Golgota. Oleh karena itu, kita harus senantiasa bersukacita karena dalam situasi apapun, kita selalu didukung oleh Bunda Maria dengan doa-doanya. Marilah kita tetap berjalan bersama Bunda Maria agar kita pun mampu setia kepada Allah seperti teladan Bunda Maria. Bunda Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami anak-anakmu. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Aku Telah Mengalahkan Dunia – Renungan Senin Pekan VII Paskah

0
ai generated, religion, faith

Aku Telah Mengalahkan Dunia: Renungan Senin Pekan VII Paskah, 13 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 19:1-8; Injil: Yoh. 16:29-33

Hidup manusia tidak pernah lepas dari godaan dan pencobaan. Hal ini juga terjadi pada para murid Yesus. Oleh karena itu, Yesus meneguhkan mereka dengan suatu kemenangan, sehingga mereka mempunyai harapan atas dasar iman bahwa ‘Ia telah mengalahkan dunia’ lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Dengan kemenangan Yesus atas dunia, maka para murid pun diteguhkan dan senantiasa bersemangat walaupun banyak tantangan, godaan dan cobaan yang harus mereka alami. Demikian juga umat di Efesus merasa imanya diteguhkan dan dikuatkan oleh pemberitaan Paulus sehingga mereka memberi diri dibaptis dalam nama Yesus.

Ancaman terhadap iman akan Kristus senantiasa mengancam kita lewat mereka yang intoleransi. Namun, janganlah kita bimbang, takut dan mundur karena Yesus senantiasa menyertai kita. Ia meneguhkan kita dengan berkata: “Kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Mari kita kalahkan kesombongan dunia dengan sikap rendah hati; dan juga kalahkan dunia yang jahat ini dengan kasih Kristus sendiri. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Mendengarkan Bisikan-Nya – Renungan Pekan V Paskah

brown and white wooden round frame
Gambar diambil dari Pixabay.com

Mendengarkan Bisikan-Nya: Renungan Pekan V Paskah, 04 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 16:1-10; Injil: Yoh. 15:18-21

Hidup kita tidak lepas dari rencana. Bahkan setiap hari, kita memiliki banyak rencana yang mau dikerjakan dari pagi sampai malam; sehingga kadang kita lupa mana yang jadi prioritas. Yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah: apakah kita mendengarkan bisikan Tuhan di dalam hati kita?

Rasul Paulus dalam melaksanakan tugas kerasulannya selalu mendengarkan suara dan bisikan Roh Allah. Mengapa? Karena dengan mendengarkan bisikan Roh Allah, ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Hal ini juga ia lakukan ketika mewartakan Injil bersama Silas. Dalam penglihatannya, ia diminta oleh Allah untuk menyeberang ke Makedonia untuk mewartakan Injil di sana.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku”. Dan lagi, “Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku”.

Namun demikian, Rasul Paulus juga sadar bahwa sekalipun sudah mendengarkan bisikan Roh Allah tetapi konsekuensi dan tantangan dari sebuah pewartaan Injil pasti selalu dihadapi karena Yesus sendiri sudah menegaskan hal ini dengan berkata: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku”. Dan lagi, “Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku”.

Oleh karena itu, marilah kita selalu mendengarkan bisikan Roh Allah dalam hidup, karya, pelayanan dan pekerjaan kita masing-masing. Dengan itu, kita akan mampu memuliakan Allah lewat karya pelayanan kita masing-masing. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Meminta dan atau Memohon – Renungan Pesta Santo Filipus dan Yakobus Rasul

ai generated, jesus, believer
Gambar diambil dari Pixabay.com

Meminta dan atau Memohon: Renungan Pesta Santo Filipus dan Yakobus Rasul, 03 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: 1 Kor. 15:1-8; Injil: Yoh. 14:6-14

Hidup manusia tidak pernah lepas dari meminta dan atau memohon. Mengapa? Karena di satu sisi manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya, dan di sisi lain adalah makhluk religius yang senantiasa mendekatkan diri pada Allah dalam permohonan dan keluhan hati.

Berkaitan dengan ‘meminta’, Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat di Korintus meminta agar mereka mengingat berita Injil yang diwartakan olehnya. Berita Injil tersebut adalah bahwa ‘Kristus telah menderita, wafat dan bangkit pada hari ketiga serta menampakkan diri kepada para rasul’. Tujuan dari apa yang diberitakannya itu adalah agar mereka mengalami keselamatan.

Yang terpenting bagi kita adalah bahwa setiap permintaan dan permohonan kita harus dalam iman yang benar dan selaras dengan kehendak Allah.

Rasul Filipus, dalam Injil hari ini, meminta dan memohon kepada Yesus dengan berkata: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.” Yesus pun menanggapi permintaan Rasul Filipus dengan mengatakan bahwa ‘Ia dan Bapa adalah satu. Maka Barangsiapa telah melihat Yesus berarti melihat Bapa.’ Penegasan Yesus ini mau mengajarkan kepada kita bahwa Ia dan Bapa adalah satu, maka apa pun yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus, Ia akan melakukan-Nya. Yang terpenting bagi kita adalah bahwa setiap permintaan dan permohonan kita harus dalam iman yang benar dan selaras dengan kehendak Allah.

Marilah dengan rendah hati kita meminta dan memohon kepada Allah dengan perantaraan Yesus Kristus agar kita semua dianugerahi rahmat kasih akan Allah dan sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir