6.4 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 89

Filosofi Ayam: Kita Belajar dari Ayam

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Mengapa setiap kali seekor ayam minum air, ia selalu mengangkat kepalanya ke atas? Maaf ini bukan teka-teki. Kita dapat saja menjawab bahwa itu kodrat ayam. Namun saya mencoba untuk memberikan jawaban lain, yaitu suatu jawaban yang mungkin bagi kita terdengar lucu bahkan aneh. Namun sebelum saya sampai ke jawaban itu, izinkan saya menceritakan sepenggal pengalaman saya bersama “dunia ayam.”

Sejak balita, saya sudah bergaul dengan ayam. Orang tuaku selalu memberiku telur ayam kampung untuk dimakan. Rasanya tentu saja enak. Rasa enak itulah yang membuat saya ingin sekali beternak ayam jika kelak sudah dewasa. Apalagi, setelah saya bertemu dengan teman-teman yang suka menyabung ayam. Biasanya, kami berjalan dari rumah ke rumah untuk memperlihatkan ayam siapa yang paling jago. Hobi menyabung ayam itu juga turut memperkuat keinginan saya untuk beternak ayam.

Ketika lulus SMA pada tahun 2005, keinginan saya untuk beternak ayam itu benar-benar terwujud. Saat itu saya memutuskan untuk tinggal satu tahun di rumah. Namun alasannya pasti bukan karena ingin beternak ayam lho? Saya memutuskan untuk jedah satu tahun karena saya merasa tidak tega meninggalkan rumah terlalu lama sebab sejak lulus SD saya harus tinggal jauh dari rumah demi melanjutkan studi ke sekolah menengah.

Saya mencoba mengisi waktu satu tahun itu dengan beternak ayam. Memang, jumlahnya tidak seberapa. Bagi saya saat itu, jumlah sedikit bukan soal sebab yang terpenting adalah bahwa bakat saya tersalurkan. Setelah berada di pendidikan tinggi, saya kembali mendapat kesempatan untuk praktik kerja atau semacam “PKL” yang kami sebut “WE” (Work Experience). Program ini berlangsung selama satu bulan. Dalam program itu, saya berkesempatan untuk menjadi pekerja di salah satu peternakan ayam di pedalaman Bekasi, yakni di daerah Saddang, Kecamatan Setu, Bekasi – Jawa Barat.

Selama satu bulan itu saya tinggal di Mes khusus karyawan yang bekerja di kandang ayam. Orang-orang sekitar selalu memanggil kami “bocah kandang.” Banyak pengalaman menarik selama di sana, mulai nonton organ tunggal, nonton layar tancap, nontong topeng monyet, sampai apel (kunjungan) ke rumah pacar teman. Semua ini kulakukan bersama teman-teman yang disebut bocah kandang itu. Beberapa orang yang pernah datang ke kandang ayam tempat saya bekerja selama satu bulan itu bertanya sinis “Kok bisa ya, orang yang bukan basic peternakan mau bekerja di kandang?” Ya, menurut saya wajar saja kalau mereka bertanya demikian. Namun satu hal yang pasti bahwa saya ke sana membawa tujuan tertentu yakni bahwa saya ingin mencari pengalaman kerja dan belajar membangun relasi dengan sebanyak mungkin orang, apa pun latar belakang mereka. Saya merasa bahwa tujuan itu berhasil.

Kecintaan saya pada usaha peternakan ayam tidak berhenti di situ. Sejak tiba di Makassar tahun yang lalu (2011), saya mulai melirik kandang ayam yang tidak terpakai di dekat kolam ikan – belakang wisma. Saya mengajak teman-teman untuk memperbaiki kandang itu. Singkat cerita, saya berhasil memelihara sekitar dua puluhan ekor ayam. Namun pengalaman tidak enak segera datang sesudahnya karena ayam-ayamku yang baru bertambah jumlahnya tiba-tiba diserang penyakit. Padahal, hampir setiap sore saya menyemprot obat sekeliling kandang. Hati siapa yang tidak kecewa? Saat itu saya memang kecewa namun tidak bertahan lama.

Sejak 14 Juni sampai 14 Juli 2012 saya menjalani program live-in di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan di rumah keluarga Muslim. Selama satu bulan itu saya kembali bersentuhan dengan usaha peternakan ayam. Ternyata keluarga yang saya tempati mempunyai usaha peternakan ayam pedaging. Oleh karenanya, saya mencoba kembali mengembangkan bakat saya di sini. Hanya saja bibit ayam baru masuk saat satu minggu sebelum saya meninggalkan tempat itu. Namun demikian, saya merasakan waktu seminggu itu cukup menantang karena saya harus merasakan tidur di kandang ayam. Saya dan seorang karyawan tetap di sana benar-benar standby di kandang selama dua puluh empat jam karena takut ayamnya diterkam kucing. Pengalaman tinggal di kandang ayam beberapa hari tentu menjadi pengalaman yang luar biasa bagi mereka yang belum pernah merasakannya sebelumnya. Demikian halnya bagi saya saat itu. Ada sedikit rasa penolakan dalam diri. Tetapi lagi-lagi karena keingintahuan saya terhadap cara beternak ayam dan kerinduan saya untuk bergaul dengan banyak teman dari berbagai latar belakang membuat kegalauan saya berkurang.

Berangkat dari semua pengalaman bersama ayam, saya akhirnya harus memberi jawaban atas pertanyaan tadi:

“Mengapa setiap kali seekor ayam minum air, ia selalu mengangkat kepalanya ke atas?” Bagi orang beriman, “dunia atas” pastilah menunjuk pada Tuhan.

Kita selalu berdoa ke atas karena kita yakini bahwa Tuhan ada di atas sana. Dengan cara berpikir seperti itu, maka secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh ayam sebenarnya sama: mereka ingin memandang si pemberi air minum itu. Aneh kan? Ya, memang aneh. Tapi yang tidak aneh adalah bahwa kita bisa belajar dari cara berpikir seperti itu. Bagi saya, nilai yang bisa dipetik dari kebiasaan ayam ini adalah bahwa kita – yang tentu saja jauh lebih cerdas dari seekor ayam – berusaha mensyukuri setiap “berkat” yang kita terima. Seperti seekor ayam, kita pun menengadah ke atas dan berdoa “Terima kasih Tuhan atas rezeki yang sudah kami terima hari ini.” Semoga pembelajaran kecil ini bisa bermanfaat kita semua. Salam sehati-sejiwa.

ABRAM Mengungsi: dari Negeb ke Mesir dan Kembali ke Negeb

0

Abram hidup berpindah-pindah. TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Ini janji Tuhan ‘mengenai tanah’ untuk pertama kalinya kepada Abram. Maka Abram mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. Sesudah itu ia berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Tapi apa daya, tidak lama setelahnya bencana kelaparan melanda daerah yang ditempatinya. Makanya ia dan istrinya terpaksa harus mengungsi ke negeri yang jauh, yaitu Mesir, untuk tinggal di sana sebagai orang asing. Tapi, Abram sadar bahwa usaha untuk masuk ke wilayah Mesir bukanlah pilihan yang aman, terutama jika orang Mesir tahu bahwa Sarai adalah istrinya.

Abram merancang strategi ‘kebohongan’. Ia berkata kepada istrinya, “Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup” (Kej. 12:11-12). Abram menaruh rasa curiga terhadap orang-orang Mesir. Maka, demi alasan keamanan, ia menyuruh Sarai supaya mengaku sebagai adiknya.

Strategi yang dibuat oleh Abram berhasil. Ia dan istrinya lolos masuk ke negeri Mesir. Tapi, memang benar dugaannya. Sesudah ia dan istrinya masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu (Sarai) sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini Sarai, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta (Kej. 12:14-16).

Tuhan tidak menyukai strategi yang dibuat oleh Abram. Maka, TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya (Kej. 12:17). Firaun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Maka, ia memanggil Abram serta berkata: “Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!” (Kej. 12:18-19).

Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya. Saat itu ia sudah sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. Abram KEMBALI menetap di tanah Kanaan (Kej. 13:12).

Sampai di sini, apa yang kita pahami? Abram dipanggil oleh Tuhan supaya masuk ke tanah Kanaan. Tuhan berjanji kepada Abram bahwa negeri Kanaan itu akan diberikan kepada keturunannya. “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Tapi, ketika kelaparan melanda negeri itu, Abram dan istrinya merantau ke negeri Mesir. Keberadaan mereka di negeri Mesir tidak bisa diperpanjang. Firaun menyuruh mereka pergi dari sana. Maka Abram dan istrinya terpaksa kembali lagi ke negeri Negeb, kemudian pindah ke Betel, dan akhirnya menetap Kanaan.

Setibanya di daerah Kanaan, Tuhan seolah ingin memperbaharui janji-Nya kepada Abram. Maka, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu” (Kej. 13: 14-17). Ini janji Tuhan ‘mengenai tanah’ untuk kedua kalinya kepada Abram. Sesudah itu, Abram memindahkan kemahnya dan menetap di daerah dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.

Sampai sejauh itu, Abram belum dikaruniai anak. Maka, Abram berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu” (Kej. 15:2-3). ***

Yang Mistis dan yang Erotis

0

Entah gejala apa yang terjadi, industri perfilman tanah air ramai meramaikan film-film bernuansa horror [baca: mistis]. Beberapa tahun belakangan, judul-judul film tanah air hampir pasti selalu dibubuhi kata “hantu”. Anehnya, film hantu hasil karya anak Indonesia ini tidak persis yang dibayangkan banyak orang jika mendengar kata “hantu” tersebut. Memang, unsur mistis ditampilkan berupa para pemain dengan wajah berdarah, bentuk muka tidak jelas, dan ditambah dengan suara aneh. Namun demikian, unsur ini menjadi kabur tatkala unsur yang seharusnya bersifat ‘tempelan’ justru menjadi dominan. Bagaimana tidak, kita sulit menemukan film “hantu” Indonesia tanpa para gadis seksi dengan sedikit adegan panasnya. Ya, film horor Indonesia selalu dibintangi oleh gadis-gadis seksi dengan segala adegan seksi yang mereka tampilkan.

Gejala macam apakah ini? Inilah pertanyaan yang selalu mengganjal di pikiran saya sebagai orang awam. Menurut saya, kita seringkali terhibur dan terbuai oleh adegan-adegan erotis para pemain film horor. Memang, tidak heran jika film horor Indonesia ramai ditonton oleh sejumlah kalangan anak muda. Mereka mengunjungi bioskop-bioskop terdekat ditemani oleh pasangan masing-masing. Film horor memberi inspirasi dalam hubungan percintaan mereka. Sekarang nilai seni dari sebuah film direduksi ke dalam adegan-adegan erotis. Akibatnya, cara pandang para penikmat film pun dipengaruhi oleh kriteria itu. Orang menjadi enggan menonton film – termasuk film horor – kalau tidak ada adegan “panas”-nya. Adegan panas selalu menjadi pemanis film horor tanah air. Akibatnya, tidak heran jika beberapa film horor dicekal oleh pemerintah – bukan karena adegan horornya yang menyeramkan – tetapi justru karena adegan erotis yang tidak sesuai dengan kaidah umum. Aneh bukan?

Sekarang masyarakat sulit membedakan mana yang menjadi tambahan dan mana inti. Apakah unsur horor yang menjadi tambahan, dengan demikian unsur erotis menjadi inti? Ataukah sebaliknya? Ataukah gabungan antara keduanya? Bagaimana tidak, porsi keduanya hampir sama. Sebagai penikmat film yang berjuang menangkap inti dari setiap film, saya selalu merasa kehilangan pesan pokok dari setiap film horor tanah air. Saya seperti kebanyakan orang lain juga terjebak.

Dosa Kita: Merasa Tahu

0

Banyak orang – termasuk Anda dan saya – pernah bahkan sering merasa tahu banyak hal. Kemudian, dengan bangga kita memulai suatu pekerjaan tanpa meminta bantuan orang lain. Andaikata kita sungguh-sungguh tahu tentang apa yang ingin kita kerjakan, boleh jadi tidak masalah. Namun, dalam kenyataannya subjek yang merasa tahu justru banyak melakukan kesalahan. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya adalah karena orang seperti itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh tahu tentang apa yang dihadapinya. Mereka hidup di bawah bayang-bayang. Akibatnya, banyak pekerjaan yang sudah dimulainya tidak dapat diselesaikan.

Itulah tipe manusia yang suka merasa tahu. Jika si subjek yang suka merasa tahu melakukan suatu kesalahan, hampir pasti dia segera melemparkan kesalahan itu kepada orang lain atau apa saja yang ada di sekitarnya. Hal ini dibuatnya karena ia sendiri tidak mungkin mempersalahkan dirinya sendiri, ia berpikir apa yang dibuatnya sudah benar. Apapun akan dilalukannya agar borok ketidaktahuannya tetap tak terlihat oleh pandangan mata orang lain.

Lebih jauh kita dapat memastikan bahwa refleksi rasional (pengetahuan) tidak pernah sungguh-sungguh dilakukan oleh subjek yang merasa tahu. Ia hanya menyentuh bagian luarnya saja yang sifatnya dangkal. Padahal, refleksi rasional seperti itu penting bagi manusia zaman sekarang supaya tidak mudah tunduk di depan godaan dunia yang tak jarang menyeret kita ke jurang yang dalam. Dalam situasi apapun, mengetahui sesuatu secara tepat mesti kita miliki sehingga meski kondisi yang kita hadapi susah, kita tetap memilih apa saja yang membawa kebaikan bagi kita. Bagi Socrates dan Plato, “tindakan yang tepat selalu muncul dari pengetahuan yang tepat,” artinya bila orang mengetahui benar-benar apa yang baik, maka tindakannya akan mengikuti hal tersebut mengingat semua orang selalu menginginkan apa yang baik bagi dirinya.

Mereka yang merasa tahu tentu tak sampai pada momen yang otentik itu. Mereka tidak pernah melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh sebab dalam kenyataannya mereka tidak tahu harus dimulai dari mana dan akan berakhir di mana. Semuanya menjadi samar-samar dan sekedar coba-coba. Jadi, jika kita ingin melakukan sesuatu secara tepat, maka hal mendasar yang harus kita lakukan adalah belajar mengetahuinya secara tepat dan mendalam! Jika belum tahu, tanyakanlah pada yang lain.

Merasul Lewat Sosial Media: Mungkinkah?

0

Dalam dunia yang serba canggih saat ini, kegiatan kerasulan selalu dapat dilakukan dengan bermacam cara. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah melalui posting-an di blog. Lewat blog kita dapat menyampaikan gagasan pribadi kita sehingga mudah diakses oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Selain itu, blog juga menyediakan ruang seluas-luasnya bagi kita untuk berdiskusi dengan orang-orang yang membaca posting-an kita atau sekedar berteman dengan mereka yang sudah mau follow di blog kita. Singkatnya, dengan dan melalui blog segala gagasan yang kita miliki bisa tersalurkan.

Namun demikian, kita juga harus mengakui bahwa blog bukanlah satu-satunya sarana yang bisa kita manfaatkan dalam memberikan pewartaan bagi orang lain. Masih ada sarana lain yang bisa kita gunakan selain blog, sebut saja Facebook, Twitter, dan lain-lain. Namun demikian, kelebihan blog di sini adalah bahwa sarana ini menyediakan ruang yang sangat luas bagi kita untuk menuliskan apa saja seturut kemampuan kita tanpa harus terputus karena terbatasnya room yang disediakan.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Berdasarkan kegunaan blog, maka kiranya kegiatan kerasulan melalui blog patut kita pikirkan bersama. Bagaimana tidak, banyak umat kita terutama yang tinggal di daerah perkotaan adalah pengguna internet.

Tentu saja, kita tidak perlu takut bahwa blog kita tidak dikunjungi orang sebab penyumbang tulisan terbesar di google search berasal dari tulisan-tulisan di blog. Jadi, apapun yang kita tulis di blog hampir pasti akan dibaca orang. Marilah kita mulai ngeblog sekarang juga!

ABRAM Dipanggil Allah: dari Ur-Kasdim ke Tanah Kanaan

1

Apakah Anda ingin khatam membaca Kitab Suci? Apakah Anda mau membaca Kitab Suci secara paripurna? Emang bisa? Mengapa tidak?

Selama ini kita selalu berpikir bahwa membaca dan memahami Kitab Suci itu sulit, terutama membaca dan memahami kisah dalam Perjanjian Lama. Apakah benar sulit? Saya kira TIDAK. Kisah-kisah yang ditulis di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama menarik untuk dibaca dan mudah untuk dipahami. Tidak percaya? Mari kita buktikan!

Saya ingin kali ini kita fokus pada Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Ada satu skenario besar yang diceritakan di dalam lima kitab ini, yaitu perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

Saya yakin sekali bahwa kita sudah sering mendengar kisah spektakuler mengenai peristiwa keluarnya bangsa Israel dari negeri Mesir itu. Tokoh penting yang berhasil membawa bangsa Israel keluar dari negeri Mesir itu adalah Musa. Ia dibantu oleh kakak laki-lakinya, Harun, sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan kepadanya (Kel. 7:1-2).

TAPI, pernahkah kita bertanya: sejak kapan bangsa Israel berada di negeri Mesir? Mengapa pula mereka berada di sana? Ceritanya panjang. Tapi, kita bisa memulai jalan ceritanya dari leluhur mereka, Abraham.

Mula-mula namanya bukan Abraham, tapi Abram. Abraham berarti Bapa dari banyak bangsa. Nama ini merujuk pada Kej. 17:5 yang bunyinya: “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa”.
Abram adalah keturunan Sem dan putra Terah. “Setelah Terah hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran” (Kej. 11:26). Dia adalah orang Ibrani. “Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram” (Kej. 14:13.

Riwayat hidup Abram disajikan dalam Kej. 11:26-25:10, dan ringkasannya dalam Kis. 7:2-8. Ia lahir di Ur-Kasdim, Mesopotamia. Kemudian, ia dan keluarganya pergi ke Haran dan menetap di sana (Kej. 11:31). Bahkan ayahnya, Terah, meninggal di Haran. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kej. 12:1). Negeri yang dijanjikan oleh Tuhan itu adalah tanah KANAAN – yang nantinya menjadi tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Jika kita menuruti kronologi peristiwa di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Allah berfirman ketika Abraham sudah ada di Haran. Tapi, pemaparan kisah ini akan terlihat berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Lukas dalam Kis. 7:1-4.

Dalam Kisah Para Rasul Bab 7, ada indikasi bahwa Allah berfirman kepada Abraham ketika dia masih tinggal di Ur-Kasdim (Mesopotamia), bukan di Haran. Bagaimana kedua ‘pernyataan’ ini diharmoniskan? Tidak ada yang salah dengan kedua pernyataan tersebut. Tuhan memang berfiman kepada Abraham di Ur-Kasdim, bukan di Haran. Penyelidikan eksegesa terhadap perintah Tuhan kepada Abraham dalam Kej. 12:1-3 lebih condong menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘negerimu (‘eres) dan ‘sanak saudara’ (moledet) bukanlah Haran, melainkan Ur-Kasdim. Kata ‘eres moledet juga muncul di Kej. 11:28 yang diterjemahkan LAI dengan ‘negeri kelahiran‘. Secara umum ‘eres moledet diterjemahkan sebagai negeri dimana seseorang dilahirkan. Abraham lahir di Ur-Kasdim, bukan di Haran.

Pemanggilan Allah terhadap Abraham di Ur-Kasdim, bukan di Haran, diperkuat oleh beberapa bagian Alkitab lainnya: “Lagi firman TUHAN kepadanya: Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7). “Engkaulah TUHAN, Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham” (Neh 9:7). Jadi, jelaslah bahwa tidak ada kontradiksi antara Kej. 11:27-12:4 dan Kis. 7:1-4. Tuhan memanggil Abram pergi keluar dari tanah kelahirannya ketika Abram masih tinggal di Ur-Kasdim, bukan sesudah Abram singgah di Haran.

Cerita berlanjut. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Ia membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ (Kej. 12:4-5). Saat itu usianya 75 tahun. Ia berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem. Waktu itu orang Kanaan tinggal di negeri itu. ***

Kisah Inspiratif: Dua Tukang Bangunan

0
Menurut Anda, siapa yang paling besar jasanya di antara kedua tokoh berikut ini: tukang batu atau tukang kayu? Jelaskan alasan Anda! Cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang bisa Anda temukan di dalam kisah berikut ini. Ambillah kunci jawabannya sebagai hadiah buat Anda dan gunakanlah kunci jawaban itu sesuai dengan petunjuk yang akan saya cantumkan pada akhir uraian ini.

Kisah yang akan Anda baca berikut ini adalah fiktif dan murni hasil permenungan atas bacaan Injil mengenai para murid Yesus yang memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Meski fiktif, kisah seperti ini mempunyai pesan aktual bagi kehidupan kita sehari-hari. Berikut kisahnya:
Dua orang tukang bangunan – yang seorang tukang batu dan yang lain tukang kayu – duduk di depan rumah yang baru saja mereka bangun sambil bercakap-cakap. Mula-mula isi pembicaraan mereka hanya seputar cerita pengalaman masing-masing, namun kemudian datanglah seorang tetangga lewat di depan mereka dan memuji hasil kerja mereka. Seketika itu pula, pikiran mereka menjadi kacau dan mereka mulai mengalihkan isi pembicaraan ke persoalan “Siapa yang paling besar jasanya di antara mereka?”

Menurut tukang batu, dirinyalah yang paling besar jasanya dibandingkan dengan tukang kayu. Ia menambahkan bahwa tanpa keterampilan yang dimilikinya, rumah tersebut tidak mungkin berdiri kokoh seperti sekarang. Sebaliknya, tukang kayu mempertahankan bahwa justru dirinyalah yang paling berjasa. Menurutnya, tanpa keterampilan yang dimilikinya maka tembok-tembok yang didirikan oleh tukang batu hanya tampak seperti kotak kosang. Oleh karena itu, dia merasa bahwa dirinyalah yang memberi bentuk atas rumah itu.

Perdebatan di antara keduanya tak kunjung selesai, sampai akhirnya mereka sepakat untuk menuliskan alasan mengenai mengapa masing-masing mereka merasa bahwa dirinya lebih berjasa dari yang lain. Setelah semua alasan ditulis, keduanya membandingkan hasil tulisannya. Hasilnya, alasan yang diuraikan sama banyaknya. Sampai sejauh ini tidak ada yang dinyatakan lebih berjasa dari yang lain.

Keduanya memutuskan untuk membongkar kembali rumah yang ada. Tukang kayu mengembalikan bagiannya. Dia mulai membongkar atapnya, demikian juga jendela-jendela rumah itu. Sekarang mereka berdiri di dekat hasil kerja masing-masing. Tukang batu berdiri di dalam tembok yang sudah dibangunnya, sedangkan tukang kayu berdiri di depan rangka atap dan rangka jendela yang sudah tergeletak di tanah. Tiba-tiba datanglah hujan lebat dan angin kencang. Si tukang batu basah kuyup karena air hujan masuk ke dalam tembok yang didirikannya dan memenuhi ruangan itu, demikian pula yang terjadi dengan si tukang kayu. Peristiwa ini membuat keduanya sadar bahwa ternyata mereka saling membutuhkan satu sama lain dan tidak ada seorang pun yang lebih berjasa dari yang lain. Kemudian, keduanya memasang kembali apa yang sudah mereka bongkar. Kini mereka bisa berlindung di dalam rumah itu; mereka terbebas dari terpaan hujan lebat dan angin kencang.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Saudara-saudara, kisah serupa mungkin terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu ketika kita merasa lebih berjasa atau lebih penting dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebagai contoh, para pedagang beras di kota mungkin merasa lebih berjasa daripada petani di desa, atau bisa juga sebaliknya. Singkatnya, kita selalu merasa diri sebagai orang yang paling dibutuhkan dan paling penting.

Akan tetapi, kalau kita mau belajar dari kisah di atas, maka kini saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Dengan demikian, hubungan yang kita bangun dengan orang-orang lain yang ada di sekitar kita bukanlah hubungan vertikal, yang satu berada di posisi paling atas sedangkan yang lain di bawah, melainkan hubungan horizontal. Artinya, kedudukan kita adalah sederajat dan sama pentingnya. Nah masih ingatkah Anda terhadap pertanyaan yang ada pada awal artikel ini? Sekarang Anda sudah memiliki kunci jawabannya, yaitu bahwa semua orang sederajat dan saling membutuhkan satu sama lain. Gunakanlah kunci jawaban ini untuk membuka hati Anda sehingga Anda tidak lagi merasa tertutup dan tinggi hati di antara orang-orang yang ada di sekitar Anda. Salam sehati sejiwa.

Kisah Inspiratif: Dua Orang Nelayan

0

Dua orang nelayan – yang satu bernama si cerdas dan yang lain si bijaksana – sedang membersihkan jala sambil bercakap-cakap soal kegagalan yang mereka alami tadi malam. Kemudian datanglah seseorang ke tengah-tengah mereka dan berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Ketika mendengar perkataan orang itu, si cerdas menoleh ke arahnya dan berkata: “Sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Sekarang kamu menyuruh kami untuk menebarkan jala pada siang hari. Apakah ini bukan suatu kebodohan?”

Bagi si cerdas, permintaan untuk menebarkan jala pada siang hari adalah suatu kebodohan sebab berdasarkan teori umum yang diperolehnya, waktu terbaik untuk menangkap ikan adalah malam hari, bukan siang bolong. Oleh karenanya, ia menolak permintaan orang itu dan pergi menjauh dari hadapannya. Tidak demikian dengan si bijaksana. Ia mendekati orang itu dan perlahan berkata: “Sebenarnya berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh, seorang nelayan tidak boleh melaut pada siang hari karena sudah tentu tidak akan menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Kemudian ia menolak perahunya ke tempat yang dalam dan mulai menebarkan jalanya. Apa yang terjadi? Si bijaksana menangkap banyak ikan.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Saudara-saudara, cerita mengenai Dua Orang Nelayan ini pada dasarnya berbicara mengenai orang yang sama, yaitu Petrus. Bagi saya, Petrus yang kemudian menjadi murid Yesus itu adalah orang yang cerdas sekaligus bijaksana. Ia cerdas karena ia memiliki pengetahuan dasar mengenai kapan waktunya ia harus melaut, namun ia juga bijaksana karena baginya pengetahuan yang dimilikinya bukanlah segala-galanya. Ia membuka hatinya untuk kemungkinan yang lain. “Ya, sudahlah. Pengetahuan yang saya miliki memang mengatakan seperti ini tetapi kan siapa tahu apa yang dikatakan orang ini benar”. Dengan kata lain, ia terbuka terhadap pertimbangan-petimbangan lain di luar pengetahuan yang dimilikinya.

Bagaimana dengan kita? Banyak di antara kita yang merasa sudah berpendidikan tinggi tidak lagi mau mendengar nasehat atau wejangan dari orang-orang lain, apalagi kalau wejangan atau nasehat itu diberikan oleh orang-orang yang menurut kita tidak se-level dengan kita. Kita merasa bahwa pengetahuan yang kita miliki sudah berbicara banyak hal mengenai hidup ini atau kita merasa lebih pantas memberi nasehat daripada menerima nasehat, dan sebagainya.

“Orang cerdas belum tentu bijaksana, tetapi orang bijaksana pastilah cerdas” demikian ungkapan yang mungkin pernah kita dengar. Ungkapan ini mau menunjukkan bahwa kecerdasan saja tidak dengan sendirinya membuat orang bijaksana. Kita mungkin saja memiliki ilmu pengetahuan setinggi langit tetapi ketika kita dimintai untuk membuat suatu keputusan, kita tidak mampu memilih yang terbaik. Hanya orang yang bijaksana tahu persis keputusan apa yang terbaik untuk waktu yang tepat.

Jadilah orang cerdas sekaligus bijaksana. Orang bijaksana tidak akan terjebak untuk terburu-buru menolak atau sebaliknya terburu-buru menerima setiap permintaan atau apapun yang akan mendekati dirinya. Ia akan mempertimbangkan semuanya secara matang. Sebaliknya, si cerdas akan konsisten dengan alur berpikirnya dan apa saja yang ditemuinya tidak sejalan dengan pengetahuan yang diperolehnya, demi pengetahuan itu pula ia tidak segan-segan untuk menolak. Padahal, apa yang ditolaknya itu belum tentu buruk.

Tipe mana yang Anda pilih? Si cerdas? Atau Si Bijaksana? Ingat, pilihan Anda menunjukkan siapa diri Anda! Salam sehati sejiwa.