17.5 C
New York
Saturday, June 12, 2021

Sabtu Paskah: “Gereja Tinggal di Makam Tuhan Yesus”

Setelah kemarin kita merenungkan misteri penderitaan dan wafat Yesus (Jumat Agung), pagi ini kita merenungkan misteri pemakaman Yesus (Sabtu Paskah). Menurut Injil Yohanes (19:38-42), setelah Yesus wafat di salib, Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus untuk menurunkan mayat Yesus. Permintaan ini dikabulkan oleh Pilatus. Setelah mengurus segalanya, Yusuf dari Arimatea dan orang-orang yang ada bersamanya, menguburkan Yesus. Memang menurut Kitab Ulangan 21:22-23, mayat-mayat orang yang dihukum mati tidak boleh dibiarkan tergantung sampai malam supaya tanah Tuhan tidak dinajiskan. Mayat-mayat itu harus dikuburkan pada hari itu juga. Kiranya demikian juga dengan Yesus. Ia dimakamkan atau dikuburkan.

Misteri penguburan atau pemakaman Yesus ini agaknya kurang direnungkan secara sungguh-sungguh oleh umat Katolik. Ada kesan orang Katolik cenderung fokus merenungkan penderitaan Yesus dan kebangkitan-Nya dari alam maut, tetapi mengabaikan penguburan atau pemakaman Yesus (bdk,  Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal Dokumen Gereja “Perayaan Paskah dan Persiapannya” memberikan petunjuk sebagai berikut:

  • Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan Penderitaan, Wafat dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa. Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (bdk. no.40). Di mana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini.(Artikel 73)
  • Gambar Kristus – pada salib, beristirahat di makam atau turun ke alam maut -, yang menjelaskan misteri Sabtu Paskah, atau juga gambar Bunda berduka, dapat dipasang dalam gereja untuk dihormati kaum beriman. (Artikel 74)
  • Pada hari ini Gereja tak merayakan Kurban Misa. Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci. Perayaan sakramen perkawinan dan sakramen-sakramen lain, kecuali sakramen tobat dan orang sakit, tak boleh diberikan. (Artikel 75)

Hal-hal penting ini tampaknya kurang dihayati oleh umat Katolik. Apa buktinya? Sebagai contoh, umat menghayati hening total selama hari Jumat, tetapi hari sabtu suci tak ada keheningan. Semuanya sibuk mempersiapkan segala hal untuk perayaan malam Paskah. Tak ada waktu untuk merenungkan penguburan atau pemakaman Yesus. Bagi saya ini kekeliruan yang perlu perbaiki. Semua pihak harus berbenah, mulai dari imam dan semua umat.

Hari Sabtu Paskah adalah kesempatan untuk tinggal di makam Yesus dan merenungkan misteri Yesus turun ke dunia orang mati. Bahwasannya Yesus telah sungguh-sungguh mati dan dikuburkan. Ia telah menjadi sama dengan kita dan turut mengalami keadaan kita, “Supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia yaitu iblis yang berkuasa atas maut” (Ibr.2:14). Ia tak hanya disalibkan, tetapi juga dikuburkan. Dia telah mengambil bagian terburuk dari kemanusiaan kita yakni dikuburkan (Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Kita sadar, kubur atau makam merupakan salah satu aspek dari kehidupan manusia. Karena itu, kita perlu merenungkan misteri kubur dan pemakaman Yesus. Akan tetapi, kita tahu, kubur tidak akan menjadi tempat kediaman-Nya untuk selama-lamanya (bdk. Mzm 49).

Dalam pembaptisan kita juga disadarkan bahwa kita telah dikuburkan bersama dengan Yesus agar dibangkitkan dalam kehidupan baru bersama-Nya. Sebagaimana Yesus pernah pergi ke kubur Lazarus dan di sana Ia menangis (bdk. Yoh. 11:34-35), pada Sabtu Suci ini seharusnya kita melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya (bdk. Mat. 27:21). Melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya berarti kita mengambil waktu hening: berdoa, menyesali dosa dan memohon ampun, meditasi dan merasakan bagaimana terbaring kaku dalam makam. Inilah yang kurang kita hayati selama Sabtu Suci. Bahkan tak berlebihan kalau dikatakan bahwa Sabtu Suci seperti ‘waktu kosong’ menjelang Malam Paskah (Bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal jika tidak merenungkan penguburan Yesus dan tidak duduk di makam-Nya, kita juga tidak mengingat misteri penguburan kita bersama dengan Dia dalam pembaptisan.

Renungan Sabtu Paskah, saat kita merenungkan penguburan dan pemakaman Yesus ini berakhir sebelum Perayaan Malam Paskah. Atau biasanya ditutup dengan Ibadat Sore yang tak lain adalah ibadat untuk merayakan misteri wafat dan pemakaman Yesus (bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Akan tetapi, Ibadat Sore ini jarang sekali dilakukan. Padahal kalau Ibadat Sore ini dirayakan, kita sungguh-sungguh dipersiapkan merayakan Paskah; merayakan kebangkitan Tuhan. Setelah ibadat ini baru kita mempersiapkan diri untuk perayaan Malam Paskah. Biasanya perayaan Malam Paskah ini dilaksanakan pkl. 18.00 ke atas, saat matahari mulai terbenam.

Apakah saudara/i berada di sekitar makam atau kubur Yesus pada hari ini? Apakah saudara/i merenungkan dengan sungguh-sungguh misteri penguburan atau pemakaman Yesus hari ini? ***

 

 

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini