10.4 C
New York
Monday, April 12, 2021

Yesus Menderita karena Kita dan untuk Kita

Hari ini kita merenungkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus di kayu salib. Saya  mengajak saudara-saudari merenungkan bacaan suci yang direnungkan pada hari Jumat Agung ini oleh umat Katolik di seluruh dunia. Bacaan pertama (Yes. 52:13-53:12) melukiskan tentang hamba Yahwe yang menderita. Hamba Yahwe itu menderita bukan karena ia bersalah atau berdosa. Ia adalah orang benar, tetapi ia menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Penderitaanya ini mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang membuatnya menderita. Yesaya menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:4-5).

Pada bagian akhir bacaan ini, nabi Yesaya kembali menegaskan, “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak (Yes. 53:11-12).”

Apa hubungan perkataan Yesaya dengan misteri Jumat Agung? Bagi kita pengikut Kristus, apa yang disampaikan oleh Yesaya ini secara sempurna terjadi dalam diri Yesus. Nubuat Yesaya ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah orang benar yang menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Tentang penderitaan-Nya ini, kita temukan dalam  Kisah Sengsara  menurut Yohanes (Yoh. 18:1-19:42) yang dibaca dan direnungkan hari ini. Yesus ditangkap, diadili, dicemooh, dihina, didera, dipukul, dimahkotai duri, disuruh memanggul salib dan Ia jatuh-bangun, ditendang, ditikam lambung-Nya, dipaku pada salib dan akhirnya wafat di salib. Ia dihukum mati seperti penjahat, walau sesungguhnya ia tak pernah melakukan kejahatan. Ia disiksa seperti pendosa, walau ia tak pernah berdosa. Dialah hamba Yahwe yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya.

Yang perlu disadari dan diimani adalah penderitaan Yesus itu menyelamatkan orang-orang yang membuatnya menderita. Penderitaan Yesus mendatangkan keselamatan bagi kita, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya, “Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5).” Ia menanggung dosa-dosa kita dengan memanggul salib sampai wafat di kayu salib sekaligus menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dosa. Oleh penderitaan-Nya, kita diselamatkan.

Yesus menderita karena dosa manusia, termasuk kita saat ini. Ya, Yesus menderita karena dosa-dosa kita. Karena itu, hari Jumat Agung ini seharusnya menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan terhadap Yesus. Barangkali ada yang menyangkal dan bertanya, “Bagaimana kita mengakui bahwa Yesus menderita karena dosa-dosa kita sementara Ia sudah disalibkan lebih dari dua ribu tahun yang lalu? Apakah benar aneka tindakan yang dilakukan saat ini, kita lakukan  terhadap Yesus?”

Saudara-saudari, mari kita lihat apa yang tertulis dalam Kis. 9:1-31, kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus. Dalam teks ini kita temukan bagaimana Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan para pengikut-Nya yang teraniaya. “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Dan ketika Saulus bertanya, siapakah Engkau, Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang telah engkau aniaya itu!” Perhatikan! Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang yang menderita penganiayaan yang dilakukan oleh Saulus. Kita semua tahu bahwa setelah peristiwa itu, Saulus bertobat. Ia menjadi Paulus, seorang pewarta Injil yang tak tertandingi sepanjang sejarah Gereja!

Dengan demikian, kalau saat ini kita berdosa, misalnya, kita melukai, memfitnah, mencerca orang lain, kita melukai, memfitnah dan mencerca Yesus! Aneka kejahatan yang kita lakukan kepada orang lain, kita melakukannya terhadap Yesus. Sebab, Ia hadir dalam diri sesama, terutama yang menderita dan tersisihkan. Yesus juga mau dikenal sebagai seorang yang disalibkan dan supaya kita memandangnya dengan penuh iman (Yoh. 20:19-31). Ingatlah kata-kata-Nya dalam injil Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Berkaitan dengan hal di atas bisa dikatakan bahwa setiap kali kita berdosa, kita membuat Yesus menderita lagi walau bukan secara fisik. Hati-Nya terluka setiap kali kita  berdosa. Dia menderita karena kita tidak atau kurang mengasihi-Nya. Ingatlah juga ucapan-Nya sebelum menghembuskan nafas terakhir di kayu salib, “Aku haus!” Sesungguhnya Ia tidak sedang haus air. Ia sesungguhnya haus akan kasih kita kepada-Nya. Ia haus akan kesadaran kita untuk mengakui kasih karunia Allah melalui diri-Nya, secara khusus melalui penderitaan dan wafat-Nya di salib. Ia haus akan ketaatan kita kepada kehendak Allah seperti diri-Nya.

Karena itu, menurut saya, seharusnya hari Jumat Agung adalah saat bagi kita untuk mengakui segala dosa kita dan memohon rahmat pengampunan dari Yesus. Kita berharap agar darah-Nya menyucikan diri kita; menghapus segala dosa kita. Dengan darah-Nya, kita diselamatkan. Ini juga saat indah untuk membuat komitmen baru agar ke depan kita menjadi lebih baik dan tidak mudah jatuh dalam dosa.

Yesus Peduli dengan Penderitaan Kita

Pada hari Jumat Agung ini juga saya merenungkan bahwa penderitaan Yesus, selain sebagai bentuk ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa (Ibr. 5:8) juga merupakan bentuk solidaritasnya (kepedulian) yang mendalam dengan penderitaan dan kelemahan manusia. Bacaan kedua hari ini melukisnya dengan indah tentang hal ini. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr. 4:15-16).” Bagi saya, Yesus terlibat dalam penderitaan dan kelemahan manusia, termasuk penderitaan dan kelemahan kita saat ini karena Covid 19.

Karena itu, sebagai pengikut Yesus, tepatlah bila kita tak hanya mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan menjaga stamina tubuh masing-masing. Kita juga perlu berdoa dengan tekun memohon campur tangan Tuhan Yesus seperti yang tertulis pada ayat 16 bacaan kedua hari ini, “Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Itulah yang telah kita lakukan sejak Covid 19 mengacaukan dunia. Para pengikut Kristus mulai dari bapa suci Paus Fransiskus dan semua umat beriman bersatu hati dalam doa agar Yesus menyembuhkan dunia ini dari wabah Corona. Kita semua telah menghampiri takhta kasih karunia dan memohon dengan tekun agar mendapat pertolongan dari Yesus pada waktunya.

Apakah Tuhan Yesus sudah mendengarkan aneka doa kita anak-anak-Nya? Saya merenungkan, Tuhan Yesus mendengarkan doa-doa kita. Ia telah memberikan pertolongan kepada kita. Sayangnya kita kurang menyadarinya. Saat ini memang Virus Corona belum lenyap dari muka bumi. Akan tetapi saya melihat banyak hal positif yang muncul di tengah wabah ini. Bagi saya Yesus telah hadir dalam diri orang-orang baik yang rela berkorban untuk menyembuhkan dunia ini. Yesus hadir dalam diri pemerintah, pelayan kesehatan (dokter, perawat dan timnya), para ilmuwan yang telah bekerja keras untuk menemukan vaksin dan telah mulai digunakan saat ini, relawan-relawati (kelompok dan indvidu), lembaga-lembaga internasional, agamawan-agamawati (pemimpin dan umat), lembaga-lembaga amal, LSM, perusahaan yang dengan penuh kasih melakukan aneka aksi kemanusiaan untuk pencegahan dan pengobatan  dalam rangka mengatasi wabah ini. Dengan pelbagai cara dan bentuk aksi, pihak-pihak ini telah menjadi ‘kaki-tangan’ Yesus saat ini. Yesus juga hadir dalam diri warga masyarakat yang taat pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah demi memutuskan mata rantai penyebaran virus ini.

Menurut saya, saat ini  juga sedang bertumbuh subur solidaritas global (kepedulian yang mencakup seluruh dunia) yang barangkali belum pernah terjadi sebelumnya. Betapa tidak, hampir semua orang bersatu mengatasi penderitaan yang disebabkan Covid-19. Sangat mengagumkan! Rupanya virus ini telah mendidik manusia zaman ini yang cenderung individualis (tak peduli dengan orang lain) agar membangun persekutuan global demi kebaikan bersama. Virus ini mendidik manusia zaman ini yang sering sombong membanggakan harta, pangkat, kenikmatan dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tapi tak berdaya berhadapan dengan sesuatu yang tak kasat mata bernama Covid-19! Ia mendidik manusia zaman ini agar hidup dalam persekutuan, bergandengan tangan dan tak hanya memikirkan diri sendiri.

Virus ini juga mengajak semua manusia untuk semakin mengakui keagungan Sang Pencipta dan kemahakuasaan-Nya dan percaya pada penyenggaraan-Nya atas dunia ini. Barangkali karena kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan tekhnologi, selama ini aspek ini terabaikan. Kini, saya duga, selain menempuh jalur manusiawi mengatasi virus ini, semakin banyak  juga orang yang mencari perlindungan pada Tuhan. Tentu masih banyak hal positif lain yang tumbuh di tengah wabah ini.

Sebagai pengikut Yesus, saya mengakui, semuanya ini juga karya Sang Tangan Tersembunyi (the invisible hand) bernama Yesus. Ia terlibat dalam jeritan dan tangisan dunia saat ini. Syukur kepada-Mu, Tuhan Yesus! Saya selalu yakin, Tuhan Yesus sangat bangga dengan hal-hal positif yang muncul di tengah situasi penderitaan ini. Karena itu, saya juga sangat percaya, virus Corona ini akan berlalu. Wabah ini akan berlalu. Kapan? Pada waktunya Tuhan! Waktu Tuhan selalu yang terbaik. Bukan waktu manusia. Itulah cara saya merenungkan situasi penderitaan saat ini dari sudut pandang iman kristiani.***

Salam Jumat Agung!

 

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,547FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini