Sejarah Gereja Katolik Timur Bag. IV, Katolik Syria (Tradisi Antiokhia)

0
660

Katolik Syria

Kepatriarkhan Anthiokhia adalah Gereja yang berdasarkan tradisi dan didirikan oleh Santo Petrus dan Paulus sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul XI. Didalam pasal tersebut juga tertulis bahwa “Di Antiokhialah murid-murid itu disebut Kristen”. Santo Evodius adalah Uskup Antiokhia yang memegang suksesi Apostolik sampai tahun 66 Masehi, kemudian dilanjutkan oleh Santo Ignatius dari Antiokhia.

Kepatriarkhan Antiokhia yang berlandaskan tradisi Santo Petrus dan Paulus dimiliki oleh sejumlah Gereja Katolik Timur: diantaranya, Patriarkhat Melkit, Patriarkhat Maronit dan Patriarkhat Syria.
Pada Abad ke-5 Gereja Syria kemudian berpisah dari Gereja Kalsedonian (Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur) mengikuti jejak Gereja Koptik dan membentuk Gereja Orthodox Oriental yang menolak Konsili Kalsedon. (Lihat catatan sebelumnya : “ SEJARAH GEREJA KATOLIK TIMUR Bag.III Katolik Koptik “).

Sementara itu, di lain tempat, Kepatriarkhat Melkit dan Maronit justru menerima Konsili Kalsedon, dengan Kepatriarkhat Melkit termasuk dalam Orthodox Timur, sementara Katolik Maronit tidak pernah memutuskan hubungan dengan Takhta Suci Roma.

Setelah perpisahan ini, Gereja Syria melanjutkan untuk mengakui Patriarkh Severus dari Antiokhia sebagai pemimpin takhta Apostolik yang sah.

Usaha-Usaha Persatuan Dengan Paus Roma

Selama masa Perang Salib, terdapat banyak peristiwa antara Katolik dan Uskup-uskup Orthodox Syria yang mencoba menjalin hubungan. Setelah itu, pada abad ke-15 pula lahir suatu dekrit persatuan antara Orthodox Syria dengan Gereja Katolik di Konsili Florens. Tetapi, kedua peristiwa tersebut tidak membuahkan hasil apapun.

Satu abad setelah itu, muncul misi dari para Yesuit dan Kapusin di Aleppo, dan kali ini banyak dari orang Syria yang masuk kedalam komuni dengan Roma.

Ketika Kepatriarkhan Orthodox Syria sedang kosong, hal ini membuka kesempatan bagi pihak partai Katolik untuk mengangkat Patriarkh baru. Hal ini memicu perpecahan. Namun, setelah beberapa suksesi Kepatriarkhan Katolik Syria berlangsung, dan kemudian Patriarkh yang terakhir mangkat pada tahun 1702, Kepatriarkhan Katolik Syria musnah.

Pemerintahan Utsman mendukung Orthodox Oriental memojokkan Katolik. Sepanjang abad ke-delapan belas, Umat Katolik Syria mengalami rupa-rupa penganiayaan dan penindasan. Ada masa dimana kursi Uskup kosong untuk waktu yang lama, dan persekutuan Katolik Syria terpaksa menjadi gereja bawah-tanah.

Patriarkh Orthodox Mengaku Katolik

Meskipun Kepatriarkhan yang diusahakan oleh partai Katolik gagal, ternyata Roh Kudus menghendaki hal yang lain. Usaha-usaha manusia dan jalan-jalannya yang dipandang baik tidak dapat menyamai rancangan Allah yang Mahabaik dan sempurna.

Pada tahun 1782, Sinode Kudus Orthodox Syria menunjuk Metropolitan (Uskup Agung) Jarweh dari Aleppo sebagai Patriarkh terpilih. Tidak lama setelah menduduki takhta, dia sekonyong-konyong mendeklarasikan diri sebagai Katolik. Akibatnya, dia harus mencari perlindungan di Libanon dan membangun Biara Santa Perawan dari Sharfeh yang tetap berdiri.
Setelah Patriarkh Jarweh, berlanjutlah suksesi yang tidak terputus-putusnya dari Kepatriarkhan Katolik Syria sampai sekarang ini.

Pada tahun 1829, pemerintah Turki menganugerahkan pengakuan resmi kepada Gereja Katolik Syria dan Takhta Kepatriarkhan ditetapkan di Aleppo pada tahun 1831. Aktivitas misi Katolik kembali dilangsungkan. Oleh sebab komunitas Kristen di Aleppo jatuh kedalam penganiayaan, Kepatriarkhan dipindahkan ke Mardin (Turki Selatan) pada tahun 1850.
Perluasan penyebaran Katolik Syria diantara Orthodox Syria kemudian dihentikan pada saat Perang Dunia I. Pada awal 1920, Takhta Suci Kepatriarkhan Katolik Syria berpindah ke Beirut, dimana banyak Umat Katolik Syria lari.

Pada Masa Kini

Meskipun Para Imam Katolik Syria dibebankan untuk selibat sesuai dengan yang terjadi dalam Sinode Sharfeh tahun 1888, pada saat ini banyak Imam yang ditahbiskan sudah menikah.

Bahasa utama saat ini adalah bahasa Arab, meskipun bahasa Syria masih tetap dituturkan di beberapa dusun di Syria Timur dan Irak Utara.

Liturgi Syria mengutamakan bahasa Syria (juga disebut bahasa Aram) dan menggunakan rumusan Liturgi Santo Yakobus, Rasul dan berpusat pada bagian Anafora Keduabelas Rasul.
Ikonografi dalam Katolik Syria memiliki akar yang sama dengan Gereja-gereja lain, yaitu berasal dari Ikon yang tak dibuat oleh tangan dari Edessa dan Ikon Theotokos yang dibuat oleh Santo Lukas, Penginjil. Ikonografi Syria mengalami penyederhanaan yang prosesnya hampir sama dengan yang terjadi dalam Gereja Koptik.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289