Sejarah Reformasi Martin Luther: dari Protes menuju Pemisahan

0
4859
plugrafico / Pixabay

Martin Luther adalah seorang biarawan dari Ordo Agustinus, yang cukup kritis pada zamannya. Sekali waktu ia protes terhadap salah satu kalimat dari perkataan Johann Tetzel, seorang pengkhotbah dari Ordo Dominikan.

Tetzel membuat sebuah pantun yang kemudian disalah-mengerti oleh Martin Luther.  Bunyi pantunnya begini: “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Pantun tersebut oleh Martin Luther dianggap sebagai bagian dari penjualan Surat Pengampunan dosa.

Tuduhan yang dilontarkan oleh Martin Luther itu tentu saja tidak benar karena tidak pernah ada yang namanya penjualan Surat Pengampunan Dosa. Memang, tema yang diangkat saat itu adalah derma (Mat. 6:2); dan uang pemberian itu digunakan untuk membangun basilika. Tapi, yang namanya menyumbang atau memberi kolekte itu tidak sama dengan membayar pengampunan dosa.

Martin Luther mungkin melihat adanya potensi penyelewengan terhadap ucapan Tetzel tersebut, makanya ia protes kepada Uskup Agung Albert dari Mainz. Protes yang diajukan oleh Martin Luther ini merupakan awal perubahan Gereja yang pada masa itu dapat dikatakan sedang berada dalam keadaan ‘gelap’.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu ada penyelewengan dari oknum-oknum tertentu, namun tentu saja hal semacam itu bukanlah ajaran dari Gereja Katolik. Maka, keliru besar jika kesalahan satu oknum digeneralisir menjadi kesalahan seluruh Gereja. Lagi pula, kejadian yang dilakukan Tetzel hanya terjadi di Jerman, dan bukan di segala tempat.

Ada beberapa tanggapan berkaitan dengan reformasi yang dilakukan Martin Luther, antara lain: pertama, ia hampir membuang Surat Yakobus dan Kitab Wahyu. Ia beranggapan bahwa kedua kitab tersebut merupakan ‘Kitab Jerami’ alias palsu. Padahal, jika kita mau jujur,  alasan di balik penolakan Martin Luther terhadap Surat Yakobus sederhana saja, yaitu karena konsep sola fide dan sola gratia yang dicetuskannya bertentangan dengan isi Surat Yakobus. Karenanya ia menyebut Surat Yakobus sebagai ‘Kitab Apocrypha‘, seperti halnya Kitab Wahyu.

Kedua, Martin Luther tidak pernah berniat mendirikan ribuan aliran melainkan hanya pembaharuan dari dalam. Sayangnya, ia kebablasan karena mengikuti anjuran politis bangsawan Jerman, yang pada masa itu membuat propaganda bahwa Vatikan akan menguasai Jerman dalam bidang politik dan ekonomi.

Martin Luther tidak pernah berpikir jika reformasi yang ia buat akan berakibat seperti sekarang, dengan ribuan aliran, sampai-sampai ada aliran yang justru menolak ajaran-ajarannya.

Ketiga, Martin Luther menghilangkan 7 Kitab Perjanjian Lama yang sudah dipakai sejak abad pertama; bahkan sudah sering dikutip oleh rasul-rasul. Salah satu kitab yang tidak mendukung konsep tri-sola dari Martin Luther adalah Kitab 2 Makabe, di mana isinya berbicara tentang mendoakan orang mati.

Martin Luther merasa bahwa ketujuh kitab tersebut tidaklah kanonik. Padahal, kitab-kitab tersebut sudah masuk ke dalam Kanon Kitab Suci Umat Kristiani sejak abad ke 3, dan merupakan bagian dari Perjanjian Lama.

Meskipun Martin Luther tidak mengakuinya sebagai kanonik, ia toh tetap menyertakan ketujuh kitab itu ke dalam daftar Alkitab yang ia terjemahkan. Ia beralasan bahwa kitab-kitab itu hanya layak dibaca saja. Menurut penjelasan di portal Katolisitas, baru sekitar tahun 1827 the British and Foreign Bible Society mencoret dan membuang ke-7 kitab itu dari daftar isi kitab mereka.

Keempat, Martin Luther membuat ajaran ‘sola scriptura’ yang sesungguhnya bertentangan dengan Alkitab. Sola artinya ‘hanya’ dan Scriptura artinya Alkitab. Padahal, Paulus sendiri pernah berkata: “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” ( 2 Tes 2:15). Jadi, tidak semua hal tercatat di dalam Alkitab (bdk. Yoh. 21:25).

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289