Solidaritas Berlandaskan Kasih

1
169

Yang namanya manusia, pasti pernah menderita. Ini tak dapat disangkal oleh siapapun.  Penderitaan itu bagian dari hidupnya. Yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain hanyalah jenis penderitaan, kapan penderitaan datang dan berakhir, berapa berat penderitaan, penyebab penderitaan dan sebagainya.

Penderitaan yang adalah bagian dari hidup manusia itu datang tanpa diundang. Yang diundang (dirindukan) itu hanya kegembiraan dalam segala hal. Tetapi berhubung penderitaan itu  bagian dari hidup manusia, jika ia datang, seharusnya tidak perlu dihindari. Tak perlu lari dari penderitaan. Sebagaimana manusia menerima kegembiraan, begitu pula  ia menerima penderitaan.  Toh ia bagian dari hidup manusia. Ia seharusnya menjadi sahabat manusia, walau bukan sahabat yang didambakan.

Menerima penderitaan itu artinya kalau ia datang, manusia perlu menghadapinya dengan tenang dan tanpa panik berlebihan, apalagi berusaha lari darinya. Kalau tidak tenang, mudah panik dan berusaha lari darinya, yang terjadi adalah penderitaan semakin hebat. Akibatnya, manusia kewalahan menghadapinya. Tapi kalau tetap tenang, tidak mudah panik, tidak melarikan diri, penderitaan pasti bisa diatasi. Ketenangan membuat manusia menerima penderitaan sebagai bagian dari hidup. Ketenangan juga membuat manusia bertahan dalam penderitaan sambil tetap mencari solusi terbaik dan bijak untuk mengatasi penderitaan. Solusi terbaik hanya ditemukan dalam ketenangan batin.

Penderitaan karena Corona

Saat ini, semua manusia di dunia sedang menghadapi penderitaan karena virus Corona. Sudah lebih dari seratus ribu manusia  meninggal dunia. Ratusan ribu lainnya terinfeksi dan sedang dalam perawatan. Yang lain lagi sudah sembuh.

Bila membandingkan jumlah yang terinfeksi dengan jumlah manusia di dunia secara keseluruhan, memang yang terinfeksi itu terbilang sedikit. Sebagian besar manusia belum terinfeksi virus ini. Tetapi karena manusia adalah makhluk sosial dan menjadi bagian dari persaudaraan global (saudara dalam kemanusiaan), maka semua manusia saat ini sedang menderita. Semua manusia  turut merasakan penderitaan. Ini penderitaan bersama umat manusia. Belum lagi penderitaan karena dampaknya yang sangat besar bagi dunia. Segala sendi kehidupan (ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan, dll) manusia terganggu. Ancaman kelaparan di depan mata, juga ancaman kekacauan ekonomi, sosial-politik-budaya.

Bagaimana dunia menghadapi penderitaan karena virus Corona? Sesungguhnya sudah banyak hal yang dilakukan untuk mengatasi penderitaan ini. Selain warga dunia  diminta agar tetap tenang dan tak panik, aneka kebijakan setiap negara, kebijakan dunia internasional (melalui PBB, misalnya) dan kebijakan lembaga agama dan lembaga kemanusiaan telah menunjukkan upaya serius menghadapi  Corona. Para ilmuwan juga telah dan  sedang berjuang keras meneliti virus ini agar bisa menemukan vaksin atau obat penangkalnya. Para pemeluk agama juga berdoa siang-malam memohon bantuan Yang Ilahi agar penderitaan ini bisa diatasi dengan baik.

Solidaritas Bertumbuh Subur

Salah satu hal mengagumkan di seluruh dunia pada saat penderitaan karena Corona ini adalah bertumbuh suburnya solidaritas global. Anak-anak manusia di setiap negara bahkan lintas negara saling mendukung satu sama lain melalui perbagai cara. Ada yang saling mendukung dengan memberikan peneguhan agar tetap tenang, tetap mengikuti petunjuk kesehatan, taat pada aturan pemerintah; ada juga gerakan doa bersama di seluruh dunia menurut agama dan aliran kepercayaan masing-masing, ada yang saling menyumbangkan kebutuhan pokok (makanan, minuman), juga obat-obatan dan APD (Alat Pelindung Diri). Masih banyak  bentuk solidaritas global lainnya. Belum lagi cerita heroik para pelayan kesehatan (dokter, perawat, petugas Rumah Sakit, dll) dan relawan/ti yang berkorban untuk sesamanya, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.

Pada titik ini, saya semakin mengamini bahwa penderitaan karena Corona ini memang tak dirindukan, tetapi di baliknya ada sejumlah nilai-nilai kehidupan bertumbuh subur. Virus Corona menghidupkan kembali aneka keutamaan, antara lain: solidaritas, belas kasihan, pengorbanan, keberanian dan kesetiaan, yang barangkali selama ini sudah mulai memudar karena kemajuan ilmu pengetahuan  dan tekhologi yang secara langsung atau tidak langsung menyingkirkan atau mengabaikan aneka keutamaan tersebut. Corona mendidik manusia tentang apa artinya peduli kepada sesama dan lingkungan, apa artinya pengorbanan, apa artinya belas kasihan. Corona menghardik manusia yang sering memikirkan hanya dirinya sendiri agar segera melihat sesama dan segera melakukan sesuatu yang positif.

Solidaritas Berlandaskan Kasih

Pada bagian akhir tulisan sederhana ini, saya ingin bercerita sekilas tentang penderitaan karena Corona di Labuan Bajo, tempat saya tinggal. Sampai saat ini, sudah 14 orang yang terinfeksi virus Corona (positif Corona) dan sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Komodo. Puluhan atau lebih dari seratus orang lainnya sedang dalam pengawasan pihak kesehatan (status ODP, PDP).

Walaupun jumlah ini belum terbilang banyak, tetapi dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat di sini. Selain dampak psikis (tidak tenang karena takut tertular), banyak juga yang kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja lagi. Semua orang diminta tetap di rumah, jika tak ada keperluan penting dan mendesak di luar. Banyak pekerja hotel yang dirumahkan. Banyak juga para  pelaku dan pemandu wisata serta pelaku bisnis yang berdiam diri. Belum lagi para buruh pelabuhan, bandara dan tempat-tempat lainnya yang tidak bisa bekerja. Dan sebagainya.  Singkatnya, penderitaan karena Corona telah sungguh-sungguh dirasakan di sini.

Dalam situasi penderitaan ini, saya kagum dengan aneka bentuk solidaritas  yang bertumbuh subur di sini. Ada banyak pihak  (pemerintah, TNI-POLRI, swasta, LSM, relawan, agama, dll) yang telah dan sedang melakukan macam-macam hal agar penderitaan karena Corona ini bisa teratasi dengan baik. Ada yang berbagi APD (masker, cairan pembersih tangan, obat-obatan, dll); ada juga yang berbagi kebutuhan pokok (sembako). Ada juga yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk sekadar mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Dan sebagainya.

Saya secara istimewa tertarik menceritakan sekelompok anak muda, yang sejak terbentuk di Labuan Bajo tahun 2017 silam, beberapa kali  mereka melakukan aksi solidaritas kemanusiaan yang mengagumkan. Kelompok anak muda ini bernama Komunitas Sant’Egidio (KSE). Anggotanya adalah  muda-mudi yang sudah bekerja (pegawai, swasta) dan beberapa anak SMA.

Penderitaan karena Corona yang menimpa dunia, khususnya Labuan Bajo, turut menumbuhkan solidaritas dalam komunitas anak muda ini agar perlu melakukan sesuatu. Selain berdoa agar penderitaan ini bisa diatasi dengan baik, mereka melakukan aksi solidaritas yang nyata. Yang terbaru,  dalam kerja sama dengan beberapa donatur, mereka membagikan sejumlah masker kepada anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan  milik para bruder MOP (Missionaries of the Poor) dan panti lansia milik komunitas suster Kkottongnae, Labuan Bajo.

Selain itu, mereka juga memberikan bantuan berupa beras (8-10 kg) dan satu papan telur ayam kepada 30 keluarga yang tinggal di bukit Klumpang (di samping SMKN 1 atau di dekat rumah jabatan bupati dan wakil bupati Mabar). Mereka tinggal di rumah sederhana yang mereka bangun di atas tanah orang (seizin pemilik tanah). Jika nanti pemilik tanah akan membangun sesuatu, mereka harus pergi, entah ke mana.

Sebagian besar keluarga ini berasal dari Sumba. Ada juga beberapa keluarga yang berasal dari Manggarai. Mereka tidak mempunyai KTP Labuan Bajo; karena itu tidak (berhak) mendapatkan bantuan  dari pemerintah setempat. Pekerjaan mereka  sehari-hari adalah pemecah batu. Mereka juga turut merasakan dampak Corona (sedikit sekali orang yang mencari atau membeli batu). Kepada mereka inilah, anak muda KSE berbagi, walau tak seberapa.

Apa yang menjadi landasan solidaritas anak-anak muda KSE Labuan Bajo? Tak lain adalah kasih. Inilah inti ajaran Yesus yang mereka hayati. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39).

Allah adalah kasih. Ia menciptakan manusia karena kasih. Kasih-Nya itu gratis. Manusia hanya perlu menanggapi kasih-Nya dengan berjuang mengasihi-Nya secara tulus dan juga mengasihi sesama seperti diri sendiri. Mengasihi Allah tak terpisahkan dengan mengasihi sesama. Orang tidak bisa mengasihi Allah kalau ia tak mampu mengasihi sesamanya.

Hukum kasih ini juga diwartakan dengan sangat indah oleh Yohanes. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:7-8).

Inilah yang menggerakkan hati anak-anak muda KSE terus mengasihi dengan berbagi. Karena mereka berasal dari Allah, lahir dari Allah, mengenal dan mengimani Allah yang penuh kasih, maka mereka  berjuang mengasihi Tuhan (melalui Ekaristi, doa, baca Kitab Suci, dll) dan mengasihi sesama (mengunjungi lansia di komunitas suster Kkottongnae, satu kali seminggu bermain bersama anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan MOP, berbagi dengan sesama yang berkekusahan, dll.).

Karena landasannya adalah kasih, maka aksi solidaritas anak-anak muda ini jauh dari niat untuk mempromosikan diri sendiri, mencari pujian-sanjungan atau penghargaan tertentu dari pihak lain. Mereka tak pernah berniat mencari pujian dari siapapun. Bagi mereka, solidaritas ini, meski kecil, merupakan panggilan jiwa yang sedang dihayati dengan ketulusan. Ini juga cara mereka menghayati hukum kasih yang diajarkan Yesus.

Mereka juga yakin dan sadar bahwa bantuan ini, meski kecil, tapi sangat berguna (berarti) bagi yang sangat membutuhkannya. Kata-kata emas Santa Teresa dari Kalkuta  mengispirasi mereka, “Lakukanlah hal-hal kecil, tetapi dengan kasih yang besar.” Artinya, lakukan semuanya itu dengan ketulusan tanpa pamrih.

Anak-anak muda ini sedang berjuang memberi arti bagi hidup mereka yang fana dan sementara ini. Bagi mereka, menjadi berkat atau penyalur kebaikan Tuhan bagi sesama itu panggilan dasariah yang perlu dihidupi sepanjang ada di dunia ini. Bukankah hidup ini adalah kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama, bukan kutuk? Dan kesempatan untuk menjadi berkat itu tak datang dua kali, tak perlu juga tunggu esok. Sebab, bisa saja esok itu tak pernah datang.

Komunitas Sant’Egidio (KSE) adalah komunitas awam Katolik yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang anak muda Italia berusia 18 tahun bernama Andrea Ricardi. Tampak bahwa misi pembaruan yang dihembuskan Konsili Vatikan II (1962-1965) dipahami dengan sangat baik oleh Andrea. Pemahaman yang baik itu ditandai dengan keberaniannya membangun KSE. Komunitas ini memiliki beberapa pilar, antara lain Doa, Orang Miskin, Damai, Injil, Hidup Berkomunitas dan Dialog. Pilar-pilar ini tak terpisahkan satu sama lain. Saat ini, KSE sudah berkembang di 90 kurang lebih 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Labuan Bajo, KSE dibentuk pada 6 Mei 2017. Dengan demikian, saat ini KSE Labuan Bajo berusia 3 tahun dan beranggotakan puluhan anak muda (pegawai, swasta, beberapa anak SMA). Spirit Sant’Egidio!***

 

Labuan Bajo, 22 Mei 2020

 

 

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.