Leonardo DiCaprio dan Laudato Si’

1
95

Apa hubungan Leonardo DiCaprio dengan Laudato Si? Barangkali ini pertanyaan Anda ketika membaca judul tulisan ini. Tak apa. Itu pertanyaan yang baik. Kali ini saya memang mau menulis tentang ‘hubungan’  Leonardo DiCaprio dengan Laudato Si.

Bagi Anda penyuka film atau penyuka berita dunia hiburan, Leonardo DiCaprio pasti  bukan tokoh asing. Anda sering membaca atau menyaksikan kiprahnya.  Aktor terkenal Amerika Serikat berdarah Italia-Jerman, kelahiran Los Angeles, 11 November 1974 ini, masuk dalam jajaran aktor papan atas dunia. Ia terkenal tidak saja karena kepiawaiannya dalam dunia peran (film), tetapi juga karena wajahnya yang rupawan. Penampilannya memukau. Hampir semua orang yang menyaksikannya pasti terpikat-terpukau.

Salah satu penampilan Leonardo yang fenomenal adalah perannya dalam film Titanic, film terkenal itu. Dalam film itu, nama peran Leonardo adalah Jack Dawson. Lawan mainnya adalah Kate Winslet (nama peran: Rose DeWitt). Film bernuansa epik, roman dan bencana yang menimpa Amerika Serikat ini disutradarai oleh James Cameron. Film yang diproduksi  tahun 1997 di Amerika dan dirilis  5 Januari 1998 di Indonesia ini menjadi film terlaris sepanjang masa. Suksesnya film Titanic ini tak terlepas dari kepiawaian Leonardo DiCaprio dalam bermain peran.

Akan tetapi, saya tidak  hendak mengulas panjang lebar tentang film Titanic ini. Fokus saya adalah Leonardo DiCaprio. Lebih tepatnya, saya hendak melihat sekilas sisi lain dari Leonardo. Sisi lain yang saya ulas ini, bagiku, sangat menarik dan menyentuh hati. Apakah itu? Kepeduliannya akan lingkungan hidup. Perhatiannya yang serius akan keberlangsungan kehidupan di bumi ini tak diragukan lagi. Apa yang dilakukannya? Berikut ini akan saya ulas.

Rupanya aktor Holywood yang akrab disapa Leo ini sejak muda sudah peduli dengan masalah lingkungan hidup. Ia selalu merasa sedih ketika ada spesies yang punah akibat ulah manusia.  Ia juga gerah dengan aneka kerusakan lingkungan hidup dan pemanasan global yang terus dirasakan. Baginya, aneka hal tak diinginkan itu penyebabnya adalah keserakahan manusia.

Kepedulian Leo terhadap isu lingkungan diperkuat ketika ia bertemu Albert Arnold Gore Jr atau Al Gore,  Wakil Presiden ke-45 AS di masa  pemerintahan Bill Clinton. Rupanya Al Gore adalah tokoh penting yang terus menyerukan pentingnya pelestarian lingkungan  hidup. Leo berkisah tentang perjumpaannya dengan Al Gore.

“Waktu itu, usiaku 20-an tahun, saya bertemu dengannya (Al Gore) di Gedung Putih. Dia memintaku untuk duduk, lalu menggambar planet kita, bumi, beserta atmosfernya. Lalu dia berkata bahwa ini (pemanasan global) adalah krisis paling penting bagi kehidupan manusia. Sejak saat itu, saya tidak hanya terpesona dengan isu tersebut, tetapi benar-benar cemas mengapa kita sebagai masyarakat dunia tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengurangi pemanasan global” (Media Indonesia, 13/9/2016).

Perjumpaan ini menjadi langkah awal serius ziarah hidup aktor terkenal ini dalam perjuangan melestarikan lingkungan hidup. Untuk mengkristalkan perjuangannya ini, tahun 1998 ia mendirikan yayasan “Leonardo DiCaprio Foundation”,  yayasan yang aktif berkampanye tentang pelestarian lingkungan.  Melalui lembaga ini, Leonardo bersama timnya melakukan banyak hal untuk menyelamatkan bumi dan memulihkan lingkungan hidup yang telah rusak.

Ketika menerima Piala Oscar perdananya pada 29 Februari 2016 yang lalu karena perannya dalam film The Revenant, pidato kemenangannya adalah tentang lingkungan hidup. “The Revenant ialah hubungan seorang dengan alam. Perubahan iklim itu nyata. Itu terjadi pada saat ini, ancaman paling serius yang species kita hadapi. Kita perlu bersama-sama bekerja dan berhenti menunda-nunda. Mari jangan tidak peduli dengan planet kita.” Begitu bunyi pidatonya yang memukau dari panggung Piala Oscar dan didengarkan oleh banyak orang di seluruh dunia, sebagaimana dikutip oleh Media Indonesia (MI, 13/9/2016).

Pada tahun 2019, Leo juga meluncurkan organisasi peduli lingkungan bernama, Earth Alliance. Ia juga menyatukan “Leonardo DICaprio Foundation (1998)” dengan Earth Alliance.  Kali ini ia berkolaborasi dengan  milarder Laurene Powell Jobs dan Brian Sheth. Dengan demikian, komitmen Leo untuk menyelamatkan lingkungan hidup semakin didukung banyak orang.

Dalam perjuangannya, Leo tak hanya berkampanye tentang bagaimana menyelamatkan bumi, tapi juga aktif memberikan sumbangan dana untuk proyek-proyek konservasi alam dan pemanasan global.  Sebagai contoh, pada Agustus 2019,  saat terjadi kebakaran hutan Amazon, Leonardo menyumbangkan dana sekitar Rp 71 miliar untuk mengatasi kebakaran ini (Detik.com/27/8/2019). Yayasan ini juga rupanya menyumbangkan dana  tidak hanya untuk  pelestarian  lingkungan di wilayah Amerika, tetapi seluruh dunia yang sedang mengalami masalah lingkungan. Misalnya, pada Februari 2016, Leonardo melalui yayasannya menyumbangkan uang sekitar Rp 90 miliar untuk pelestarian hutan di Sumatera (Bangka.tribunnews.com/4/2/2016). Atau, melalui yayasan barunya yang didirikan tahun 2019, Earth Alliance,   Leonardo menyumbangkan dana sebesar Rp 41,2 Miliar untuk membantu pemadaman kebakaran hutan di Australia (Kompas.com/10/1/2020).

Masih banyak contoh lainnya tentang betapa pedulinya Leonardo DiCaprio dengan pelestarian lingkungan hidup. Tampak bahwa penghasilannya dari dunia peran (film, iklan, dll), digunakannya untuk misi penyelamatan bumi. Dengan demikian, ia telah bekerja untuk keselamatan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini; tidak hanya berjuang untuk diri atau kelompoknya. Ini misi yang mulia.

Leonardo dan Laudato Si’

 Kepedulian Leonardo DiCaprio terhadap pelestarian  lingkungan hidup diperkuat oleh keberaniannya membangun dialog dengan pelbagai pihak (negara, agama, LSM, dll). Dialog itu tentu saja tentang bagaimana bersikap terhadap lingkungan, kebijakan apa yang harus segera dibuat dan langkah apa yang perlu untuk memulihkan kembali lingkungan yang rusak dan apa langkah antisipatif yang harus segera diambil saat ini. Dialog yang intensif ini menunjukkan keseriuan Leonardo pada isu pelestarian bumi-lingkungan hidup.

Saya secara khusus menyoroti perjumpaan (dialog) Leonardo dengan Paus Fransiskus yang berlangsung pada  28 Januari 2016, di Vatikan (Mirificanews/30/1/2016). Yang mereka dialogkan dalam perjumpaan itu adalah isu lingkungan hidup (pemanasan global, perubahan iklim, kebakaran hutan, dll). Itulah tema yang menjadi perhatian serius Leonardo sejak masa muda dan sampai saat ini telah terlibat aktif di dalamnya. Maksudnya, ia terlibat aktif melestarikan lingkungan hidup dan mengatasi pelbagai kerusakan yang terjadi di pelbagai belahan bumi.

Di pihak lain, Paus Fransiskus juga memiliki kepedulian yang sangat serius dengan pelestarian lingkungan hidup. Selain melalui seruan lisan dalam pelbagai kesempatan tentang pentingnya merawat bumi, Paus Fransiskus juga secara mendalam dan mengagumkan, menulis ensiklik terkenal tentang Lingkungan Hidup,  bernama Laudato Si’. Ensiklik ini diluncurkan pada 24 Mei 2015.

Melalui ensiklik Laudato Si’ (LS) ini, Paus Fransiskus secara panjang lebar berbicara tentang lingkungan hidup dari pelbagai aspek (Kitab Suci, Tradisi, ajaran Gereja, ilmu sosial, teknologi, dll). Ia secara khusus menyebut bumi sebagai “Rumah Kita Bersama.” Rumah ini pada awal diciptakan oleh Tuhan, baik-baik saja. Kini sudah rusak parah. Yang membuatnya rusak tak lain adalah manusia.  Karena itu, manusia harus bertanggung jawab memulihkannya.

Paus menyebutkan bahwa tindakan tak bertanggung jawab yang dilakukan manusia terhadap lingkungan adalah dosa. “Kejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap diri kita sendiri dan dosa terhadap Allah” (LS 8). Untuk itu, manusia perlu melakukan pertobatan ekologis. Pertobatan jenis ini diwujudkan tidak hanya memohon ampun dari Allah atau meminta maaf kepada alam, tetapi terutama adalah segera melakukan aneka tindakan konkret untuk memulihkan kerusakan alam dan mencegah pelbagai kerusakan berikutnya. Hal ini bisa dilakukan jika ada kerja sama yang baik dari semua pihak di bumi ini.

Ensiklik yang mengagumkan ini, rupanya semakin menyadarkan manusia saat ini tentang apa yang terjadi dengan bumi ini. Ensiklik ini menggerakkan hati banyak orang, tidak hanya orang Katolik, tetapi juga orang non Katolik, tentang perlunya mengambil langkah cepat dan tepat untuk memulihkan kembali bumi sebagai “Rumah Bersama” semua makhluk agar tetap layak huni dan mencegah kehancuran yang lebih besar di saat selanjutnya. Manusia saat ini harus berjuang merawat bumi agar mewariskan bumi yang baik; bumi yang layak huni dan ramah kepada generasi berikutnya.

Saya sesungguhnya mau menggarisbawahi bahwa Leonardo DiCaprio adalah salah seorang yang tersentuh hatinya oleh Ensiklik Laudato Si’. Barangkali aneka pemikiran Paus Fransiskus yang tertuang dalam ensiklik ini meneguhkan perjuangan Leonardo dalam merawat bumi selama belasan tahun dan juga mendorongnya untuk semakin bersemangat menyelamatkan bumi pada waktu selanjutnya. Mungkin juga Leonardo merasa bahwa ensiklik Laudato Si’ telah “mengesahkan” perjuangannya:   Memelihara dan merawat bumi adalah tindakan yang tepat. Ia merasa dihargai dan didukung untuk terus bermisi menyelamatkan bumi.

Setelah dialog penuh kasih, yang kira-kira berlangsung 15 menit ini, Paus Fransiskus dan Leonardo DiCaprio saling memberikan kenangan. Leonardo memberikan buku seni karya pelukis Hieronimus Bosch kepada Paus Fransiskus; sebaliknya Paus Fransisus memberikan sebuah jilid Ensiklik Laudato Si’ dan sebuah medali kepada Leonardo.  Tentu ini bentuk dukungan agar keduanya tetap tak gentar berjuang dan mempengaruhi dunia untuk menyelamatkan lingkungan hidup; memulihkan bumi sebagai “Rumah Bersama” semua makhluk.

Esok, 24 Mei 2020, Ensiklik Lingkungan Hidup, Laudato Si’  karya Paus Fransiskus berusia lima (5) tahun. Sudah lima tahun Paus Fransiskus melalui ensiklik ini menginspirasi dunia tentang pentingnya merawat bumi. Leonardo DiCaprio hanya salah satu contoh. Semoga semakin banyak manusia di bumi ini yang terinspirasi; terutama semakin banyak yang mencintai-merawat bumi: memulihkan yang rusak dan mencegah agar tak terjadi kehancuran besar di masa depan. Terima kasih Paus Fransiskus, Laudato Si’ dan Leonardo DiCaprio!***

 

Labuan Bajo, 23 Mei 2020

 

 

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.