Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-54

0
26

Hari ini, 24 Mei 2020, Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-54. Perayaan ini menjadi kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk menyadari dirinya sebagai makhluk yang berkomunikasi, baik dengan Tuhan (doa) maupun dengan sesama, bahkan dengan alam ciptaan lainnya. Komunikasi ini perlu terus dibangun secara positif agar mendatangkan kegembiraan dan membangun persekutuan (communio). Komunikasi  memang harus berisi hal-hal positif dalam rangka membangun peradaban kasih di dunia ini.

Hari Komunikasi Sosial ini juga menjadi kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk mensyukuri aneka alat (media) komunikasi sosial baik yang sederhana maupun yang canggih yang bisa didapatkan dengan mudah saat ini. Ini anugerah yang pantas disyukuri. Penciptaan media komunikasi sosial ini pada dasarnya bertujuan memudahkan manusia dalam membangun komunikasi positif.. Sebab dengan media komunikasi canggih, jarak fisik bukan lagi penghalang untuk membangun relasi-komunikasi. Banyak hal yang bisa diselesaikan dengan mudah berkat kemajuan media komunikasi.

Barangkali salah satu contoh yang aktual adalah pemanfaatan media sosial untuk perayaan ekaristi dan aneka doa lainnya (livestreaming) selama masa Covid-19. Umat bisa mengikuti misa atau doa bersama melalui media komunikasi. Di sini terbentuk komunikasi, bahkan terbentuk komunitas virtual. Ada persekutuan kasih di sini, walau tak bisa menggantikan persekutuan kasih yang terbangun melalui perjumpaan pribadi (face to face).

Akan tetapi, kita tak boleh menutup mata bahwa media komunikasi ini bisa disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Oknum-oknum ini memanfaatkan media komunikasi untuk tujuan tertentu yang menguntungkan dirinya, tetapi merugikan orang lain, bahkan membahayakan peradaban kasih. Badai berita bohong (hoax), aneka penipuan dan ujaran kebencian yang tersebar luas di media sosial adalah sebagian contoh penyalahgunaan media komunikasi. Hal-hal ini tentu tak diinginkan, sebab menghancurkan persekutuan atau menciptakan perpecahan dan kekacauan di tengah dunia.

Hari komunikasi sosial ini bertujuan menyadarkan umat beriman agar membagun komunikasi positif dan memanfaatkan media komunikasi sosial secara positif serta menghindari penyalahgunaannya. Hal ini bisa menjadi kenyataan kalau ada kesadaran pribadi dan kontrol yang positif dari sesama atau pihak terkait (keluarga, lembaga pendidikan, agama, pemerintah, dll).

Hidup menjadi Cerita

Pada  hari komunikasi sosial seduia ke-54 tahun ini, paus Fransiskus memfokuskan pesannya pada cerita. Cerita adalah bagian penting dari komunikasi. Cerita juga menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Sebab pada dasarnya, manusia adalah makhluk pencerita. Ia suka bercerita; ia juga suka mendengarkan cerita. Ada banyak juga hal positif yang bisa dipelajari melalui cerita. Cerita yang dimaksudkan di sini adalah cerita positif; cerita yang membangun persekutuan; merekatkan persaudaraan; menumbuhkan peradaban kasih.

Yang diharapkan adalah kita menjadi pencerita yang baik; yang hanya menceritakan hal-hal positif demi membangun persekutuan. Tentu kita juga berharap agar kita membaca atau mendengarkan cerita positif, cerita yang membangun peradaban kasih. Ini penting sekali karena pada saat ini, dunia sedang dikacaukan oleh aneka cerita negatif (hoax, ujaran kebencian, penipuan, dll). Badai cerita negatif ini menghancurkan dunia; menyebabkan perpecahan dan permusuhan dan merenggangkan ikatan persekutuan-persaudaraan. Kenyataan ini sangat menyediahkan dan perlu dipulihkan oleh semua pihak yang berkehendak baik; semua pihak yang mau menyelamatkan peradaban kasih.

Untuk menangkal badai cerita negatif ini, umat beriman perlu kembali kepada Kitab Suci. Bagi Paus Fransiskus, Kitab Suci adalah “cerita dari segala cerita.” Kitab Suci adalah induk segala cerita. Tentu cerita positif. Kitab Suci adalah kitab tentang Allah yang bercerita tentang diri-Nya dan juga cerita tentang manusia yang merefleksikan kasih Allah. Kitab Suci adalah cerita positif tentang Allah yang mengasihi manusia dan tentang manusia yang jatuh-bangun menanggapi kasih Allah.

Puncak dari cerita itu adalah Yesus sendiri. Ia datang ke dunia untuk menceritakan kemuliaan dan kasih Allah. Melalui Yesus, cerita tentang Allah yang penuh kasih itu menjadi hidup dan dirasakan secara langsung. Ia tak hanya pencerita ulung tentang kasih Allah, tetapi juga ia sendiri adalah isi cerita itu. Ia adalah cerita Allah yang hidup dan menghidupkan. Kita percaya pada cerita itu; hidup dari cerita itu dan mewartakan cerita itu kepada sesama.

Karena itu, pesannya jelas: di tengah badai cerita negatif yang sedang mengancam perabadan kasih, umat beriman perlu kembali kepada Kitab Suci, “cerita dari segala cerita itu” atau induk dari segala cerita positif.  Umat beriman perlu membaca, merenungkan dan menghayati “cerita dari segala cerita” itu; juga membagikannya kepada sesama atau anak-cucu. Harapannya,  berkat kedekatan dengan Kitab Suci, umat beriman semakin menjadi pencerita yang positif (tidak ikut menjadi penyebar hoax, fitnah, ujaran kebencian, penipuan, dll). Ia juga perlu selektif membaca dan mendengarkan cerita yang berkembang. Setiap berita yang dibaca atau didengar, perlu diuji (verifikasi) kebenarannya. Ia hanya perlu mendengarkan dan membaca cerita positif. Ini bentuk sumbangan umat beriman dalam membangun peradaban kasih atau merajut persekutuan-persaudaraan. Dengan sendirinya, ia turut membendung laju badai cerita negatif di zaman ini.

Selamat Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-54. Selamat menenun cerita positif dan menjadi pencerita serta pendengar positif. Selamat membaca dan merenungkan (kembali) Kitab Suci, “cerita dari segala cerita” positif.***

Tuhan Yesus memberkati!

 

Labuan Bajo, 24 Mei 2020

 

***

 

Saya melampirkan pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54. Pesan ini saya ambil  dari http:/www.mirificanews.net, website milik KWI.

 

HIDUP MENJADI CERITA

“Supaya Engkau dapat Menceritakan kepada Anak Cucumu (Kel 10:2)”

Saya ingin mengkhususkan pesan tahun ini pada tema “Cerita”, karena saya yakin, supaya tidak tersesat, kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik: cerita yang membangun, bukan yang menghancurkan; cerita yang membantu untuk menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama. Di tengah-tengah hiruk-pikuk suara dan pesan membingungkan yang mengelilingi kita, kita membutuhkan cerita manusiawi, yang berbicara tentang diri kita sendiri dan segala keindahan di sekitar kita. Sebuah cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan penuh kelembutan, dan yang bisa menceritakan bahwa kita adalah bagian dari sebuah permadani yang hidup dan saling terhubung. Sebuah cerita yang dapat mengungkapkan jalinan benang yang menghubungkan kita satu sama lain.

  1. Menenun Cerita                                                                                    Manusia adalah makhluk pencerita. Sejak kecil kita mempunyai “rasa lapar” akan cerita sebagaimana kita lapar akan makanan. Entah cerita berbentuk dongeng, novel, film, lagu, maupun berita; cerita yang mempengaruhi kehidupan kita, bahkan tanpa kita sadari. Kita sering memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter/tokoh-tokoh dan cerita cerita yang terekam dalam diri kita. Cerita-cerita tersebut membekas dan mempengaruhi keyakinan dan perilaku kita. Cerita-cerita itu dapat pula membantu kita memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Manusia bukan hanya satu-satunya makhluk hidup yang membutuhkan pakaian untuk menutupi kerapuhannya (bdk. Kej 3:21). Ia juga merupakan satu-satunya makhluk yang perlu mengisahkan dirinya, “mengenakan” cerita-cerita untuk menjaga hidupnya. Kita tidak hanya menenun pakaian, tetapi juga menenun cerita: sesungguhnya, kemampuan manusiawi untuk “menenun” (Latin: texere) tidak hanya mengacu pada kata “tekstil”, tetapi juga “teks”. Berbagai cerita dari setiap masa memiliki sebuah “mesin tenun”umum: struktur yang meliputi sosok “para pahlawan”, bahkan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam mewujudkan mimpinya menghadapi situasi-situasi yang sulit, melawan kejahatan yang didorong oleh sebuah kekuatan yang membuat mereka berani, yaitu kekuatan cinta kasih. Dengan membenamkan diri kita dalam cerita-cerita tersebut, kita dapat menemukan kembali motivasi-motivasi heroik untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Manusia adalah makhluk pencerita karena ia adalah makhluk yang berkembang, yang menemukan siapa dirinya dan diperkaya oleh berbagai jalan cerita dalam hari-hari hidupnya. Akan tetapi, sejak awal mula, cerita kita telah mendapatkan ancaman: si jahat yang meliuk-liuk sepanjang sejarah.

  1. Tidak semua cerita adalah baik

“Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah“ (bdk. Kej 3:4). Godaan ular ini menyisipkan sebuah simpul yang sulit dilepaskan dalam alur sejarah. “Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi, kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh orang-orang yang menggunakan storytelling untuk tujuan pemanfaatan (Eksploitasi-red) Ada begitu banyak cerita yang membius dan meyakinkan kita bahwa untuk berbahagia kita harus terus menerus mendapatkan, memiliki dan mengonsumsi. Bahkan kita mungkin tidak menyadari betapa kita kerap menjadi rakus dalam membicarakan hal buruk dan bergosip atau berapa banyak kekerasan dan dusta yang kita konsumsi. Sering kali berbagai platform komunikasi, justru memproduksi cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama, dari pada mengisahkan cerita-cerita konstruktif yang berperan sebagai perekat ikatan sosial dan tatanan budaya. Mengumpulkan aneka informasi yang tidak terverifikasi, mengulang-ulang obrolan sepele dan persuasif yang palsu, menyerang dengan ujaran kebencian, sungguh tidak menenun sejarah manusia melainkan menelanjangi martabatnya.

Namun, sementara cerita-cerita yang digunakan untuk tujuan-tujuan instrumental/pemanfaatan dan kekuasaan berumur pendek, sebuah cerita yang baik mampu melampaui batas-batas ruang dan waktu. Cerita-cerita itu tetap aktual berabad-abad lamanya karena memberikan asupan dalam kehidupan.

Pada era di mana pemalsuan menjadi semakin canggih, bahkan mencapai tingkat eksponensial (seperti rekayasa materi digital), kita membutuhkan kebijaksanaan untuk menerima dan menciptakan cerita-cerita yang indah, benar dan baik. Kita membutuhkan keberanian untuk menolak cerita yang palsu dan jahat. Kita membutuhkan kesabaran dan penegasan rohani untuk menemukan kembali cerita-cerita yang membantu kita untuk tidak kehilangan benang di antara banyaknya permasalahan sekarang ini; cerita yang mengungkapkan kebenaran tentang siapa diri kita sesungguhnya, juga dalam kepahlawanan yang diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Cerita dari segala cerita

Kitab Suci adalah cerita dari segala cerita. Betapa banyaknya peristiwa, bangsa dan pribadi yang dikisahkan kepada kita! Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa sejak awal, Allah adalah sang pencipta dan sekaligus narator. Sungguh, Ia mengucapkan Sabda-Nya dan segala sesuatu ada (bdk. Kej 1). Melalui narasi-Nya, Allah memanggil segala sesuatu kepada hidup, dan pada puncaknya Ia menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai rekan dialog-Nya yang bebas, yang membuat sejarah bersama-Nya. Dalam sebuah Mazmur, seorang makhluk berkata kepada Sang Pencipta: “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, […]. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah” (139:13-15). Kita tidak terlahir secara lengkap, tetapi kita harus “ditenun” dan “disulam” secara terus menerus. Kita telah diberikan kehidupan sebagai sebuah undangan untuk terus menenun “keajaiban yang luar biasa” kita.

Dalam pengertian ini, Kitab Suci adalah kisah cinta yang luar biasa antara Allah dan umat manusia. Di tengahnya adalah Yesus: kisah-Nya membawa penggenapan Kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang sama juga merupakan kisah cinta umat manusia kepada Allah. Dengan demikian manusia akan dipanggil, dari generasi ke generasi, untuk menceritakan dan menyimpan dalam memori berbagai episode yang paling signifikan dari Cerita dari segala cerita ini, yang mampu untuk mengomunikasikan makna dari apa yang terjadi.

Judul dari Pesan tahun ini diambil dari Kitab Keluaran, sebuah kisah mendasar alkitabiah yang melihat Allah campur tangan dalam cerita umat-Nya. Ketika anak-anak Israel yang diperbudak berseru kepada-Nya, Allah mendengar dan mengingat: “Allah mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka” (Kel 2: 24-25). Ingatan Allah membawa pembebasan dari penindasan, yang datang melalui berbagai tanda dan keajaiban. Dan pada titik inilah Tuhan memberikan kepada Musa makna dari semua tanda-tanda itu: “Dan supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu tanda-tanda mukjizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan!” (Kel 10:2). Pengalaman Keluaran mengajarkan kepada kita bahwa pengetahuan tentang Allah diteruskan dari generasi ke generasi dengan menceritakan kisah bagaimana Ia terus membuat diri-Nya hadir. Allah kehidupan dikomunikasikan dengan menceritakan kehidupan.

Yesus sendiri berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato abstrak, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Di sini hidup menjadi cerita, dan kemudian bagi pendengar, cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya.

Tidak mengherankan bahwa Injil-injil juga merupakan cerita. Sementara Injil-injil menyampaikan informasi tentang Yesus, sekaligus “menunjukkan” kita kepada Yesus, membuat kita sesuai pada-Nya. Injil meminta pembacanya untuk mengambil bagian dalam iman yang sama untuk berbagi kehidupan yang sama. Injil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Narator yang sesungguhnya– Sang Sabda,– itu sendiri menjadi cerita: “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menceritakan-Nya” (Yoh 1:18). Saya menggunakan istilah “menceritakan” karena kata dasar exeghésato dapat diterjemahkan sebagai “mewahyukan” atau menceritakan”. Allah secara pribadi telah membuat diri-Nya terajut ke dalam kemanusiaan kita, yang memberikan kita cara baru untuk merajut cerita-cerita kita.

  1. Sebuah cerita yang diperbarui

Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu; melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Cerita ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah memberi perhatian mendalam kepada manusia, kedagingan kita, dan sejarah kita, sampai Ia sendiri menjadi manusia, menjadi daging dan menjadi sejarah. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak signifikan atau tidak bernilai. Sesudah Allah menjadi Cerita, dalam arti tertentu, setiap cerita manusia adalah cerita ilahi. Dalam cerita setiap orang, Bapa melihat kembali cerita tentang Putera-Nya yang turun ke bumi. Setiap cerita manusia memiliki martabat yang luar biasa. Karena itu, kemanusiaan layak mendapatkan cerita-cerita luhur, yang keluhuruannya sungguh mempesona seperti yang telah diangkat oleh Yesus.

“Kalian – sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus – adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam di hati manusia” (2 Kor 3:3). Roh Kudus, cinta kasih Allah, menulis dalam diri kita. Dan selama Ia menulis di dalam kita, Ia menaruh hal-hal baik di dalam kita dan terus menerus mengingatkan kita akan hal itu. Sesungguhnya, mengingat (re-cordare) berarti membawa hati (Lat. cor), “menulis” di hati. Berkat karya Roh Kudus, setiap cerita, bahkan cerita yang paling terlupakan, juga cerita yang tampaknya ditulis pada garis yang paling bengkok sekalipun, dapat menjadi inspirasi dan dapat dilahirkan kembali seperti sebuah karya agung; menjadi pelengkap Injil. Cerita yang dimaksud seperti Pengakuan-pengakuan Agustinus. Seperti Kisah Sang Peziarah oleh Ignasius. Seperti Cerita Sebuah Jiwa dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Seperti Pertunangan, seperti Saudara-saudara Karamazov. Seperti cerita-cerita lain yang tak terhitung jumlahnya, yang dengan sangat mengagumkan telah menggambarkan pertemuan antara kebebasan Allah dan kebebasan manusia. Tiap-tiap kita mengenal berbagai cerita Injil yang harum, yang telah memberikan kesaksian tentang Cinta yang mengubah hidup. Cerita-cerita ini berseru-seru untuk dibagikan, diceritakan, dihidupi di setiap waktu, dalam setiap bahasa dan dengan segala cara.

  1. Sebuah cerita yang memperbaharui kita

Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita agung. Ketika kita membaca Kitab Suci, kisah-kisah orang-orang kudus, dan juga narasi-narasi yang telah mampu membaca jiwa manusia dan mengungkapkan keindahannya, Roh Kudus memiliki kebebasan untuk menulis di dalam hati kita, memperbaharui dalam diri kita ingatan tentang siapa diri kita di mata Allah. Ketika kita mengingat cinta yang telah menciptakan dan menyelamatkan kita, ketika kita menaruh cinta ke dalam cerita-cerita kita setiap hari, ketika kita menenun jalan cerita sehari-hari kita dengan belas kasihan, maka kita akan berpindah ke halaman berikutnya.

Hendaklah kita tidak berhenti dengan penyesalan dan kesedihan, terikat pada sebuah kenangan menyakitkan, yang memenjarakan hati, tetapi hendaklah kita membuka hati kepada yang lain, kita membuka diri terhadap visi yang sama dengan sang Narator. Menceritakan kisah kita kepada Allah tidak pernah sia-sia: meskipun riwayat peristiwa-peristiwa tidak berubah, tetapi makna dan perspektifnya akan berubah. Bercerita kepada Tuhan berarti masuk ke dalam tatapan cinta-Nya yang berbelas-kasih kepada kita dan orang lain. Kita bisa menceritakan kepada-Nya kisah-kisah yang kita jalani, membawa orang-orang dan mempercayakan berbagai situasi dalam kehidupan kita. Bersama-Nya kita dapat menyimpul kembali jalinan kehidupan, menjahit kembali yang putus dan terbelah. Betapa kita membutuhkannya, semuanya!

Dengan cara pandang Narator – satu-satunya yang memiliki cara pandang akhir – kita mendekatkan diri kepada para pemeran utama, kepada saudara dan saudari kita, para aktor yang berada bersama kita di dalam cerita kita hari ini. Ya, karena tidak ada seorang pun yang menjadi tambahan di panggung dunia dan cerita setiap orang terbuka pada perubahan yang mungkin terjadi. Bahkan ketika kita menceritakan keburukan, kita dapat belajar untuk memberikan ruang untuk penebusan. Di tengah-tengah keburukan, kita juga dapat mengenali kembali dinamisme kebaikan dan memberikannya ruang.

Oleh karena itu, hal ini bukan berarti hanya sekedar mengikuti logika-logika dari penceritaan (storytelling), atau mengiklankan diri, tetapi untuk mengingat siapa diri kita di hadapan Allah, untuk memberi kesaksian akan apa yang ditulis oleh Roh Kudus dalam hati kita, untuk mengungkapkan kepada setiap orang bahwa cerita dirinya mengandung keajaiban yang luar biasa. Untuk dapat melakukan ini, marilah kita mempercayakan diri kepada seorang wanita yang telah merajut kemanusiaan Allah di dalam rahimnya, dan sebagaimana disampaikan dalam Injil, telah merajut segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Santa Perawan Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Luk 2:19). Marilah kita meminta bantuan kepada Sang Bunda, yang telah mengetahui cara melepaskan ikatan simpul-simpul kehidupan dengan kekuatan cinta yang lembut:

O Maria, perempuan dan Bunda, engkau telah menenun Sabda ilahi di dalam rahim-Mu, engkau telah menceritakan karya Allah yang luar biasa di sepanjang hidupmu. Dengarkanlah cerita-cerita kami, simpanlah dalam hatimu dan jadikanlah milikmu sendiri, juga cerita-cerita yang tidak seorang pun mau mendengarkannya. Ajarilah kami untuk mengenal kembali benang-benang baik yang memandu jalan cerita. Lihatlah kumpulan simpul-simpul kusut dalam hidup kami yang melumpuhkan ingatan kami. Dengan tanganmu yang halus, setiap benang kusut dapat dilepaskan. O Wanita yang penuh Roh, Ibu yang penuh kepercayaan, berikanlah juga kami inspirasi. Bantulah kami untuk membangun cerita-cerita perdamaian, cerita-cerita yang mengarah menuju masa depan. Dan tunjukkanlah kepada kami jalan untuk menghidupinya bersama.

Roma, di Basilika Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2020,
Peringatan Santo Fransiskus dari Sales

Fransiskus

 

[1] Bdk Paus Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, 2: “Kabar Kristiani bukanlah hanya “informatif” saja, melainkan juga “performatif”. Artinya, Injil bukan hanya pemberitahuan hal-hal yang dapat diketahui, melainkan pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan dan mengubah kehidupan

 

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.