Membangun Harapan di tengah Pandemi, Menunggu sampai Waktu Tuhan Tiba

0
180

Hingga saat ini, pandemi Covid-19 tak kunjung mereda. Entah sampai kapan kita akan berada dalam situasi serba sulit seperti ini, tak ada satu pun orang yang tahu pasti. Yang ada hanyalah berupa prediksi yang menyebutkan bahwa sekitar bulan Juni atau Juli mendatang, situasi mungkin akan membaik.

Namun, jika kita ikuti betul pemberitaan demi pemberitaan beberapa hari belakangan ini, kita akan menangkap kesan bahwa rasa-rasanya virus mematikan ini tidak akan hilang dalam waktu dekat; sebab dari hari ke hari, jumlah pasien terkonfirmasi positif, ODP, dan PDP cenderung meningkat.

Menurut WHO, yang pernyataannya saya kutip dari running text di salah satu stasiun TV swasta, wabah ini baru benar-benar akan punah kira-kira lima tahun yang akan datang. Pernyataan ini memang bukan segala-galanya, namun pastilah didasarkan pada hasil analisa yang mendalam.

Apa yang diutarakan oleh WHO ini tentu sulit diterima; sebab kita tidak sabar menunggu sampai lima tahun untuk bisa keluar dari keadaan seperti ini.

Beragam cara pun terus dilakukan, baik untuk menghindari penularan, maupun untuk mengatasi dampaknya. Begitu pula upaya untuk menemukan vaksinnya terus dikembangkan, meski belum membuahkan hasil yang signifikan.

Maka, untuk sementara waktu, tinggal di rumah saja adalah pilihan yang terbaik. Meski banyak juga orang sudah bosan tinggal di rumah saja. Mereka ingin sekali beraktivitas seperti dulu. Tapi sayang, keinginan itu harus ditahan terlebih dahulu.

Kita berharap agar Tuhan memulihkan keadaan kita dengan segera. Itu harapan kita, tapi belum tentu seperti itu rencana Tuhan; sebab “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana” (Ams. 19:21).

Kita hanya bisa berharap, tapi Tuhanlah yang memutuskan. Maka, dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini, kita hanya bisa berpasrah pada keputusan Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan tak mungkin membiarkan kita menderita berlarut-larut.

Tuhan pasti akan memulihkan keadaan kita, tapi mungkin saja saat-Nya belum tiba: “Saat-Ku belum tiba” (Yoh. 2:4). Ketika waktu-Nya tiba, pastilah “Ia menjadikan segala-galanya baik” (Mrk. 7:37). Itu keyakinan kita; dan keyakinan seperti ini tak boleh pudar.

Kita tahu bahwa waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Meski sejujurnya, kita ingin sekali mendengarkan Tuhan berkata: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu” (Yoh. 7:6). Inilah harapan kita; dan harapan seperti ini tak boleh sirna.

Boleh jadi, suatu saat wabah ini bisa dikendalikan, namun hidup kita mungkin tak akan pernah sama lagi. Kata pemerintah, kita akan memasuki ‘hidup normal’ yang baru. Artinya, jika dulunya kita bisa dekat secara fisik satu terhadap yang lain: bersalaman, berpelukan, hingga cipika-cipiki, ke depannya barangkali tak bisa seperti itu lagi. Ada jarak yang harus kita jaga, ada protokol kesehatan yang harus kita patuhi.

Menghadapi situasi seperti ini, kita harus banyak belajar dari Ayub. Ayub tahu bahwa hidup itu berat. Ia mengakuinya. Namun, pada akhirnya iman dan kesehatan Ayub menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia berkata: “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” (Ayb. 7:1).

Sama seperti Ayub, kita bergumul dengan banyak persoalan. Belajar darinya, kita harus tetap mengakui kekuasaan dan hikmat Tuhan, dengan berkata: “Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan” (Ayb. 12:13,16).

Tugas kita sekarang ini adalah meyakinkan saudara-saudari di luar sana bahwa ‘Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya’ (1 Kor. 10:13).

Cobaan yang kita terima tidak akan melampaui kemampuan kita. Ketika kita dicobai, Tuhan akan memberikan solusi, sehingga kita dapat menanggungnya. Kapan solusi itu akan diberikan? Kita tunggu sampai waktu Tuhan tiba. Yang terpenting tetap sabar, percaya, dan tidak berhenti berharap.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.