Tuhan Tak Pernah Tidur, Mata-Nya Tertuju kepada Orang Benar

1
433

Setiap hari, Tuhan memberikan kita dua puluh empat jam yang belum dijalani. Semuanya baru. Tak ada yang sama. Belum pernah ada seperti itu sebelumnya.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Ratapan 3:22-23).

Tiap hari adalah penting untuk dijelajahi, kita harus hidup di dalamnya. Hari kemarin sudah berlalu. Kita belum memiliki hari esok. Kita sedang menghadapi hari ini.

Tiap hari ada saja hal baru yang kita hadapi: yang menggembirakan juga yang menyebalkan; yang baik juga yang buruk; yang manis juga yang pahit. Semuanya bercampur menjadi pengalaman hidup kita.

Tiap hari adalah hari baik. Tak ada namanya ‘hari sial’. Yang terpenting kita bersedia untuk memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Apa itu? Yaitu ‘harus menjaga lidah kita terhadap yang jahat dan bibir kita terhadap ucapan-ucapan yang menipu’ (bdk. 1 Ptr. 3:10).

Ketidakmampuan kita dalam ‘menjaga lidah dan bibir’ (misalnya berkata kasar, memfitnah, menipu, mengucapkan ujaran kebencian) hanya akan membuat hidup kita berada dalam kesusahan. Dan, perlu diingat bahwa ‘hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta’ (Ams. 15:15).

Tiap hari adalah hari baik. Tapi, tak jarang, kita menyabotase hari kita dengan permasalahan hari sebelumnya, dan menimbunnya dengan berbagai pergumulan hari berikutnya. Kita menyesali masa lalu, dan mencemaskan masa depan. Padahal, kita sendiri pernah bilang bahwa yang lalu biarlah berlalu. Apalagi, Tuhan Yesus juga sudah mewanti-wanti:

“Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34).

Alangkah baiknya jika kita tidak membawa persoalan hari kemarin ke hari ini, dan persoalan hari ini ke hari berikutnya. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Penyesalan dan kekuatiran hanya akan membuat energi kita terkuras. Tidak heran kalau kita merasa sangat lelah. Tekanan darah naik, jantung berdetak kencang, susah tidur.

Apabila ada persoalan, jangan disimpan berlarut-larut. Ya “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef. 4:26). Mengapa? Karena hal seperti itu hanya akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Memang, kata orang, ‘hidup itu berat’. Dan, itu benar. Tidak ada orang yang bisa menghindarinya. Itulah salib yang harus kita pikul setiap hari. Yesus berkata:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

Beratnya hidup akan dialami oleh siapa saja setiap hari. Tak ada orang yang bisa begitu saja lari darinya. Namun, kita juga tidak bisa memikulnya sendiri. Kita tidak kuat. Maka dari itu, kita butuh Dia untuk membantu kita. Ya, kita butuh pertolongan dari Tuhan.

Sebagaimana beban hidup datang setiap hari, demikianlah kita membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari, setiap jam, setiap detik. Bukan hanya sesekali. Kita butuh bantuan dari Tuhan terus-menerus, tak terputus.

Pertolongan dari Tuhan itu ibarat makanan, kita butuh setiap hari. Maka, kita berkata: “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk. 11:3). Kita meminta Tuhan memberikan pertolongan yang kita perlukan setiap hari.

Kapanpun kita menghadapi pergumulan, berkonsultasilah dengan Tuhan. Ia siap mendengarkan keluhan kita setiap hari, setiap jam, setiap detik. Ia tak pernah tidur. Untuk hal ini, Daud-lah saksinya.

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mzm. 18:7).

Kapan pun kita membutuhkan pertolongan-Nya, Ia selalu ada untuk kita. “Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau” (Mzm. 139:8).

Yakinlah, kapan pun kita memintanya, Ia pasti menolong kita; sebab ‘Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong’ (Mzm. 34:16).

—JK-IND—

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.