Spiritualitas Pemimpin Kristiani

0
197
Tumisu / Pixabay

Kisah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus merupakan kisah populer. Setiap perayaan Kamis Putih dibacakan, sekaligus dipraktekkan sebagaimana perintah Yesus sendiri.

Tindakan simbolis pembasuhan kaki yang dipraktekkan memiliki makna. Tidak hanya sebagai simbol, melainkan suatu ajakan untuk melakukan tindakan nyata. Injil yang biasa dibacakan pada perayaan Kamis Putih adalah Yohanes 13:1-17. Perikop ini setidaknya mempunyai beberapa makna yang dapat menjadi tuntunan bagi umat beriman antara lain:

Pertama, tindakan Yesus yang menanggalkan jubah merupakan tindakan menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan. Yesus menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan untuk menyelamatkan manusia. Tindakan yang dilakukan Yesus hendak menyadarkan kita untuk menanggalkan jubah kekuasaan yang kita miliki dan bersedia menjadi pelayan. Menanggalkan segala pernak-pernik dan sekat-sekat yang menghalangi umat beriman dalam melaksanakan pelayanan demi harkat dan martabat manusia. Selain itu, Yesus hendak menunjukkan pula bahwa kekuasaan itu bersifat sementara, sedangkan tindakan pelayanan terhadap sesama bersifat baka.

Kedua, Yesus mengikat pinggang dengan sehelai kain lenan. Tindakan Yesus yang mengikat pinggang-Nya merupakan tindakan mengikat ego, ambisi, dan ke-aku-an. Yesus tidak lagi berpusat pada diri-Nya sendiri (ke-aku-an) melainkan ia menjadi roti/hosti dan anggur yang dibagikan dan dipecahkan untuk semua orang. Dengan demikian, Yesus hendak mengajak umat beriman untuk menjadi berkat bagi semua orang, seperti roti/hosti dan anggur (tubuh dan darahnya) yang dibagikan.

Ketiga, Yesus membasuh kaki para murid. Membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang hamba, Oleh sebab itu tidak heran jika Petrus menolak dengan memberikan pertanyaan. Namun Yesus ‘melawan arus’ pengertian duniawi tentang pekerjaan seorang hamba. Yesus justru mengatakan bahwa ‘barangsiapa yang terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu/hamba’. Oleh sebab itu, seorang pemimpin diajak untuk menjadi hamba dan pelayan bagi semua orang. Pemimpin harus memiliki spiritualitas ‘turun’ dari singgasana dan menjadi pelayan bagi semua.

Keempat, bersyukur. Petrus meminta agar Yesus membasuh tangan dan kepalanya. Tindakan tersebut merupakan tanggapan atas ketidaktahuan Petrus tentang makna dari tindakan Yesus. Sesungguhnya Yesus hendak mengajak Petrus untuk menyelami makna terdalam dari tindakan-Nya. Tetapi Petrus malah salah kaprah sehingga ia meminta agar Yesus membasuh kepala dan tangannya. Umat beriman diajak untuk bersyukur atas keselamatan yang telah diberikan oleh Yesus melalui tindakan dan karya-Nya. Selain itu, umat beriman diajak agar menyelami makna dari setiap peristiwa hidupnya. Yesus mengetahui diri kita seutuhnya, tanpa kita ‘menggurui’ Tuhan dalam doa-doa dan permohonan kita.

Kelima, Meneladani Yesus. Yesus  mengajak pengikutnya untuk menjadi pemimpin yang melayani, rendah hati dan murah hati seperti diri-Nya sendiri.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289