Berbuat Baik kepada Sesama Manusia termasuk dalam Penerapan Ajaran Agama

0
150
willian_2000 / Pixabay

Manusia memilih beragama supaya mampu hidup dalam damai dengan sesama dan semua ciptaan; sebab dalam agama diatur norma-norma tertentu sehingga seseorang dituntut untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu Anda dan saya patut berbangga karena Indonesia, termasuk negara dengan populasi penduduknya memeluk suatu agama, bukan? Ya saya bangga. Orang-orang beragama di Indonesia sangat rajin beribadah. Namun, terkadang, semangat untuk beribadah mengalahkan semangat untuk mengamalkannya.

Miris memang, di negeri ini agama lebih sering digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan kemunafikan dan kebusukan. Bahkan, tidak jarang agama dijadikan sebagai alat untuk membenci dan membunuh sesama.

Tidak hanya itu, agama bahkan juga ‘diperkosa’ demi menjatuhkan lawan politik. Ayat-ayat ‘suci’ agama menjadi mantra kebencian, melebihi ayat-ayat ‘setan’. Ya, kita bisa saksikan sendiri dalam setiap perhelatan politik di tanah air.

Anehnya, sebagian dari kita suka sekali menuduh negara lain sebagai negara atheis atau kafir. Padahal, negara yang kita cap sebagai kafir dan atheis itu lebih agamis tindakannya daripada kita yang menganggap diri paling ‘agamis’ ini.

Kita seringkali lupa bahwa orang-orang di negara yang kita cap sebagai atheis dan kafir itu justru mempunyai jasa besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan hasilnya dinikmati oleh semua orang, tidak terkecuali kita yang menuduh mereka sebagai kafir dan atheis.

Di negeri ini, agama dan kemunafikan masih melekat dalam satu paket, sehingga banyak orang menjadi ‘tuhan’ atas dirinya sendiri dan atas sesamanya. Makanya tidak heran jika salah satu filsuf pernah mengatakan bahwa ‘agama adalah candu bagi masyarakat’.

Dalam konteks tertentu pendapat sang filsuf itu benar adanya; terutama berkaitan dengan orang-orang yang memperkosa agama demi kekuasaan. Akibatnya, bermunculan orang yang hanya pintar ngomong tapi tindakan nol besar. Padahal, sejatinya, berbuat baik terhadap sesama manusia termasuk dalam penerapan ajaran agama.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289