21.2 C
New York
Saturday, July 31, 2021

Suster Nuria Calduch-Benages: Perempuan pertama yang diangkat sebagai Sekretaris Komisi Kitab Suci Vatikan

Pada 9 Maret 2021, Paus Francis menunjuk cendekiawati Alkitab Spanyol, Sr. Nuria Calduch-Benages, sebagai sekretaris Komisi Kitab Suci Kepausan. Dalam wawancara dengan Vatican News, ia mengungkapkan keterkejutan dan rasa terima kasihnya.

 ***

Suster Nuria Calduch-Benages telah mengabdikan hidupnya dengan penuh semangat untuk mempelajari Kitab Suci. Dia mengajar Perjanjian Lama di Universitas Kepausan Gregoriana dan merupakan ahli Kitab Suci yang terkenal. Suster yang berasal dari Barcelona (Spanyol) ini adalah anggota Kongregasi Puteri Misionaris Keluarga Kudus Nazareth. Dia juga mengambil bagian dalam karya Komisi Studi Diakon Perempuan (2016-2019). Pada 9 Maret, Paus Fransiskus menunjuknya sebagai sekretaris di Komisi Kitab Suci Kepausan, kantor Vatikan di mana dia menjadi anggotanya sejak 2014. Dia baru-baru ini diangkat kembali untuk masa jabatan lima tahun lagi, yang akan berlangsung hingga 2025.

Beberapa posisinya yang lain: Dia adalah profesor tamu di Pontifical Biblical Institute di Roma, seorang kolaborator yang tekun dari Catholic Biblical Federation, seorang anggota terkemuka dari jurnal khusus, melayani di komite ilmiah jurnal History of Women (University of Florence) dan berkolaborasi dalam seri “Tesis y Monografías” yang diterbitkan oleh Verbo Divino (Estella). Pada tahun 2008 dia berpartisipasi sebagai ahli dalam Sidang Umum Sinode Para Uskup yang berfokus pada “Sabda Tuhan dalam Kehidupan dan Misi Gereja.”

T: Bagaimana reaksi Anda saat Anda diangkat sebagai sekretaris Komisi Kitab Suci Kepausan dan apa pentingnya menjadi seorang perempuan dalam posisi ini?

J: Dua kata dapat menyimpulkan reaksi saya: Di satu sisi, terkejut, karena saya tidak akan pernah membayangkan menerima perutusan ini; dan di sisi lain, terima kasih kepada semua orang yang telah mempercayai saya. Saya pikir kehadiran perempuan di Komisi ini, seperti di Komisi lainnya, adalah dimensi positif dan penting yang membuka cakrawala di  dalam Gereja.

T: Bagaimana Anda menggambarkan pengalaman Anda berpartisipasi dalam Komisi Studi Diakon Perempuan?

J: Selama tiga tahun, dari 2016 hingga 2019, saya terlibat, bersama dengan anggota lainnya, dalam studi diakonat perempuan. Dan bahkan jika hasilnya dapat dianggap parsial dalam beberapa hal, pengalaman itu sangat memperkaya baik dari sudut pandang intelektual dan gerejawi, maupun dari sudut pandang manusia. Kami menjalin persahabatan dan hubungan kolaboratif yang berlanjut hingga hari ini. Saya menganggap ini sebagai hak istimewa.

T: Kitab Suci adalah inti dari studi Anda. Menurut Anda apa kontribusi unik yang dapat diberikan perempuan untuk mempelajari Sabda Allah?

J: Keahlian, minat, dan perspektif mereka. Misalnya, pikirkan studi tentang tokoh-tokoh alkitabiah yang perempuan, narasi mereka, penggunaan metafora perempuan, hermeneutika feminis, dan banyak aspek lainnya. Empat puluh tahun yang lalu, ketika para sarjana Kitab Suci wanita hampir tidak pernah terdengar, masalah dan pendekatan terhadap Kitab Suci ini tidak dipertimbangkan dalam lingkungan alkitabiah. Sekarang, bagaimanapun, mereka sangat dihargai oleh semua orang, pria dan wanita, dan publikasi menjadi semakin banyak.

T: Anda mengajar Perjanjian Lama. Deborah, Esther, Judith … Perempuan adalah inti dalam kitab-kitab Alkitab ini dan menunjukkan pentingnya mereka dalam sejarah keselamatan. Visi apa tentang perempuan yang muncul dari teks-teks ini?

J: Dalam beberapa catatan alkitab, seperti yang Anda sebutkan, perempuan muncul sebagai protagonis sejati dari sejarah Israel, dengan misi penting untuk dipenuhi atas nama rakyat. Namun, di tempat lain, mereka hanyalah instrumen kekuatan laki-laki. Namun di tempat lain, mereka benar-benar dibungkam oleh penulisnya. Karena itu, cerita mereka tidak diceritakan sehingga kami tidak mendengar suara mereka. Ini adalah kesulitan utama kami. Selain itu, kita tidak dapat melupakan bahwa teks-teks alkitabiah adalah teks-teks yang sangat kuno di mana perempuan digambarkan menurut pola dasar (arketipe) masing-masing zaman dan menurut perspektif androsentris (terpusat pada laki-laki) pengarangnya.***

 

Artikel ini diterjemahkan dari Debora Donnini dalam https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2021-03/first-woman-appointed-secretary-of-vatican-biblical-commission.html

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini