2.8 C
New York
Saturday, November 27, 2021

Katolik Menjawab: Tak Ada yang Perlu Ditakutkan dari Isi Kitab Wahyu

Kitab Wahyu tidak selalu mudah, tapi juga sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Pas saja. Hanya memang dibutuhkan sedikit kejelian dari kita dalam membaca dan memahaminya. Banyak orang salah mengartikan isi Kitab Wahyu sebab mereka menafsirkannya secara harafiah. Padahal, kitab manapun, tidak hanya Kitab Wahyu,  tidak pernah boleh ditafsirkan secara harafiah.

Tidak sedikit orang merasa takut ketika membaca isi Kitab Wahyu. Ketakutan itu timbul karena diksi dan alur penulisan yang ada di dalam Kitab Wahyu tidak seperti biasanya: ada kisah-kisah yang mencekam, ngeri, dan menakutkan. Namun, sebenarnya, penulis kitab ini sama sekali tidak bermaksud supaya kita merasa takut ketika membaca tulisannya. Ketakutan kita terjadi karena kita kurang memahami isi Kitab Wahyu.

Kitab Wahyu seringkali sulit dipahami karena pesan yang disampaikan tidak to the point, melainkan menggunakan bahasa simbolis: seperti angka, pribadi dan pristiwa historis, situasi yang kritis, unsur yang membentuk bumi dan langit, dan surga. Maka, tidak mengherankan ada begitu banyak ragam tafsiran atas Kitab Wahyu. Padahal, semuanya itu digunakan oleh pengarang untuk ‘satu maksud saja’ yaitu menolong umat Kristen abad pertama untuk mengerti tentang apa yang sedang terjadi, sambil memberikan mereka keteguhan iman dan menyanggupkan mereka untuk berseru “Datanglah, ya Tuhan Yesus” (Why. 22:20).

Penulis Kitab Wahyu menyebut dirinya ‘Yohanes’. Sang penulis mengaku telah menyusun kitabnya berdasarkan pengalaman rohani dari surga. “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa  yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya,  Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes” (Why. 1:1).

Yohanes, si penulis Kitab Wahyu, memaklumkan Firman Allah dengan menggunakan sastra apokaliptik (dari bahasa Yunani, yang berarti: menyingkap, membuka rahasia). Jenis sastra ini tentu saja sudah biasa dikalangan umatnya saat itu. Banyak sumber menyebutkan bahwa tulisan apokaliptik dapat ditemukan di Timur Tengah antara tahun 200 SM sampai tahun 200 M. Karena itu, ketika Yohanes ingin menyampaikan pesan yang penuh wibawa kepada Gereja-gereja di Asia Kecil (Why. 1:4), ia amat cerdas mengunakan literasi yang sudah ada saat itu. Pendengarnya sudah terbiasa dengan bentuk tulisan apokaliptik, sehingga Yohanes tidak kuatir soal kemungkinan salah mengerti terhadap ‘bahasa sandi’ yang digunakannya. Jikalau saat ini kita merasa sulit memahami tulisan dalam Kitab Wahyu, itu terjadi karena kita hidup dalam konteks yang berbeda dengan waktu ketika kitab itu ditulis.

Ada dua faktor yang mendorong munculnya pola pemikiran yang berciri apokaliptik di dalam Kitab Wahyu. Pertama, hidup iman orang Yahudi sudah matang. Hidup iman ini dibangun atas dasar seluruh Perjanjian Lama, yang isi pokoknya adalah keyakinan bahwa Allah selalu setia dan menunjukkan belaskasihan-Nya kepada mereka. Kedua, situasi sosial-politik-religius yang mencekam. Karena iman, orang-orang beriman dianiaya secara besar-besaran. Nah, dalam keadaan seperti itu, mereka harus menemukan makna pengalaman hidup mereka. Makna ini ditemukan dalam keyakinan bahwa Allah yang sejak dulu setia, akan selalu setia sampai selama-lamanya. Kesetiaan Allah ini adalah jaminan bagi akhir yang gilang gemilang, entah bagaimana bentuknya dan entah kapan waktunya.

Pada prinsipnya, Gereja Katolik melihat Kitab Wahyu sebagai kitab yang penuh dengan alegori atau perumpamaan, sehingga cara melihat seperti itu memberi pengaruh terhadap cara kita  menafsirkan kitab ini. Dalam menafsirkan kitab Wahyu, kita tidak boleh lupa bahwa pastilah ada sebagian dari kitab itu yang mengangkat situasi kongkrit pada saat kitab itu dituliskan, meskipun ada juga yang memang berhubungan dengan kepenuhan Kerajaan Allah pada akhir zaman. Nah, untuk pewartaan mengenai situasi akhir zaman itulah, makanya digunakanlah satu jenis sastra yang disebut dengan istilah ‘apokaliptik’ itu.

Apakah apokaliptik merupakan satu-satunya jenis atau bentuk sastra yang dipakai dalam Kitab Wahyu? Jawabannya: tidak. Sejak awal, Yohanes menyatakan bahwa buku ini adalah buku profetis. “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” (Why. 1:3).

Kita harus tahu bahwa sastra apokaliptik muncul setelah sastra kenabian berhenti. Kata-kata nabi disebut nubuat, bukan karena yang mereka katakan adalah ramalan mengenai masa depan. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh para nabi ialah membaca situasi aktual dan mengartikannya dalam terang firman Allah. Nah, jika pewartaan kenabian memusatkan perhatian pada masa sekarang, sastra apokaliptik mengarahkan perhatian kita ke masa depan, yaitu pada akhir zaman.

Jika para nabi berkeyakinan bahwa keadaan sekarang harus berubah dan dibangun kembali atas dasar sabda Tuhan, penulis apokaliptik mempunyai pandangan lain. Barangkali pola berpikir apokaliptik ini dapat analogikan dengan seseorang yang mau meloncat jauh. Jika kita perhatikan, seorang peloncat jauh, sebelum ia melakukan lompat jauh, ia terlebih dahulu mundur beberapa langkah ke belakang dengan tujuan sekedar untuk mengambil ancang-ancang. Dari titik ancang-ancang itulah, ia kemudian berlari dengan sangat cepat dan pada titik tertentu ia meloncat jauh ke depan.

Pola berpikir apokaliptik menilai keadaan dunia sekarang ini benar-benar mengerikan (keadaan ketika kitab itu ditulis), tidak dapat diperbaiki lagi. Maka, untuk menilai masa sekarang yang kacau ini, ia harus mundur beberapa langkah ke belakang, yaitu mengenangkan karya-karya Allah pada masa lampau. Lalu, ia menarik kesimpulan bahwa Allah selalu setia.

Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa Kitab Wahyu berbicara tentang peristiwa yang sedang terjadi pada waktu kitab ini ditulis, yaitu tentang penganiayaan umat Kristen pada abad pertama oleh imperium Romawi. Jutaan orang Kristen abad pertama di Roma dianiaya dan dibunuh sebagai martir, karena mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai dewa.

Penulis Kitab Wahyu berkeyakinan bahwa Allah yang telah terbukti setia, akan selalu setia selama-lamanya. Maka, entah bagaimana bentuknya dan entah kapan waktunya, Allah yang setia itu akan memberikan kemuliaan serta kemenangan kepada orang-orang yang percaya dan setia kepada-Nya. Keyakinan iman inilah yang menjadi landasan sekaligus kekuatan untuk berani dan setia berjuang dalam kehidupan nyata yang penuh dengan kesulitan dan tantangan.

Dengan demikian, sebetulnya, tema dominan yang terdapat dalam Kitab Wahyu ialah rahasia kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah ini sudah dialami oleh umat sepanjang sejarah dan diyakini akan berlangsung terus sampai kepenuhan waktunya. Kesetiaan Allah inilah yang  menjamin kemenangan gilang-gemilang, yang dijanjikan kepada umat yang juga setia dalam pengharapan. Rahasia ini begitu besar dan mendalam, sehingga amat sulit atau bahkan tidak mungkin dirumuskan, kecuali dalam bentuk lambang-lambang. Rahasia itu dapat ditangkap melalui berbagai cara, misalnya melalui campur tangan Roh (Why. 1:10; Why. 4:2), penglihatan (Why. 17:3; Why. 21:10), dan perantaraan para malaikat (Why. 1:1).

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

1 COMMENT

Subscribe
Notify of
avatar
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Cahyono
Cahyono
3 months ago

Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa Kitab Wahyu berbicara tentang peristiwa yang sedang terjadi pada waktu kitab ini ditulis, yaitu tentang penganiayaan umat Kristen pada abad pertama oleh imperium Romawi. Jutaan orang Kristen abad pertama di Roma dianiaya dan dibunuh sebagai martir, karena mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai dewa.

berarti kitab wahyu ini sudah tidak berarti lagi ya, karena untuk saat ini KEJADIANNYA sudah lampau dan tidak ada / tidak banyak menfaat teologis nya untuk saat ini.

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini