Teguran Yesus Menjadikan Kita Pribadi yang Legawa

0
237
bones64 / Pixabay

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.” (Lukas 11:45-46)

Dalam perikop ini, kita temukan sebuah perdebatan yang pelik dan cukup menegangkan antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Yesus menegur balik salah seorang dari ahli Taurat yang mencoba untuk mengoreksi Yesus karena cubitan kata teguran-Nya yang sangat ‘menyakitkan’.

Yesus tidak terpukul mundur. Sebaliknya, Ia justru menegur orang itu.

Menariknya, Yesus tidak terpukul mundur. Dengan tidak disangka-sangka, Ia justru menegur orang itu dengan kata-kata yang cukup ‘menyakitkan’. Mengejutkan, bukan?
Konon, si ahli Taurat itu sebenarnya mau menyadarkan Yesus bahwa kata-kata-Nya justru ‘menghina’ mereka. Dia menunjukkan seolah-olah Yesus tengah melakukan sebuah kesalahan dan perlu untuk diberi teguran.

Di sini, Yesus mau menegur orang yang sering menjadi tegang dan kesal terhadap hal-hal kecil; dan bagi mereka yang selalu ingin dihormati. Kehidupan keagamaan yang dicari Tuhan adalah kesucian hati serta cinta yang terlahir dari keberimanan.

Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu supaya mereka menyadari bahwa mereka ditegur karena kesombongan dan ketegaran hatinya. Jika seseorang benar-benar rendah hati, maka setiap teguran akan disambutnya sebagai bentuk penyadaran diri dan koreksi yang bermanfaat.

Sayangnya, si ahli Taurat itu tidak memiliki semangat ‘legawa’ dan rendah hati untuk terbuka terhadap teguran Yesus. Ia justru semakin angkuh. Seolah-olah, ia mau mencuci tangan atas segala kesalahan yang telah ia lakukan dalam keseharian hidupnya. Hal ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Entah kita sadari atau tidak, tidak semua orang begitu mudah menerima teguran orang lain atas kesalahannya. Ada segelintir orang yang kalau ditegur dan dikoreksi, merasa martabat mereka dilecehkan. Bahkan ada orang yang berusaha mengelabui perbuatan salahnya dengan kata-kata yang baik dan menyejukkan hati, namun memiliki maksud dan niat yang jahat. padahal, sejatinya, setiap kritikan dan teguran memiliki maksud baik, yaitu agar kita bisa menyadari diri dan kelemahan kita.

Saudara-saudari, apakah kita cukup rendah hati dan terbuka untuk menerima setiap teguran yang bersifat membangun dari orang lain? Jika seseorang menegur kita karena ketegaran hati kita, apakah kita mesti tersinggung? Ataukah kita menanggapinya sebagai teguran yang bermanfaat dan memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam iman yang kokoh dan tahan banting?

Sesungguhnya, ketika kita bisa legawa terhadap setiap teguran dan kritikan, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka dan teguh dalam iman. Layaknya obat, setiap kritik dan teguran itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. Dengan bersikap terbuka terhadap kritik, kita akan lebih mudah mengerti di mana titik lemah kita, sehingga kita bisa menyiapkan cara untuk memperbaiki setiap celah kekurangan kita.

Semoga kita bisa lebih ‘legawa’ untuk menerima setiap teguran dan kritikan dari orang lain, karena dengannya kita bisa lebih mengenal diri dan kelemahan kita. Semoga Tuhan memberkati! Amin.

avatar
Anggota Kongregasi Scalabrinian. Menyelesaikan studi teologinya di Loyola School of Theology, Manila-Filipina. Sekarang tengah mempersiapkan dirinya untuk bermisi di Regio Eropa.