Tuhan adalah Sumber Pengharapan, dalam Dia Ada Damai Sejahtera

0
156
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Dunia ini seperti panggung sandiwara yang mempertontonkan aneka pertunjukkan setiap saat. Isi cerita yang ditampilkan pun beragam: banyak di antaranya membuat jantung kita berdegup kencang, dada kita berdebar, dan perasaan kita berkecamuk.

Sekarang, dunia mempengaruhi pikiran dan perasaan kita lewat apa yang kita sebut ‘the power of social media.’ Beragam pemberitaan di dunia maya berhasil membuat hidup banyak orang tak aman dan tak nyaman; hati jadi tidak tenang, gelisah dan gentar.

Orang-orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan media sosial untuk menebarkan kabar bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan sederetnya. Tampaknya, mereka tidak senang jika kita hidup tenang.  Apa yang mereka inginkan? Tak ada yang lain, kecuali perpecahan. Lantas, Apa yang diperoleh dari perpecahan? Tidak ada. Kalah jadi arang, menang pun jadi abu.

Kita bersyukur sebab Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang tega, melainkan Tuhan yang peduli. Ia tidak tega melihat kita hidup dengan kegelisahan dan kegentaran. Karenanya, Ia menitipkan kepada kita damai sejahtera, bukan perpecahan. Ia berkata:

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

Apa yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Damai yang diberikan oleh dunia acapkali didahului oleh perpecahan dan pertumpahan darah. Tidak demikian dengan damai yang diberikan oleh Tuhan Yesus.  Damai sejahtera yang sejati hanya ada pada Yesus. Karenanya, Ia mau agar kita semua beroleh damai sejahtera dalam Dia.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Betapa bahagianya jika kita bisa hidup dalam damai: tidak ada kekuatiran, kegelisahan, dan kegentaran. Sebaliknya, hidup kita jadi tenang, nyaman, dan aman.

Kitab Suci mendeskripsikan dengan sangat baik mengenai seperti apa situasi damai itu.

“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes. 11:6-9).

Ketika damai sejahtera ada di antara kita, bahkan musuh pun bisa menjadi sahabat, lawan jadi kawan. Tak ada lagi pertengkaran, tak ada lagi saling hujat. Segala kecenderungan untuk berbuat jahat jadi hilang.

Tuhan Yesus mewajibkan kita untuk menjadi agen pembawa damai itu. Ia mengutus kita untuk membawa damai sejahtera itu kepada orang lain. Ia berkata:

“Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).

Perutusan ini tidak muluk-muluk. Yesus mengajarkan agar mulai dari hal yang paling sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Ia berkata:

“Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini” (Luk. 10:5).

Kiranya damai sejahtera dari Tuhan diterima oleh semua orang di berbagai tempat; supaya dunia ini dapat bersukacita. Biarlah damai dari Tuhan Yesus sendiri yang kita terima.

Damai sejahtera itu selalu baik, maka pantas dimiliki oleh setiap orang. Cintailah kedamaian, jangan ada perpecahan. —JK-IND—

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.