Cintailah Kesetiaan sebab Tuhan Dekat kepada Orang-orang yang Patah Hati

0
318

Banyak orang berkelakar bahwa patah hati timbul karena terlalu banyak ‘pakai hati’ dalam menghadapi segala sesuatunya; sehingga ketika yang dijumpai berbeda dari yang diharapkan, hati menjadi terluka. Tapi, konon katanya, masih mending pakai hati, sebab jika saja yang dipakai adalah jiwanya, yang ada bukan lagi sekedar patah hati melainkan sakit jiwa.

Sepintas, itu hanya guyonan. Tapi, bisa jadi ada benarnya. Seseorang bisa patah hati karena terlampau jauh menggunakan hatinya; sehingga ketika cintanya kandas di tengah jalan, ketika realita yang diterima tak seindah ekspektasinya, ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat.

Ketika seseorang sedang patah hati, hidupnya terasa hampa, kosong, dan tak berguna lagi; pandangan ke depan menjadi tak terlihat dengan jelas, kabur; tak ada lagi yang bisa diharapkan, putus harapan.

Padahal, tak mestinya demikian. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa ‘TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya’ (bdk. Mzm. 34:19).

Maka, jika saat ini kita sedang patah hati – karena alasan apa saja – jangan sampai hal itu membuat kita kehilangan harapan. Harapan masih ada, dan akan selalu ada untuk kita; asalkan kita percaya kepada-Nya.

Memang, kata orang-orang, seseorang yang pernah patah hati, biasanya trauma. Trauma untuk mencoba kembali hal yang lama; takut untuk memulai sesuatu yang baru; dan kuatir jangan sampai nanti patah hati lagi. Tapi, sekali lagi, hal seperti ini tak seharusnya terjadi ‘Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati’ (Ul. 31:8).

Jika kita sudah tahu bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai kita, buat apa patah hati berlarut-larut? Toh Tuhan sudah memberi jaminan kepada kita; dan Ia tak akan pernah melupakan-Nya. Justru sebaliknya, yakinlah, ‘Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka’ (Mzm. 147:3).

Dalam Injil kita punya contoh orang-orang yang sedang patah hati dan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan hati mereka yang terluka. Orang yang dimaksud adalah kedua murid yang pulang ke Emaus (lih. Luk. 24:13-35).

Dua murid yang pulang ke Emaus adalah contoh orang-orang yang tergolong dalam barisan kelompok patah hati. Mereka patah hati karena apa yang mereka hadapi berbeda jauh dari apa yang mereka harapkan.

Mereka tidak pernah menyangka bahwa Dia yang mereka ikuti selama ini, harus menanggung derita sampai wafat, bahkan hingga wafat di kayu Salib. “Padahal kami dulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (lih. Luk. 24:21).

Mereka sulit menerima kenyataan pahit itu. Harapan mereka pupus setelah kematian Yesus. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Juga, tak ada lagi alasan bagi mereka untuk bertahan di Yerusalem.

Mereka meninggalkan teman-teman lain yang sedang berkumpul dan memilih pulang ke Emaus. Yesus menjumpai mereka di tengah jalan tapi mereka tak mengenali-Nya; sebab kata Kitab Suci, ‘ada sesuatu yang menghalangi mata mereka’ (Luk. 24:16).

Yesus menyertai mereka dalam perjalanan, bahkan sampai masuk ke kampung yang mereka tuju (lih. Luk. 24:28). Ia membuka mata mereka dengan mengulangi lagi apa yang dilakukan-Nya pada malam perjamuan terakhir:

“Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30).

Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia. Lalu, bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem.

Dengan pulang ke Emaus, mereka nyaris tak setia lagi pada Yesus dan ajaran-Nya. Tapi, Tuhan dengan cara-Nya sendiri, menunjukkan kepada mereka bahwa Dia sendiri menyertai mereka. Dia sendiri berjalan bersama mereka dan tidak meninggalkan mereka.

Sama seperti mereka, kita pun kadang-kadang tergelincir dalam ketidaksetiaan. Padahal, tak banyak yang diminta dari kita: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu mungkin membuat kita patah hati, jangan pernah menjadi tidak setia, melainkan setialah senantiasa.

— JK-IND —

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.