0.6 C
New York
Monday, January 12, 2026

Bertindak Wajar-Bijak terhadap Kesalahan Sesama

Tiada yang suci. Tiada seorang pun. Kita semua pernah salah. Kita semua pernah keliru. Entah dalam hal besar, entah dalam hal kecil. Bahkan kita mungkin sedang salah atau keliru. Kesadaran tentang hal ini seharusnya membuat kita tak terlalu lancang mengkritik apalagi menghujat sesama yang sedang bersalah-keliru, bahkan ketika kesalahan-kekeliruannya kecil.

Akan tetapi, semua orang  tetap berjuang menjadi orang baik, dalam tutur dan langkah setiap hari. Jika suatu saat kita terjatuh, sadarlah dan baruilah diri. Maafkan! Itu tanda kita manusia rapuh, bukan malaikat suci. Kesadaran untuk membarui diri itu keharusan. Jika suatu saat sesama kita walau telah berjuang berbuat baik dalam kata dan langkah, tapi kemudian ia terjatuh, pahamilah dan bantulah dia dengan  penuh kasih agar ia bangun kembali. Berilah kesempatan kepadanya untuk membarui diri. Maafkan dia! Janganlah menghakiminya dengan keji-kejam! Janganlah menganggap dirinya paling bersalah-berdosa dan dirimu paling benar-suci. Saudara/i, janganlah! Sebab dirimu dan dirinya sama-sama pribadi rapuh yang sudah, sedang dan  mungkin akan jatuh lagi.

Apakah itu berarti kita kompromi dengan kesalahan dan kejahatan yang dilakukan sesama? Apakah kita tak perlu peduli dengan sesama? Tidak juga! Kita hanya diajak bertindak wajar dan bijak. Maksudnya jangan peduli berlebihan. Koreksi-kritiklah dalam suasana kasih-persaudaraan (correctio fraterna), sambil tetap menyadari bahwa kita juga bisa salah-keliru bahkan jatuh dalam kesalahan yang sama. Di pihak lain, bersiaplah juga menerima masukan-kritik persaudaran dari sesama bila kita terjatuh. Dengan demikian, janganlah menghakimi dengan kejam, membabi-buta, seolah-olah kita pribadi sempurna bak malaikat tak bersayap yang bergentayangan di bumi-panggung sandiwara ini.

“Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?…. Hai orang munafik, keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas ‘sehingga bisa’ mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (Bdk. Luk. 6:41-42).”

Tuhan Yesus, mampukan kami bertindak bijak-wajar terhadap kesalahan sesama, karena kami juga kadang-kadang rapuh-terjatuh. Semoga kami tidak bertindak seperti hakim lalim yang dengan pongah menghakimi secara brutal-kejam saudara/i kami yang salah-keliru, sebab siapakah kami ini? Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa!***

“Salam Minggu; Tuhan memberkati!”

RP Lorens Gafur, SMM
RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini