Ajaran Tuhan, Berbagi karena Empati

0
167
Gambar ilustrasi oleh Pexels / Pixabay

“Berilah kepadamu setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu” (Lukas 6: 30)

Ajaran Yesus dalam Lukas 6: 30 merupakan salah satu ajaran untuk memberi atau berbagi tanpa mengharapkan imbalan. Berbagi bukan berarti memberikan semua yang kita miliki untuk orang lain. Berbagi bukan dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita mampu, atau memiliki segala sesuatu lebih dari cukup sehingga harus dibagikan ke orang lain. Kita berbagi, karena kita tahu, bagaimana rasanya tidak memiliki apapun.

Di masyarakat, yang disebut dengan ‘berbagi’ biasanya berupa memberikan sedekah atau makanan kepada orang yang hidup dan tinggal di jalanan. Namun sebenarnya, banyak yang bisa kita lakukan selain berbagi sedekah atau makanan. Salah satu contoh, ketika menggunakan transportasi atau kendaraan umum. Memberikan kursi yang kita gunakan untuk duduk kepada orang yang lebih membutuhkan, merupakan salah satu penerapan ajaran saling berbagi. Kursi tersebut bukan milik kita seorang melainkan mililk bersama karena yang kita naiki adalah transportasi umum, bukan kendaraan pribadi. Namun, sangat sulit menemukan orang yang rela memberikan “kursinya” bagi orang lain.

Suatu ketika, dalam perjalanan pulang kantor, kondisi kereta sudah lumayan padat dan seperti biasa, petugas kereta memberikan pengumuman bagi penumpang untuk memberikan kursi prioritas bagi wanita hamil, ibu dengan balita, lansia, dan penyandang disabilitas. Ada seorang anak, mungkin usia 8 tahun, berkata dengan polosnya “Ma, itu ibu petugas bilang mama harus kasih kursi untuk oma-oma atau kakek-kakek tuh”

Sang ibu menjawab, “Tidak bisa nak, mama sedang menggendong adikmu, kalau mama berdiri adikmu akan bangun”. Tanpa disuruh, anak tersebut berdiri, memberikan kursinya kepada seorang oma yang berdiri di dekatnya. Padahal, anak itu masih kecil dan disebelahnya, duduk seorang pemuda yang lebih tua darinya. Pemuda tersebut terlihat sibuk dengan gadget nya. Di sebelah ibu sang anak, juga ada seorang mahasiswi yang “tertidur” sambal memasang headset di telinganya.

Anak kecil ini memberikan kursinya bagi penumpang yang menurut matanya, lebih membutuhkan kursi tersebut. Dalam pemahamannya ketika mendengar pengumuman petugas, dia merasa tidak memerlukan kursi tersebut. Petugas tidak spesifik menyebutkan kursi prioritas diberikan untuk anak kecil tetapi lebih ke ibu hamil, ibu dengan balita dan lansia. Di pemikiran polos anak kecil, Oma yang berdiri merupakan “prioritas” sehingga dia merasa wajib memberikan kursinya. Oma tersebut sangat bersyukur dan berterima kasih kepada anak tersebut yang rela memberikan kursinya.

Berbagi kursi di kendaraan umum, terkadang membuat petugas kereta bertengkar dengan penumpang. Ada saja, penumpang yang berkelit ketika kursinya “diminta”. Ada yang pura-pura tertidur, pura-pura tidak dengar, dan bahkan membentak petugas ketika diminta berdiri untuk orang lain. Memang, kita semua merasa Lelah sepulang kerja, sepulang kuliah, dan lainnya. Semua orang merasakan hal yang sama. Setiap orang memiliki perjalanan, cerita, dan rasa lelah yang berbeda. Tentu, setiap orang memiliki alasan untuk tidak memberikan kursinya bagi orang lain.

Namun, bagaimana perasaan kita, jika orang yang membutuhkan kursi tersebut adalah keluarga kita sendiri? Kerabat kita yang mungkin sedang hamil, ibu kita yang sewaktu kecil membawa kita kemana pun ia pergi? Kakek nenek kita yang sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi kita? Bukankah sedih rasanya, membayangkan mereka harus berdiri sepanjang perjalanan, padahal mereka di “prioritas” kan oleh negara penyedia transportasi tersebut?

Sifat egois manusia, akan selalu memberikan pembenaran terhadap apapun yang dilakukan “Saya juga capek dan membutuhkan kursi ini. Saya lelah telah bekerja seharian. Perjalanan saya masih jauh. Biar saja orang lain yang memberikan kursinya. Salah sendiri kenapa naik transportasi umum, naik saja taksi supaya bisa duduk”, alasan tersebut seringkali terucap dari mulut kita sebagai pembenaran atas tindakan atau keegoisan yang dilakukan.

“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6: 31)

Kita seringkali lupa bahwa suatu saat nanti, yang wanita akan hamil, suatu saat setiap orang akan menggendong anak balitanya menaiki kendaraan umum untuk pergi ke suatu tempat, dan semua manusia akan menua atau masuk dalam kategori “lanjut usia”. Bagaimana nanti jika kita mendapatkan “balasan” atas keegoisan kita di masa muda? Bagaimana perasaan kita nanti, saat sudah tua, harus pergi dengan kendaraan umum, tidak ada orang yang memberikan kursi untuk kita? Haruskah menunggu dijadikan golongan “prioritas” supaya sadar untuk menyadari keegoisan di masa muda?

Sebelum terlambat, marilah kita mulai untuk berubah dari hal-hal kecil, kejadian-kejadian kecil yang sebelumnya selalu kita abaikan. Perlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan.

avatar
Aku suka banget sama kutipan berikut: "Love is just a word until someone comes along and gives it meaning" -- Paulo Coelho. Aku OMK dari Paroki St. Bernadeth, Ciledug -- Tangerang, Banten.