Api Penyucian dalam Gereja Katolik: Berlainan dengan Siksa Neraka

1
3299

Persoalan utama mengapa Gereja Katolik mendoakan orang mati, sementara Gereja Kristen non-Katolik tidak mendoakan orang mati, salah satunya terletak di sini: Api Penyucian. Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’ atau proses kita disucikan.

Gereja Katolik mengakui adanya Api Penyucian sementara orang-orang Kristen non-Katolik tidak mengakui adanya Api Penyucian; sebab menurut mereka Api Penyucian itu hanya karangan Gereja Katolik.

Gereja Katolik mengajarkan tentang Api Penyucian di dalam Katekismus Gereja Katolik #1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

  • Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.
  • Pemurnian di dalam Api Penyucian sangat berlainan dengan siksa neraka.
  • Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

Pertama, “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

Kedua, Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “… tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat 12:32). Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian.

Ketiga, rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1 Kor 3:15). Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’ sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

Keempat, Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).

Kita sudah melihat bahwa ajaran mengenai adanya Api Penyucian bukan karangan Gereja Katolik. Keberadaan Api Penyucian bisa ditelusuri di dalam Kitab Suci. Entah mengapa Gereja Kristen non-Katolik tidak melihat itu di dalam Kitab Suci mereka.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa tentulah Tuhan dan hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga atau neraka. Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa dengan adanya masa pemurnian di Api Penyucian inilah, makanya doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).

Referensi:
http://www.katolisitas.org/bersyukurlah-ada-api-penyucian/
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/is-purgatory-in-the-bible
https://www.catholic.com/video/is-purgatory-in-the-bible

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.