Belajar Bersyukur dari Orang Samaria yang Sakit Kusta

0
433
KasunChamara / Pixabay

Belajar Bersyukur dari Orang Samaria yang Sakit Kusta: Renungan Harian Katolik, Rabu 13 November 2019JalaPress.com; Injil: Luk. 17:11-19

Kisah yang diceritakan dalam Injil hari ini cukup menarik. Diceritakan bahwa ‘dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”’ (Luk. 17:11-13).

Kita tahu bahwa kusta merupakan penyakit kulit yang bersifat menular. Biasanya, penularannya melalui kontak fisik. Dan, pada zaman Yesus, kusta merupakan istilah umum untuk menyebut semua gejala penyakit kulit yang dianggap sulit untuk disembuhkan.

Karena penyakit ini bersifat menular, maka zaman dulu, orang kusta tidak boleh tinggal bersama dengan masyarakat lainnya. Mereka harus tinggal jauh dari kampung. Persis itu yang terjadi di dalam cerita Injil hari ini. Dalam Injil dikatakan bahwa Yesus bertemu dengan mereka di suatu ‘desa’. Barangkali itu adalah kampung yang dikhususkan buat mereka.

Selain diasingkan, kalau ketemu dengan orang, mereka harus berdiri agak jauh supaya tidak terjadi kontak fisik. Makanya jangan heran juga kalau dalam Injil hari ini dikatakan bahwa mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak meminta tolong kepada Yesus yang sedang lewat.

Menariknya, Yesus ternyata tidak langsung bilang, “Baiklah, sekarang kamu sembuh,” seperti biasa dilakukan-Nya, tapi Ia justru memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (Luk. 17:14). Mengapa harus pergi menghadap imam?”

Perlu kita ketahui bahwa zaman dulu belum ada dokter, seperti sekarang. Dulu, pekerjaan mendiagnosa sakit dan penyakit menjadi ranahnya para imam. Imamlah yang bertanggung jawab untuk menilai apakah seorang kusta boleh kembali ke masyarakat atau tidak (Im. 14:2).

Kesepuluh orang kusta itu menaati perintah-Nya, pergi untuk melaporkan kesembuhan diri mereka, sementara mereka belum sembuh. Ternyata di tengah jalan mereka sembuh. Tapi, hanya satu orang yang kembali untuk mengucap syukur. Yang sembilan lainnya tidak kembali.

Uniknya, yang kembali justru orang Samaria. Zaman itu, orang Samaria selalu dipandang sebelah mata. Mereka dianggap sebagai penyembah berhala, orang-orang berdarah campuran, dan segala hal negatif disematkan pada mereka. Itulah yang membuat Yesus tampak terkejut.

Lalu, apa kata Yesus? Ia berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:17-18). Apa pesan tersembunyi dari perkataan Yesus ini? Yesus sebetulnya mau supaya kesembilan lainnya juga kembali untuk mengucap syukur.

Pesan itu pun berlaku untuk kita; sebab kita juga sudah menerima banyak hal dari Tuhan. Hanya satu yang Tuhan mau dari kita: yaitu bersyukur. Tuhan mau kita bersyukur. Kita harus belajar dari orang Samaria ini untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Jangan sampai saat meminta kepada Tuhan kita berapi-api dan ngoceh di hadapan Tuhan, tetapi begitu Tuhan memberikan apa yang kita minta, kita justru diam-diam menghilang entah ke mana.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.