Menjadi Hamba Tuhan atau Pengabdi Setan: Kita yang Mana?

0
442

Refleksi ini didasarkan pada bacaan-bacaan hari Selasa, 12 November 2019, yang lalu. Adapun bacaan-bacaan yang dimaksud adalah Bacaan I: Keb. 2:23 – 3:9 dan Injil: Luk. 17:7-10.

Kitab Kebijaksanaan menyebutkan bahwa Allah telah menciptakaan manusia, kita-kita ini, untuk kebakaan, dan manusia itu dijadikan-Nya menurut gambar hakekat-Nya sendiri (lih. Keb. 2:23). Apa arti kalimat ini?

Kata ‘kebakaan’ diambil dari kata dasar ‘baka’ yang artinya: tidak berubah selama-lamanya, abadi, dan kekal. Jadi, manusia – yang diciptakan oleh Tuhan menurut gambar-Nya sendiri – sejatinya hidup abadi di bumi, alias tidak mati; sebab Tuhan sendiri berfirman:

“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (lih. Kej. 1:28).

Seperti Tuhan tidak dapat lenyap, begitu pula dengan manusia ciptaan-Nya. Ini merupakan nasib dari setiap orang andaikata kematian tidak datang ke dunia. Sejak kapan kematian itu ada? Peristiwa kematian baru muncul setelah manusia jatuh ke dalam dosa.

Apa hubungan antara dosa dan kematian? Paulus bilang bahwa ‘upah dosa ialah maut’ (lih. Rm. 6:23). Manusia mati karena berdosa. Jika saja manusia pertama tidak jatuh ke dalam dosa, barangkali sampai sekarang tidak ada yang mati. Dunia penuh dengan manusia.

Dalam Kitab Kejadian dikatakan bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman kepada mereka:

“Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:17-19.

Siapa yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa? Kitab Kejadian jelas-jelas bilang: setan. Setanlah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Makanya, dalam Kitab Kebijaksanaan juga dikatakan bahwa ‘karena dengki setan maka maut masuk ke dunia’ (Keb. 2:24). Memang, setan dalam Kitab Kejadian tampil dalam sosok ular. Tapi, tidak selamanya dalam rupa ular. Setan bisa hadir dalam rupa apa saja, termasuk dalam rupa manusia.

Kita harus tahu bahwa setan itu canggih dan pro-aktif. Dia tidak akan tinggal diam. Bagi setan, makin banyak pengikut, makin bagus. Kitab Kebijaksanaan bilang yang menjadi milik setan mencari maut’ (Keb. 2:24). Siapa saja yang termasuk milik setan? Yaitu orang-orang yang selalu mencari masalah dalam hidupnya, mereka yang senang melihat orang lain susah, mereka yang selalu iri terhadap kesuksesan orang lain, dan sederetnya.

Pilihan ada di tangan kita: entah menjadi abdi setan atau hamba Tuhan. Hamba Tuhan adalah orang-orang yang percaya dan setia pada Tuhan. Jika yang menjadi milik setan (abdi setan) mencari maut, tidak demikian bagi hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan justru tidak mendapat siksaan maut. Kitab Kebijaksanaan bilang:

“Jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran. Namun mereka berada dalam ketentraman. Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan. Setelah disiksa sebentar, mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya” (Keb. 3:1-5).

Kita diharapkan supaya menjadi hamba Tuhan. Tugas seorang hamba adalah melakukan apa yang dikehendaki oleh tuannya. Sebagai hamba Tuhan, kita diharapkan melakukan kehendak Tuhan, bukan kemauan setan. Jangan pernah menjadi pengabdi setan; sebab setan hanya akan membawa kita pada kebinasaan dan maut. Lagi-lagi Kitab Kebijaksanaan bilang: “Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan Allah” (Keb. 3:9).

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.