Perkawinan Katolik Tak Terceraikan: sampai Maut Memisahkan

0
3919

Ketika kita berbicara soal perkawinan, itu berarti kita berbicara mengenai KOMITMEN. Komitmen untuk apa? Tidak lain adalah komitmen dari seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama sebagai suami-istri.

Tanda dari komitmen itu diungkapkan dengan sangat baik di dalam bacaan Injil Mrk. 10:6-9, yaitu bahwa ‘laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, demikian juga sebaliknya, wanita meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan suaminya’ (Mrk. 10:7). Adanya komitmen itu membuat mereka ‘menjadi satu daging’ sehingga ‘mereka bukan lagi dua melainkan satu’ (Mrk. 10:8).

Ketika kita mengatakan bahwa mereka ‘menjadi satu daging’, itu artinya mereka saling merasakan apa yang dirasakan oleh pasangannya. Apa yang dirasakan oleh suami, dirasakan oleh istri, demikian juga sebaliknya, apa yang dirasakan oleh istri dirasakan oleh suami. Kalau suami senang, istri ikut senang. Ketika istri sedih, suami juga ikut sedih.

Komitmen untuk hidup bersama sebagai suami-istri yang sudah dikukuhkan di depan altar Tuhan hanya terjadi sekali untuk selamanya. Jadi, hanya maut yang mampu memisahkannya. ‘Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia’ [Mrk. 10:9].

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa perkawinan Katolik itu tak terceraikan. Tidak ada kata ‘coba-coba’ dalam perkawinan Katolik. Orang Katolik menikah hanya sekali; dan pernikahan itu berlaku seumur hidup.

Perkawinan Katolik tidak sama seperti apa yang kita lihat di sinetron. Dalam sinetron, kawin-cerai itu biasa. Tetapi tidak demikian dengan perkawinan Katolik. Setiap orang Katolik yang sudah menikah dituntut untuk setia terhadap pasangannya sampai maut memisahkan.

Bagaimana caranya agar pasangan suami-istri itu bisa mempertahankan hidup rumah tangga dengan baik? Dalam 1 Petrus 3:1-9 disebutkan tiga cara. Pertama, dari pihak istri diminta untuk tunduk kepada suami. “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.”

Kedua, dari pihak suami diminta supaya bersikap bijaksana terhadap istri. “Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang”. Jangan hanya meminta supaya istri tunduk kepada suami, tetapi suami juga sudah seharusnya menunjukkan sikap yang bijaksana terhadap istri. Hormatilah istrimu! Jangan seenaknya membuat keputusan sendiri. Ketika merencanakan sesuatu, ajaklah istrimu berbicara.

Ketiga, suami-istri haruslah seia-sekata. Jangan jalan sendiri-sendiri. Dalam untung dan malang, haruslah selalu bersama-sama. “Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat”.

Kalau ketiga hal itu bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka yakinlah rumah tangga akan bahagia dan langgeng sampai kakek-nenek. Yang terpenting, jangan lupa mengandalkan campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan yang sudah menyatukan suami-istri, Dia jugalah yang akan memberkatinya.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.