6.2 C
New York
Sunday, November 27, 2022

Belajar dari Kisah Sodom dan Gomora Menyikapi Fenomena LGBT Saat Ini

Ketika podcast yang menghadirkan bintang tamu pasangan sesama jenis viral di media sosial, tidak sedikit orang menyinggung soal pemusnahan Kota Sodom dan Gomora (lih. Kej. 19:1-29). Apa hubungannya? Memangnya apa sebabnya Tuhan membumi-hanguskan kota Sodom dan Gomora?

Kitab Kejadian memberi tahu kita bahwa orang Sodom sangat jahat dan berdosa (Kej. 13:12-13). Namun mengenai apa persisnya dosa yang mereka lakukan, tak dijelaskan secara gamblang. Hanya dikatakan bahwa ada banyak keluh kesah orang tentang kota ini (Kej. 13:13, 18:20, dan 19:13); sehingga TUHAN berfirman:

Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kej. 18:20-21).

Apa isi dari keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora? Sampai di sini masih belum jelas bagi kita. Menjadi jelas ketika kisahnya berlanjut pada pengutusan dua malaikat ke Sodom. Atas perintah Tuhan, dua Malaikat tiba di Sodom pada waktu petang (Kej. 19:1). Mereka datang dengan satu tujuan, yakni untuk melihat apakah benar-benar orang Sodom dan Gomora itu telah berkelakuan seperti keluh kesah orang.

Diceritakan bahwa terjadi dialog antara Lot dengan kedua malaikat itu. Lot yang saat itu sedang duduk di pintu gerbang Sodom menyosong mereka serta menyebut mereka sebagai ‘Tuan’ (sebutan untuk gender laki-laki). Lot mendesak mereka supaya bermalam di rumahnya. Mereka pun menyetujuinya. Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu.

Di sinilah pertanyaan kita seputar, “Apa dosa orang Sodom dan Gomora?” mulai terungkap. Mereka yang datang itu berseru kepada Lot: “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka (Kej. 19:5).

Pakai dalam arti apa? Lot menangkap maksud mereka. Mereka ingin melakukan perilaku homoseksual dengan kedua tamu yang datang ke rumahnya itu (lih. Dr. Constable’s Notes on Genesis, 2017 Edition, hlm. 178). Karenanya Lot tidak membiarkan perilaku bejat itu terjadi, apalagi terhadap tamunya. Makanya, ia keluar dari rumahnya dan menemui mereka. Demi menghindari terjadinya perilaku seks menyimpang itu, Lot bahkan rela menyerahkan kedua putrinya kepada mereka, katanya:

“Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik” (Kej. 19:7-8).

Orang-orang Sodom itu tidak menerima jalan keluar yang diberikan oleh Lot. Mereka justru memaksa Lot supaya menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka. Kini, kedua malaikat yang diutus itu telah melihat bahwa orang-orang Sodom benar-benar berkelakuan seperti keluh kesah orang. Keduanya pun menarik Lot ke dalam rumah dan menyuruh dia serta seisi rumahnya pergi melarikan diri. Mereka berkata kepada Lot, “Kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya” (Kej. 19:13). Sodom dan Gomora pun dibumi-hanguskan. Lot dan segenap anggota keluarganya selamat, kecuali istrinya. Istrinya menjadi tiang garam karena melanggar larangan dari kedua malaikat itu (Kej. 19:17; 19:26).

Sampai di sini, kesimpulan apa yang bisa ditarik? Sodom dan Gomora dibumi-hanguskan oleh Tuhan karena perilaku bejat yang mereka lakukan. Apa itu? Yaitu perilaku seks sesama jenis atau homoseksual. Itulah sebabnya TUHAN menurunkan dari langit hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, dan menunggangbalikkan kota-kota itu (Kej. 19:24-25).

Kebutaan moral orang-orang Sodom mengantar mereka pada kebutaan spiritual, dan bahkan pada kebutaan fisik (lih. Kej. 19:11; bdk. 2 Raj. 6:18). Sementara penyelamatan Lot dan keluarganya menunjukkan bukti kasih Tuhan kepada orang benar. Tuhan tentu saja bisa menghanguskan kota Sodom tanpa ada perundingan dengan Lot atau Abraham (Kej. 18:17); tetapi Ia tidak melakukan itu sebab Ia mengasihi orang baik (bdk. Kej. 19:29).

Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa segala perilaku jahat (dosa) bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dalam Kitab Suci, segala perilaku homoseksual dipandang sebagai dosa besar; dan karenanya hukumannya besar pula (Im. 18:22, 20:13; Rm. 1:26-27).

Sekarang kita sampai pada pertanyaan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perilaku seks menyimpang atau LGBT? Jawabannya: jelas kita menolaknya. Sebab, Allah hanya menghendaki perkawinan antara laki-laki dan perempuan, bukan sesama jenis atau LGBT.

Tapi, penolakan kita terhadap perilaku seks menyimpang tidak membuat kita lantas menolak orangnya. Perilaku menyimpangnya kita tolak, orangnya kita rangkul. Itu sikap kita. Sebab, siapa kita untuk menghakimi dan menghukum mereka? Kita bukan Tuhan. Kita dan mereka adalah sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama berdosa pula. Nah, daripada kita sibuk menghakimi dan menghukum mereka, sementara kita sendiri juga belum tentu suci, maka alangkah lebih baik jika kita mendoakan mereka (seperti Abraham; Kej. 18:16-33); dan menawarkan jalan keluar kepada mereka (bdk. dengan Lot; Kej. 19:6-8).

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini