17.9 C
New York
Thursday, May 13, 2021

Belajar di Sekolah Yosef (1)

Pada 08 Desember 2020 yang lalu, Paus Fransiskus menerbitkan sebuah Surat Apostolik berjudul Patris Corde (Dengan sebuah hati bapa). Surat Apostolik ini berisi penjelasan singkat  tentang siapa itu St. Yosef berdasarkan Kitab Suci dan pemahaman serta refleksi pribadi Paus Fransiskus tentangnya.

Tujuan Surat Apostolik ini adalah meningkatkan cinta umat beriman kepada St. Yosef, mendorong umat beriman memohon kepengantaraannya dan meneladan aneka keutamaan dan semangat hidupnya.

Konteks Surat Apostolik ini adalah peringatan 150 tahun pemakluman St. Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta oleh Paus Pius IX pada 08 Desember 1870. Untuk mengenangkan peristiwa rahmat ini, selain menerbitkan Surat Apostolik “Patris Corde”, Bapa Suci juga menetapkan tahun 2021 sebagai tahun Santo Yosef. Persisnya 08 Desember 2020 sampai 08 Desember 2021 adalah rentang waktu untuk merenungkan, mendalami dan menemukan aneka keutamaan hidup St. Yosef.

Selain itu, suasana krisis yang melanda dunia karena pandemi Covid-19 turut mendorong Paus Fransiskus menerbitkan Surat Apostolik ini. Menurutnya, St. Yosef adalah pribadi yang mampu mengatasi krisis. Ia adalah ‘man of crisis.’ Dia menghadapi krisis dengan tenang sambil membuka hati bagi suara Allah: apa yang Allah kehendaki dalam suasana krisis yang sedang dihadapinya. Karena ketenangannya dan keterbukaan pada campur tangan Allah, St. Yosef bisa menghadapi krisis dengan baik.

Paus Fransiskus juga melihat bahwa banyak orang dalam masa pandemi ini yang bekerja dalam diam untuk menyelamatkan sesamanya. Mereka bekerja untuk kepentingan dunia walau perjuangan mereka tidak dipublikasikan dan barangkali juga kurang dihargai. Kenyataan ini mendorongnya untuk berbagi pemahamannya tentang St. Yosef yang bekerja dalam diam dan yang karyanya juga kurang  disadari dan dihargai oleh banyak orang. Bapa Suci mengungkapkan isi hatinya:

“Saya ingin berbagi bersama kalian beberapa refleksi pribadi tentang tokoh luar biasa ini, yang begitu dekat dengan kondisi manusiawi kita masing-masing. Keinginan ini telah tumbuh selama bulan-bulan masa pandemi ini, di mana kita dapat mengalami di tengah-tengah krisis yang melanda kita, bahwa “hidup kita dijalin bersama dan ditopang oleh orang-orang biasa, yang tidak muncul pada berita-berita utama surat kabar-surat kabar dan majalah- majalah.”

Menurut Bapa Suci, yang termasuk dalam kelompok orang yang bekerja dalam diam di tengah pandemi Covid-19  dan sering tidak muncul dalam berita-berita utama media, antara lain: para dokter, perawat, penjaga toko dan pekerja supermarket, petugas kebersihan, pengasuh, pekerja transportasi, para penegak hukum, relawan, imam dan biarawan-biarawati. Mereka telah berjuang untuk menyelamatkan sesama. Tak sedikit di antara mereka yang kehilangan nyawa dalam misi kemanusiaan ini.

Paus Fransiskus juga melihat betapa banyak bapak, ibu, kakek-nenek, dan guru menunjukkan kepada anak- anak, melalui sikap-sikap kecil sehari-hari, bagaimana menghadapi krisis dan melewatinya dengan menyesuaikan kembali kebiasaan, mengusahakan dan mendorong praktik doa. Betapa banyak juga orang  yang berdoa, berkorban, dan mendoakan demi kebaikan semua orang.

Orang-orang yang bekerja dalam diam ini barangkali bisa dianggap sebagai St. Yosef zaman ini. Karya pelayanan mereka tidak dipublikasikan. Mereka bekerja di belakang layar demi kepentingan banyak orang.

Menurut Paus Fransiskus, setiap orang dapat menemukan dalam diri Santo Yosef – laki-laki yang tidak diperhatikan, bijak dan tersembunyi, seorang perantara, pendukung dan pembimbing pada saat-saat sulit. Santo Yusef mengingatkan orang pada zaman ini bahwa yang tampaknya tersembunyi atau di “barisan kedua” memiliki peran tak tertandingi dalam sejarah keselamatan. Kata pengakuan dan penghargaan ditujukan kepada mereka semua.

Bapa Suci  juga menggarisbawahi bahwa dua Penginjil (Matius dan Lukas) yang telah menyoroti St. Yosef, menceritakan sedikit, namun cukup untuk menjelaskan bapa seperti apakah dirinya dan misi yang dipercayakan kepadanya oleh Allah.

Dengan mengutip Injil, Paus menandaskan:

“St. Yosef  adalah tukang kayu yang rendah hati (bdk. Mat. 13: 55), yang bertunangan dengan Maria (bdk. Mat. 1:18; Luk. 1:27); seorang “laki-laki yang adil” (Mat 1:19), selalu siap sedia untuk melakukan kehendak Allah yang dinyatakan kepadanya dalam Hukum-Nya bdk. Luk 2:22.27.39) dan melalui keempat mimpi (bdk. Mat 1:20; 2:13.19.22). Sesudah perjalanan panjang dan melelahkan dari Nazaret ke Betlehem, ia melihat Mesias yang lahir di sebuah kandang, karena di mana-mana “tidak ada kamar untuk mereka” (bdk. Luk 2:7). Ia menyaksikan para gembala yang menyembah-Nya dan para Majus (bdk. Mat 2:1-12), yang masing-masing mewakili bangsa Israel dan bangsa-bangsa tak bertuhan.”

Santo Yosef memiliki keberanian untuk mengemban peran kebapaan legal untuk Yesus, yang diberi-Nya nama sebagaimana dinyatakan oleh Malaikat: “engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Dalam kebiasaan bangsa-bangsa kuno, tindakan memberi nama kepada seseorang atau sesuatu  berarti memperoleh keanggotaannya seperti Adam dalam Kitab Kejadian (bdk. 2:19-20).

Bapa Suci melanjutkan uraiannya tentang St. Yosef berdasarkan Injil:

“Di Bait Allah, empat puluh hari sesudah kelahiran-Nya, bersama dengan ibu-Nya, Yusuf mempersembahkan Putranya kepada Tuhan dan mendengarkan dengan takjub ramalan Simeon tentang Yesus dan Maria (bdk. Luk 2:22-35). Untuk melindungi Yesus dari Herodes, ia tinggal sebagai orang asing di Mesir (bdk. Mat 2:13-18). Setelah kembali ke tanah kelahirannya sendiri, ia tinggal di tempat tersembunyi di sebuah desa kecil dan terpencil di Nazaret di Galilea – dari sana, dikatakan bahwa “tidak ada Nabi yang datang” (bdk. Yoh 7:52) dan “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (bdk. Yoh 1:46) – jauh dari Betlehem, kampung halamannya, dan dari Yerusalem, di mana terdapat Bait Allah. Ketika, tepatnya selama peziarahan ke Yerusalem, mereka kehilangan Yesus yang berusia dua belas tahun, ia dan Maria mencari-Nya dengan penuh kekhawatiran dan menemukan-Nya di Bait Allah ketika ia sedang berdebat dengan para alim ulama (bdk. Luk 2:41-50).”

Bersambung….

 

Sumber:  Seri Dokumen Gerejawi, “Patris Corde”  (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI 2020).

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,681FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini