0.2 C
New York
Saturday, March 6, 2021

Olah Rohani Masa Prapaskah: Berdoa, Bermatiraga dan Bersedekah

Hari ini Gereja Katolik memulai masa retret agung, prapaskah. Retret agung ini diawali dengan perayaan Rabu Abu. Pada perayaan ini, umat menerima abu (dioleskan di dahi atau ditaburkan di atas kepala). Sayangnya, pandemi Covid-19 yang belum berakhir membuat banyak umat beriman tidak bisa mengikuti perayaan ini secara langsung. Tetapi mereka yang tidak bisa ke gereja bisa mengikuti secara online atau membuat ibadat sabda di rumah dan  (bisa) menerima abu  dengan mengikuti panduan yang diberikan oleh pastor paroki atau uskup setempat.

Mengapa abu? Abu adalah simbol pertobatan. Simbol bahwa umat secara serius mau bertobat. Abu juga menyadarkan umat akan kefanaan hidup ini. Hidup ini fana dan sementara. Pada saatnya, semua orang akan meninggal dunia, akan menjadi abu. “Ingatlah, engkau abu dan akan menjadi abu.” Karena itu, mengisi hidup dengan hal-hal yang bermutu sudah seharusnya dilakukan dan diperjuangkan. Hal-hal bermutu tentu berkenan kepada Tuhan dan sesama; juga mendatangkan sukacita dalam hidup pribadi.

Masa retret agung ini memang menjadi kesempatan istimewa untuk merenung, membarui diri dan membuat komitmen untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semangat dasarnya adalah pertobatan. Pertobatan tentu tidak sekadar mengakui kerapuhan dan dosa, lalu menyesal dan mohon ampun dari Allah yang Maharahim. Pertobatan itu terutama pembaruan hidup: meninggalkan cara hidup lama yang tak berkenan kepada Tuhan, sesama, alam dan memulai cara hidup baru yang semakin berkenan kepada Tuhan, sesama dan alam ciptaan-Nya.

Berdoa, bermatiraga dan bersedekah adalah tiga hal penting yang perlu dilakukan secara serius oleh orang katolik selama masa retret agung ini. Ketiga hal ini bisa disebut sebagai olah rohani yang perlu dilakukan.

Berdoa

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Isi komunikasi itu, antara lain: pujian dan syukur atas kebaikan Tuhan, permohonan agar Tuhan melindungi dan memberkati ziarah hidup selanjutnya, juga permohonan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan. Isi komunikasi  dengan Tuhan yang tak pernah boleh diabaikan juga adalah penyerahan diri. Melalui doa, kita menyerahkan diri secara total kepada Tuhan, menyerahkan suka duka dan juga rencana hidup ke depan. Kita diajak untuk lebih sering dan lebih tekun berkomunikasi dengan Tuhan lebih dari sebelumnya. Yang perlu digarisbawahi adalah  kesungguhan atau ketekunan dalam berdoa.

Hendaknya ketekunan dalam berdoa itu muncul dari dalam lubuk  hati, bukan supaya dianggap orang suci atau supaya dipuji atau dikagumi orang lain sebagai orang saleh. Ingatlah nasihat Yesus dalam Injil hari ini. “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:5-6)

Bermatiraga: Puasa dan Pantang

Dalam masa retret agung ini, umat katolik  juga diajak untuk berpuasa dan berpantang. Berpuasa adalah makan kenyang satu kali sehari. Misalnya, Anda memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Anda berusaha untuk hanya satu kali makan sampai kenyang. Dua kesempatan lainnya hanya makan sedikit atau tidak sampai kenyang. Kapan berpuasa? Kita berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, hanya dua kali selama masa Prapaskah!  Yang wajib berpuasa adalah yang berumur 18 tahun sampai 60 tahun.

Berpantang adalah tidak menikmati apa yang menjadi kesukaan kita. Misalnya, pantang makan daging atau ikan, atau bagi yang suka rokok pantang merokok, atau pantang buka akun medsos (FB, Wa, IG atau Twitter) bagi yang selama ini sulit lepas dari hal-hal demikian. Kapan kita berpantang? Kita berpantang pada setiap Jumat dalam Masa Prapaskah dan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung.  Yang diwajibkan berpantang adalah semua yang berumur 14 tahun ke atas.

Siapakah yang tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa?

  • Mereka yang masih belum berusia 14 tahun (pantang) dan 18 tahun (puasa) serta yang sudah berusia 60-an tahun (puasa).
  • Mereka yang karena alasan wajar dan masuk akal tidak bisa berpantang dan berpuasa, misalnya, perempuan hamil, orang sakit dan pekerja berat.
  • Mereka yang berlayar atau melaut (menangkap ikan) atau untuk alasan tertentu sedang dalam perjalanan di laut tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa (bdk. KHK 1251).

Penting untuk disadari bahwa nilai yang diperjuangkan di balik pantang dan puasa adalah pengendalian diri.  Ini bentuk olah rohani agar kita mampu menguasai tubuh kita sendiri. Kita bermati raga agar  kita tak selalu dikendalikan oleh keinginan tubuh kita sendiri.

Aturan pantang dan puasa yang ditetapkan oleh  Magisterium (wewenang atau kuasa mengajar) Gereja Katolik tentu saja aturan minimal. Dengan demikian, kita bisa melakukan yang lebih dari ini. Misalnya berpantang setiap hari atau berpuasa setiap hari. Tapi ini harus muncul dari kesadaran pribadi atau kerinduan hati.

Janganlah pula berpantang dan berpuasa supaya dipuji atau dikagumi orang lain. Ingatlah nasihat Yesus dalam Injil hari ini. “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:16-18) 

Bersedekah atau Beramal

Hal  ketiga yang sangat penting dilakukan selama  masa prapaskah adalah beramal atau berbagi dengan sesama, terutama yang sangat membutuhkannya. Apalagi pada masa pandemi banyak orang yang menderita dan mengalami kesulitan dalam hidup. Kita diundang untuk peduli dengan mereka, membantu mereka seturut kemampuan kita masing-masing.

Menurut saya, orang yang tekun berdoa dan bermatiraga (berpantang dan berpuasa) pasti selalu tergerak hatinya untuk berbagi atau bersedekah dengan sesama. Orang yang tekun berdoa dan bermatiraga pasti hatinya selalu tergerak oleh belaskasihan seperti Yesus untuk berbagi dan menolong sesamanya. Ia pasti peduli dengan sesamanya.

Siapa yang bersedekah? Semua orang katolik. Bahkan anak-anak sekolah dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi juga diajak untuk berbagi atau bersedekah. Biasanya anak-anak sekolah diminta mengumpulkan sejumlah uang atau barang yang pada saatnya disalurkan kepada pihak yang membutuhkannya. Demikian juga dengan umat beriman lain. Melalui Paroki atau wilayah, semuanya diajak untuk terlibat dalam gerakan berbagi kasih ini.  Semuanya diajak untuk peduli dengan sesama sebagaimana Yesus sangat peduli dengan manusia.

Harapannya tindakan beramal atau bersedekah ini dilakukan dengan tulus dan bukan karena kewajiban atau karena terpaksa atau supaya dipuji oleh orang lain. Beramal atau bersedekah juga sebaiknya tidak perlu dipamerkan ke seluruh dunia melalui media sosial. Ingatlah nasihat Yesus dalam bacaan Injil hari ini. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:2-4)

Kalau dilakukan dengan tulus, bersedekah atau beramal ini pasti berkenan kepada Tuhan dan mendatangkan sukacita bagi yang menerimanya maupun kita yang memberikannya. Yakinlah, rahmat secukupnya akan dianugerahkan oleh Tuhan Yesus kepada orang yang bersedekah dengan tulus.

Selamat memasuki  masa retret agung, prapaskah. Selamat berdoa dengan tekun, bermatiraga (berpantang dan berpuasa) dan  beramal-bersedekah. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita semua. Dia Emanuel!***

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,513FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini