2.8 C
New York
Saturday, November 27, 2021

Berita Injil: dari Tradisi Lisan menjadi Tertulis

Kitab Suci, terutama Perjanjian Baru, adalah buku biografi tentang Yesus. Karenanya, untuk mengenal Yesus secara mendalam, setiap kita harus membaca Kitab Suci. Santo Hieronimus – Pelindung para ahli Kitab Suci – berkata: “Tidak mengetahui Kitab Suci (Injil) berarti tidak mengetahui Kristus.”

Dan itu benar. Kita tidak dapat tahu secara baik dan benar tentang Yesus dan karya-Nya jika kita tidak membaca Kitab Suci (Injil). Yang perlu diingat bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh seorang manusia dari zaman-Nya. Dia adalah seorang Yahudi dari abad pertama, yang berbicara, berbuat, serta berpikir seperti orang Yahudi pada umumnya saat itu. Karenanya, sabda dan karya Yesus harus dipahami dalam konteks waktu dan tempat.

Sekarang ini, apabila kita mendengar kata ‘Injil’, kita langsung berpikir tentang salah satu dari keempat Injil. Padahal, Injil pada dasarnya menyangkut pewartaan dan pendengaran, bukan tentang penulisan dan pembacaan. Kata Injil pada awalnya menunjuk pada suatu kata yang diucapkan.

Injil (dalam bahasa Inggris ‘Gospel’) berarti Kabar Baik. Kata itu sendiri adalah terjemahan harfiah dari kata Yunani ‘euangelion’ yang mengandung arti yang sama dan menunjuk pada kabar baik tentang keselamatan. Yesus mengucapkan Kabar Baik itu, dan Dia menghendaki agar kabar itu didengarkan. Maka jangan heran ketika membaca tulisan Matius yang berbunyi: “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu” (lih. Mat. 4:23).

Kita harus mengetahui bahwa Injil-injil berisi ‘sabda dan perbuatan’ Yesus. Sebelum Injil ditulis, para rasul dan para pewarta Kristen perdana sudah menyebarluaskan secara lisan Kabar Baik tentang sabda dan perbuatan Yesus. Kita menyebutnya tradisi lisan. Sebelum para rasul dan para pewarta lainnya mewartakan, Yesus secara pribadi telah mewartakan Kabar Baik melalui sabda dan perbuatan-Nya.

Dalam perjalanan waktu, kata Injil mendapat arti yang lebih khusus, dan berubah arti menjadi kisah tertulis tentang kehidupan dan ajaran Yesus. Para pengarang keempat Injil pun mulai dikenal sebagai penulis Injil. Pergeseran tekanan dari sabda lisan ke sabda tertulis tercapai sekitar abad kedua Masehi.

Yesus tidak pernah menulis Injil. Ia juga tidak mengambil bagian dalam proses penulisan keempat Injil. Bahan-bahan tertulis tentang ajaran-ajaran-Nya ditulis oleh orang lain. Oleh karena itu, apabila kita memakai kata Injil, kita menunjuk pada:

  • Kabar Baik yang diwartakan oleh Yesus sendiri, misalnya dalam Mrk. 1:14-15: “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
  • Pewartaan yang disampaikan oleh para rasul tentang Yesus Kristus dan tentang keselamatan yang ditemukan di dalam diri-Nya, misalnya dalam Kis. 15:7, “berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.’”

Dipandang dari sudut tertentu, pewartaan tidak tertulis mempunyai prioritas terhadap pewartaan tertulis, bukan hanya karena mendahului terjadinya Kitab Suci, tetapi karena kemampuannya sebagai alat penerusan wahyu. Kemampuan Tradisi untuk menjadi sarana penerusan seluruh Injil tentu saja melebihi kemampuan Kitab Suci.

Dibandingkan dengan Kitab Suci, bentuk penerusan wahyu secara tidak tertulis memang lebih serupa dengan wahyu itu sendiri. Wahyu sendiri diterima oleh para rasul dalam kontak langsung dengan Yesus. Apa yang mereka alami tentang Yesus itu mereka saksikan dan kumpulkan langsung dari ‘mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri’. Dalam pewartaan tidak tertulis, seluruh wahyu yang langsung itu mereka teruskan dengan cara yang serupa, yakni dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan.

Kitab Suci, terpaksa oleh keadaannya sebagai dokumen tertulis, memuat wahyu hanya dalam bentuk verbal (mis., berita, cerita, ajaran, mudah pujian, dst.,). Makanya, Yohanes dalam Injil yang ditulisnya berkata: “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (lih. Yoh. 21:25).

Sampai di sini kita jadi tahu bahwa memang tidak semua hal ditulis di dalam Kitab Suci. Namun tidak berarti bahwa hal-hal yang tidak dituliskan itu tidak pernah terjadi. Gereja Katolik memelihara dan mewariskan hal-hal yang tidak tertulis di dalam Kitab Suci itu melalui Tradisi. Dalam Tradisi, wahyu diungkapkan secara lebih intensif, dan berkat kekuatan Tradisi ini petunjuk verbal dari Kitab Suci menerima dimensinya yang tepat, yaitu pewartaan yang hidup.

Referensi:
Hendrickx, Herman. 2016. Satu Yesus Empat Injil (terj.,). Jakarta: Obor, hlm. 3-15
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 1, Allah Penyelamat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hlm. 102-103.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini