12.5 C
New York
Monday, April 12, 2021

Belajar di Sekolah Yosef (3): “Seorang Bapak yang Lembut dan Penuh Kasih”

Saya melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang Surat Apostolik Paus Fransiskus, Patris Corde.

Pada bagian ini saya secara khusus menyajikan refleksi pribadi Paus Fransiskus tentang St. Yosef sebagai “Seorang Bapak yang Lembut dan Penuh Kasih”.

Menurut Bapa Suci, sikap lembut dan penuh kasih melekat dalam diri St. Yosef. Dalam hal mana St. Yosef tampak sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih? Mari kita simak uraian berikut ini.

Penulis Injil tidak mencatat banyak hal tentang bagaimana Yesus bertumbuh dengan baik di bawah bimbingan Yosef. Tetapi sebagai seorang bapak yang lembut dan penuh kasih, Yosef pasti sangat bertanggung jawab dengan perutusannya yang ia terima dari Allah. Ia pasti melihat Yesus bertumbuh dari hari ke hari. Ia menyaksikan bagaimana Yesus “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52).

St. Yosef juga pasti “mengajar-Nya berjalan, dengan memegang-Nya dengan tangannya: Bagi-Nya ia seperti seorang ayah yang mengangkat seorang anak ke pipinya, dengan membungkuk kepada-Nya untuk memberi-Nya makan” (bdk. Hos 11:3-4)  sebagaimana dilakukan Tuhan kepada Israel.

Paus Fransiskus juga merefleksikan bahwa Yesus melihat kelemahlembutan Allah pada  diri St. Yosef: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13). St. Yosef pasti  juga telah mendengar gema di sinagoga, selama doa Mazmur bahwa Allah Israel adalah Allah yang lemah lembut, yang baik kepada setiap orang dan yang “penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:9).

Kemudian Bapa Suci merefleksikan bahwa sesungguhnya sejarah keselamatan terpenuhi melalui kelemahan kita. Kita terlalu sering berpikir bahwa Allah hanya mengandalkan bagian diri kita yang baik dan berhasil, sementara pada kenyataannya kebanyakan rencana-Nya terpenuhi dalam kelemahan kita.

Tentang  rencana Allah yang justru terpenuhi dalam kelemahan kita, Paus Fransiskus mengutip pernyataan penting dari Santo Paulus berikut ini.

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna’” (2Kor 12:7-9).

Jika tata keselamatan yang ditawarkan Allah justru terpenuhi dalam kelemahan kita, maka kita seharusnya belajar menerima kelemahan kita dengan kelembutan mendalam. Dengan demikian, sikap mudah putus asa dan tidak menerima aneka kelemahan diri bukanlah sikap yang bijak.

Tentang kerapuhan manusiawi ini, Paus Fransiskus merefleksikan:

“Si Jahat menyebabkan kita memandang kerapuhan kita dengan penilaian negatif, sementara Roh meneranginya dengan kelemahlembutan. Kelemahlembutan adalah cara terbaik untuk menyentuh apa yang rapuh dalam diri kita. Jari yang menunjuk dan penilaian yang digunakan kepada orang lain sering kali menjadi tanda ketidakmampuan untuk menerima kelemahan-kelemahan dalam diri kita sendiri, kerapuhan kita. Hanya kelembutan akan menyelamatkan kita dari perbuatan pendakwa (bdk. Why 12:10).”

Berdasarkan kutipan ini bisa kita katakan bahwa selain memandang kerapuhan dan kelemahan diri sendiri dengan kelemahlembutan, kita juga seharus bersikap lemah lembut terhadap kerapuhan dan kelemahan orang lain. Sering kali kita menghakimi kerapuhan dan kelemahan orang lain atau bahkan menganggap orang lain sebagai pendosa yang tak layak dikasihani. Sikap ini, menurut Bapa Suci, adalah tanda bahwa kita sesungguhnya tidak mampu menerima kelemahan dan kerapuhan dalam diri kita sendiri.

Menurut Bapa Suci, supaya kita bijak menyikapi kerapuhan diri sendiri dan orang lain, penting sekali kita menerima Sakramen Rekonsiliasi (Tobat). Ini adalah kesempatan untuk menjumpai Allah yang penuh belas kasih dan lemah lembut kepada kita yang rapuh dan penuh dosa. Allah yang Maharahim menantikan pendosa pulang ke pangkuannya (bertobat) dan Ia menerimanya dengan rahim yang terbuka lebar. Begitulah Allah bersikap bijak terhadap segala kerapuhan, kelemahan dan dosa kita.

Bapa Suci melanjutkan refleksinya:

“Secara paradoks meskipun si Jahat dapat mengatakan kepada kita kebenaran, tetapi itu dilakukannya hanya untuk menghukum kita. Namun demikian, kita tahu bahwa Kebenaran yang datang dari Allah tidak menghukum kita, tetapi menerima kita, mendukung kita, mengampuni kita. Kebenaran selalu menghadirkan dirinya kepada kita sebagai Bapa yang penuh kerahiman seperti dalam perumpamaan Yesus (bdk. Luk 15:11-32): datang untuk menjumpai kita, memulihkan martabat kita, membuat kita kembali berdiri tegak dan bersukacita bagi kita, dengan motivasi bahwa “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (ay 24).

Menurut Paus Fransiskus, melalui kecemasan dan kerapuhan Yosef, terjadilah kehendak Allah. Dari Yosef kita belajar bahwa memiliki iman kepada Tuhan juga mencakup kepercayaan bahwa Dia  dapat bekerja melalui ketakutan, kerapuhan,  dan kelemahan kita.  Ia juga mengajarkan kita bahwa, di tengah prahara kehidupan, kita tidak boleh takut untuk menyerahkan kemudi perahu kita kepada Allah.

Dalam menghadapi kerapuhan, ketakutan dan kelemahan diri sendiri, seperti St. Yosef, kita tidak boleh mengandalkan kemampuan sendiri. Kita perlu mengandalkan Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh St. Yosef.  Ini sikap yang bijaksana. Jika demikian, semuanya akan baik-baik saja. Bahkan keselamatan yang ditawarkan Allah juga terwujud melalui kerapuhan diri kita. Tapi jika mengandalkan kemampuan diri sendiri (mengabaikan Allah),  kita pasti gagal, mudah putus asa dan kecewa dengan diri sendiri. Akhirnya, kita tidak bisa berkembang dengan baik  selaras dengan kehendak Allah.

Bersambung….

Sumber:  Seri Dokumen Gerejawi, “Patris Corde”  (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI 2020).

 

 

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,547FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini