Berhenti Berpikir Negatif tentang Sesama

0
41
Sumber: Google. com

Tatkala Anda mencintai seseorang, apapun yang dilakukannya menyenangkanmu, walaupun kenyataannya ia keliru, bahkan melakukan kesalahan, entah besar, entah kecil. Anda selalu memahaminya, memaafkannya; memberi kesempatan kepadanya untuk berubah-membaharui diri.

Namun, ketika Anda membenci seseorang, apapun yang dilakukannya menjengkelkan, bahkan menyakitimu; walaupun kenyataannya ia melakukan kebaikan, entah besar, entah kecil. Dunia tahu ia melakukan kebaikan, tapi tidak bagimu. “Ia pribadi yang tdk baik!” Ini saja yang ada dalam benakmu. Anda tidak mau dan tidak mampu memahaminya, tidak mau memberi kesempatan kepadanya untuk membaharui diri; apalagi memaafkan kekhilafannya. Mata Anda tertutup untuk melihat aneka kebaikan yang dilakukannya.

Jadi, baik tidaknya seseorang sangat tergantung pada kecintaanmu padanya. Cara pandangmu terhadap seseorang sering kali dipasung oleh pengalaman ‘pahit’ bersamanya pada hari kemarin; padahal hari ini ia telah berubah dalam banyak hal. Hari ini ia lebih baik; ia telah membaharui dirinya. Hari ini Anda seharusnya bergembira-mencintainya.

Kira-kira seperti itulah yang terjadi dalam Injil hari Minggu Prapasah IV, hari ini (Yoh.9:1-41). Orang-orang Farisi berpikir negatif tentang Yesus.Tindakan Yesus yang membuat orang buta sejak lahir bisa melihat tak membuat mata hati mereka terbuka akan kebaikan Allah yang tak terhingga melalui Yesus. Tindakan Yesus barangkali mengganggu kemapanan mereka sebagai orang-orang penting dalam agama Yahudi tapi tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan penderitaan umat. Bahkan mereka menganggap Yesus tidak datang dari Allah karena tidak memelihara hari Sabat. Ada juga yang menganggap Yesus sebagai pendosa. Singkatnya, apa saja yang dilakukan oleh Yesus selalu tak baik di hadapan orang-orang Farisi.

Memang, berpikir negatif tentang orang lain mengaburkan, bahkan menguburkan aneka kebaikan-kebajikan hidup yang ada padanya. Anda tentu menderita sendiri dengan sikapmu. Berpikir negatif menyusahkan diri sendiri; membuat hidup tidak bahagia. Bisa jadi dia yang Anda anggap jelek sering kali sangat bahagia ketimbang Anda yang berpikir negatif tentangnya.

Sekarang, marilah mengubah haluan; mengubah cara pandang Anda tentangnya. Hentikan curiga; hentikan prasangka buruk terhadapnya. Dia orang baik, tidak seperti yang Anda duga. Yang perlu diubah adalah cara pandangmu tentangnya. Berpikirlah positif tentangnya. Walau kadang-kadang ia keliru, bahkan melakukan kesalahan, itu tidak menjadi alasan bagimu untuk membencinya. Berilah kesempatan kepadanya untuk membaharui hidup. Esok ia akan semakin baik dan akan menjadi sahabat sejatimu.

Siapapun yang berpikir positif tentang orang lain akan selalu diliputi kebahagiaan. Tapi, siapapun yang selalu berpikir negatif tentang orang lain akan diliputi penderitaan batin.***

                 Sumber: Google.com
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.