Renungan Prapaskah: Koyakkan Hatimu dan Jangan Pakaianmu!

0
239

Bagi kita orang Katolik, Masa Prapaskah adalah masa tobat. Masa Tobat ini akan kita lalui selama 40 hari ke depan. Masa ini dikenal juga sebagai masa retret agung. Mengapa perlu ada masa tobat? Karena kita orang berdosa.

Dalam bacaan Kitab Suci dikatakan: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yl. 2:13).

Mengapa Yoel mengatakan koyakkan hati dan jangan pakaian? Karena pada zaman dahulu, ketika seseorang berkabung dan menyesali dosanya,  ia mengoyakkan pakaiannya dan menaruh tanah di atas kepalanya. Sebagai contoh:

  • Ketika Yakub diberitahu bahwa Yusuf, anaknya, telah mati, ia pun mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu (Kej. 37:34).
  • Yosua pun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya (Yos. 7:6).
  • Ketika terjadi pertempuran yang hebat, seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya (1 Sam. 4:12).
  • Datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah (2 Sam. 1:2).
  • Ahab, raja Israel (lih. 1 Raj. 16:29), sadar bahwa ia sudah berlaku salah di hadapan Tuhan. Maka ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban (1 Raj. 21:27).
  • Segera sesudah raja Israel membaca surat dari raja Aram, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku” (2 Raj. 5:7).
  • Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya (2 Raj. 6:30).

Yoel menilai bahwa perbaikan diri jauh lebih penting daripada sekedar mengubah penampilan fisik. Tuhan tidak senang orang yang suka pamer. Upah dari pamer adalah pujian dari manusia semata, tapi tidak beroleh upah dari Bapa di surga.

Tuhan bersabda: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yl. 2:12). Maka, bertobat berarti juga berdamai dengan Allah. Paulus menganjurkan: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor. 5:20). Dalam masa tobat ini, kita membangun kembali relasi kita dengan Allah, relasi yang sempat terputus karena dosa.

Yesus sudah mewanti-wanti, kata-Nya: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Mat. 6:1).

Kita menjalankan kewajiban beragama bukan untuk dipuji orang. Adapun kewajiban kita selama Masa Tobat ini adalah berpuasa dan berpantang. Tidak perlu seluruh dunia tahu bahwa kita sedang berpuasa dan berpantang. Maka, jika sedang berpuasa dan berpantang, tidak perlu pamer wajah kusam, bibir pecah-pecah, dan lusuh. Yesus bilang: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat. 6:16).

Yesus justru menyerukan: “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat. 6:17-18).

Ingat, kita berpuasa dan berpantang bukan sekedar kurangi makan dan minum, atau menghindari hal-hal yang menjadi kesukaan kita. Itu namanya diet dan hemat. Dengan menyerukan berpuasa dan berpantang, Yesus tidak berbicara soal diet dan hemat. Puasa dan pantang adalah upaya untuk perbaikan diri dan melatih sikap solider terhadap orang lain. Makanya, bagi kita, doa, tobat, dan tolong menolong itu satu paket.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected]