Berjaga-jaga seperti Bunda Maria

0
462
OmarHaz / Pixabay

“Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan”. (Luk. 12:39-40)

Kewaspadaan adalah sikap yang perlu dimiliki oleh setiap manusia. Ia waspada terhadap apa yang terjadi dalam hidup selanjutnya. Wajar bahwa setiap orang hanya mendambakan segala yang baik  akan terjadi dalam hidupnya.  Bila  segala yang baik itu terjadi, orang pasti bersuka cita. Akan tetapi, hal-hal yang tak baik atau kurang baik dan tak diinginkan kadang-kadang terjadi dalam hidup ini. Misalnya, menderita sakit, kehilangan orang tertentu, kehilangan barang atau harta tertentu, kehilangan pekerjaan dan kematian. Ini bagian dari hidup manusia. Tidak didambakan tetapi terjadi.

Sebelum hal-hal demikian terjadi, setiap orang perlu waspada; perlu hati-hati. Misalnya, menjaga kesehatan, menjaga tali persaudaraan atau menyimpan dengan baik barang atau harta tertentu. Sayangnya, hal-hal demikian sering kali datang pada saat orang lengah atau kurang waspada.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang kewaspadaan. Yesus mengingatkan para murid dan pendengar-Nya bahwa Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak disangkakan.  ‘Saat Anak Manusia datang’ itu boleh ditafsirkan sebagai saat orang meninggal dunia atau saat akhir zaman. Saat itu akan datang.  Ia pasti akan datang, walau waktunya tidak kita ketahui. Ia akan datang seperti pencuri ketika tuan rumah lengah.

Menurut Yesus, murid-murid-Nya perlu menyadari tentang saat kedatangan Anak Manusia itu. Sambil menantikan kedatangan Anak Manusia itu,  para murid harus tetapi tetap melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka. Tugas-tugas itu adalah melakukan kebaikan, mewartakan sukacita kerajaan Allah.

“Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya (ay. 43-44).”

Ini ungkapan penting yang keluar dari mulut Yesus apabila para murid-Nya selalu waspada dengan berbuat baik; bertanggung jawab dengan perutusan yang dipercayakan-Nya kepada mereka.

Bunda Maria adalah bunda yang selalu berjaga-jaga dalam hidupnya. Ia hanya mengisi hidupnya dengan melakukan kehendak Tuhan sesuai dengan kata hatinya,  “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (bdk. Luk.1:38). Buktinya adalah ia sangat setia mengikuti Putra-Nya termasuk ketika Putranya ditinggalkan oleh para murid-Nya saat penderitaan-Nya.

Bahkan ketika Yesus sudah naik ke surga, ia tetap menyertai para murid Putranya yang sudah mulai berkumpul lagi melanjutkan misi sang guru (bdk. Kis. 1:12-14). Begitulah cara Bunda Maria berjaga-jaga, berwaspada sambil berbuat baik sesuai dengan kehendak Allah yang memanggilnya. Kita yakin Allah selalu berbangga dengan bunda Maria karena ia hanya melakukan kehendak Allah; ia bertanggung jawab dengan panggilannya sebagai bunda Allah dan bunda Gereja.

Hari  ini, Yesus mengajak kita agar selalu waspada, selalu berjaga-jaga dengan berbuat baik sambil menanti hari kedatangan-Nya yang kita tidak tahu kapan persisnya. Kita diajak bertanggung jawab dengan perutusan yang kita terima dari-Nya. Di sisa hidup kita masing-masing, kita hanya perlu berjuang melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan seperti Bunda Maria. Kita telah mendapatkan banyak hal dari Tuhan dan kita juga dituntut melakukan banyak hal baik yang dikehendaki Tuhan (bdk. Ay. 48). Bunda Maria adalah teladan kita. ***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.