Nasihat Paulus: Hendaklah Dosa Jangan Berkuasa Lagi

0
326
scholty1970 / Pixabay

Hendaklah Dosa Jangan Berkuasa Lagi: Renungan Harian Katolik, Rabu 23 Oktober 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Rm. 6:12-18; Injil: Luk. 12:39-48

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menitipkan satu pesan penting. Ia menuliskan: “Saudara-saudara, hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya” (Rm. 6:12).

Pesan yang ditulis oleh Paulus tersebut kiranya cukup beralasan. Dia tahu bahwa hidup kita di dunia ini seperti sedang berada di medan pertempuran. Kita berhadapan dengan dua kekuatan besar: kekuatan Tuhan dan kuasa si jahat. Maka, di dunia kita semua bertempur untuk membela kebenaran dan mengalahkan kejahatan.

Sama seperti peraturan di medan pertempuran pada umumnya, siapa saja yang mengaku kalah haruslah menyerahkan diri kepada lawannya. Kemudian, pihak yang kalah itu akan diambil dan dijadikan hamba oleh lawannya. Prinsipnya jelas: kepada siapa kita menyerahkan diri, kita dikuasai orang itu.

Kalau kita menyerahkan diri pada pengaruh jahat, maka kita dikuasai oleh perbuatan jahat. Kita menjadi hamba dosa. Sebaliknya, kalau kita menyerahkan diri pada kuasa Tuhan, maka Tuhan akan menguasai hidup kita. Kita menjadi hamba Tuhan.

Makanya Paulus memberi saran: “Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman. Tetapi, serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Rm. 6:13).

Idealnya, jika kita tunduk pada kuasa Tuhan, maka dosa tidak akan menguasai kita lagi. Maka, tunduklah hanya kepada kuasa Tuhan. Tetapi, kita tidak boleh lengah. Kita harus selalu berjaga-jaga; sebab si jahat selalu mencari celah untuk menguasai hidup kita.

Kepada tiap-tiap hamba-Nya, Tuhan menitipkan segala sesuatunya untuk dikerjakan. Karena itu, kita harus mampu mewujudkan perintah-Nya dalam hidup kita. Ingat, seorang hamba tidak boleh mengikuti kemauan sendiri, melainkan apa yang menjadi kehendak tuannya.

Berhubung sekarang lagi viral pemberitaan tentang penunjukkan para mentri, saya menganalogikan hidup seorang hamba Tuhan itu seperti kerja seorang mentri. Seorang mentri kabinet akan dinilai berdasarkan hasil kerjanya sendiri-sendiri. Tapi, seperti kata Pak Jokowi, seorang mentri tidak punya visi-misi sendiri. Yang punya visi-misi hanyalah presiden. Mentri hanya melakukan apa yang menjadi visi-misi presiden. Begitu juga dengan seorang hamba Tuhan. Pekerjaanya harus selaras dengan kehendak Tuhan; dan pada waktunya akan dinilai. Sayangnya, kita tidak pernah tahu kapan Ia akan menilai kita; sebab Ia datang pada saat yang tidak kita ketahui. Maka, berjaga-jagalah.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.