Menggali Spiritualitas ‘Salam’ Maria

0
883
WikimediaImages / Pixabay

Salam dalam konteks pembahasan ini saya artikan dengan sapaan. Sapaan merujuk pada sebuah ungkapan yang disampaikan kepada orang lain, baik  secara verbal maupun non-verbal.

Refleksi ini bertujuan untuk menemukan kekuatan salam. Ternyata salam memiliki kekuatan yang jarang digali oleh manusia. Maria adalah salah seorang tokoh iman yang mengajarkan kepada kita tentang kekuatan salam.

Salam Maria kepada Elisabet merupakan salam teladan bagi kita orang Kristen. Dalam kisah Maria memberikan salam kepada Elisabet dikatakan bahwa Maria berangkat ke pegunungan Yehuda dan melakukan perjalanan jauh (Luk 1:39), ketika salam Maria sampai ke telinga Elisabet maka melonjaklah anak dalam rahim Elisabet (Luk 1:41). Pertanyaan kita ialah: mengapa anak dalam kandungan Elisabeth melonjak kegirangan?

Yohanes melonjak kegirangan ketika mendengar salam Maria karena Maria membawa serta Yesus dalam perjalanannya mengunjungi Elisabet. Peristiwa Maria membawa Yesus kepada saudaranya Elisabet ini diawali dengan pemberitahuan tentang kabar gembira. Kabar gembira yang diterima Maria hendak dibagikannya kepada saudarnya, Elisabet. Dengan demikian, salam Maria merupakan salam iman. Salam yang lahir dari iman Maria. Iman itu dibawa serta oleh Maria kepada Elisabet.

Salam Maria membangkitkan sukacita dalam diri Elisabet dan keluargannya. Sukacita Elisabet tidak hanya terjadi ketika ia mengandung Yohanes, akan tetapi sukacita itu menjadi penuh tatkala Maria mengunjunginya. Kunjungan ini meneguhkan Maria ketika Elisabet mengucapkan satu kata indah “Siapakah Aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi Aku?”

Reaksi spontan Elisabet lahir dari sukacita yang ia temukan ketika mendengar salam Maria. Sukacita itu dilengkapi dengan kehadiran Yesus bersama Maria. Dengan kata lain, kehadiran Yesus dalam rahim Maria memberikan sukacita kepada Elisabet. Maka kehadiran kita sebagai orang yang telah dibaptis kristiani dan telah diangkat menjadi anak-anak Allah pun membawa misi yang sama dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Yesus.

Spritualitas salam Maria merupakan spritualitas yang lahir dari jiwa yang memuliakan Tuhan.

Spritualitas salam Maria merupakan spritualitas yang lahir dari jiwa yang memuliakan Tuhan. Jiwa yang memuliakan itu adalah jiwa yang lahir dari hidup Maria, yang seluruhnya terarah kepada Allah: “Aku ini hamba Tuhan”. Ketika jiwa yang bergairah didekatkan pada Tuhan, maka benarlah ungkapan pemazmur yang berbunyi, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm 1:3). Demikian pun Maria yang telah dipilih Allah dan menjadi pribadi yang subur. Karena kesuburan itulah Elisabet berani mengucapkan “Siapakah Aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”.

avatar
Fr. Patrisius Epin Du, SMM tinggal di seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan Malang dan sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana-Malang.