Biarkan Aku Pergi Jauh

0
246
PIRO4D / Pixabay

Kau dan aku tidak perlu menyesali yang telah terjadi
Mungkin itu takdir yang telah digariskan
Meskipun hatiku masih belum sepenuhnya menerima
Tetapi itulah pilihanmu sendiri

Sungguh engkau tega menyakiti hatiku
Yang tulus mencintaimu
Amarahku dan kata kasarku adalah bukti
Aku tidak ingin engkau pergi

Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku
Engkau menduakan aku dan berbagi cinta dengan yang lain
Betapa sakitnya hatiku, engkau mendustai aku
Aku yakin suatu saat nanti engkau akan mengerti
Betapa aku mencintaimu

Biarkanlah kini aku sendiri
Aku tidak ingin mengusik hadirmu di hati lelaki pilihanmu
Cukup sudah engkau menyakiti hati ini dengan aneka sandirawaramu
Aku ingin pergi sejauh mungkin dari hidupmu
Aku berharap menemukan kabut yang dapat menyembuhkan lukaku

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289