Biografi Santo Markus: Penulis Injil dari Suku Lewi

0
827
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Santo Markus adalah seorang Yahudi dari suku Lewi. Ia dilahirkan di Gyréne, satu dari Lima Kota Barat di Libya, di sebuah desa kecil bernama Aberyatolos. Ibunya bernama ‘Maria’ seorang pengikut Kristus. Ayahnya bernama Artistopolos, sepupu dari istri Santo Petrus Rasul.

Maria yang mana? Memang, pada masa itu, ‘Maria’ merupakan nama yang tidak asing sebab banyak orang memakainya. Misalnya saja dalam Injil ada beberapa orang yang bernama Maria: Maria Ibu Yesus, Maria Magdalena, Maria saudari Lazarus, dan Maria ibu Yakobus (lih. Yoh. 19:25-27).

‘Yohanes’ merupakan nama Yahudi, dan ‘Markus’ adalah nama Romawinya. Namun, nama Markus menjadi nama khasnya. Nama Yahudinya, ‘Yohanes’, berarti ‘Kebaikan Allah’. Nama itu (Yohanes) disebutkan dua kali dalam Kisah Para Rasul (lih. Kis 13:5,13]. Sementara nama Romawinya, ‘Markus’, berarti ‘palu’.

Pada tiga kesempatan, dua nama tersebut disebutkan secara bersamaan; sehingga para teolog menyebutnya ‘Yohanes Markus’. Ia unggul dalam berbahasa dan terdidik dalam agama. Ia belajar hukum dan sejarah para nabi. Dengan kekayaan pengetahuan itu, ia menjadi seorang penerjemah Rasul Petrus selama misinya di Roma dan sekitarnya.

Menurut catatan gereja mula-mula, Markus menulis Injilnya berdasarkan penuturan Petrus. Eusebius mengutip tulisan Papias (~60-130), uskup Hierapolis, sekitar tahun 120, demikian:

“Markus, yang menjadi penerjemah bagi Petrus, menulis dengan teliti, meskipun tidak berurutan, apa yang diingat-nya [Petrus] dari perkataan atau tindakan Kristus. Karena dia [Markus] tidak mendengar sendiri maupun menjadi pengikut langsung dari Tuhan, tetapi kemudian, seperti saya katakan, menjadi pengikut Petrus, yang menyesuaikan pengajarannya menurut kebutuhan pendengarnya, tetapi tidak dengan maksud untuk memberikan riwayat yang beruntunan dari pengajaran Tuhan, sehingga Markus tidak keliru ketika menuliskan sejumlah hal menurut ingatannya. Karena dia berhati-hati dalam satu hal, yaitu tidak menghilangkan apa pun yang didengarnya, maupun tidak menyatakannya dengan tidak tepat.”

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289