Bunda Maria, Tidak Disembah, tapi Layak Dihormati

0
1332

Banyak orang bertanya-tanya, apa sebetulnya ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria? Untuk menjawab rasa penasaran banyak orang itu, berikut kita simak penjelasan Dr. Miravalle yang dikutip dari buku Rome Sweet Home (Roma Rumahku), salah satu buku best seller yang ditulis oleh Scott Hahn dan Kimberly Hahn.

Pertama, Ia [Bunda Maria] bukan Dewi – ia sungguh sangat layak untuk dihormati tapi tidak layak untuk disembah, sebab hanya Tuhan-lah yang boleh disembah.

Kedua, Maria adalah makhluk yang dirancang secara khusus oleh Putra-Nya dan tidak ada dan tidak akan pernah ada seorang ibu lain yang diciptakan demikian.

Ketiga, Maria bersukacita dalam Allah juruselamatnya seperti yang dinyatakannya dalam Magnificat, karena Yesus menyelamatkannya dari dosa pada saat penjelmaan. Dengan perkataan lain, keadaannya tanpa noda adalah kasih karunia, menyelamatkan dirinya sebelum ia sempat jatuh ke dalam dosa.

Keempat, gelar Maria sebagai Ratu Surga tidak diperoleh karena menikah dengan Allah—tetapi didasarkan pada penghormatan karena menjadi Ibu Ratu dari Yesus, Raja segala Raja, dan Putra Daud. Dalam Perjanjian Lama, raja Salomo, Putra Daud, mendudukkan ibunya Batsyeba di sebelah kanan takhtanya, menghormati dia dalam istananya sebagai ibu ratu. Dalam Perjanjian Baru, Yesus memuliakan ibu-Nya, Perawan Maria yang terberkati, dengan mendudukkannya di atas takhta di sebelah kanan-Nya di surga, dan meminta kita untuk menghormati dia sebagai Ibu Ratu Surgawi.

Kelima, misi Maria adalah untuk menunjuk melalui dirinya kepada Putranya, dengan berkata, “Lakukan saja apa yang Dia katakan.”

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria sesungguhnya berpatokan pada Kitab Suci. Sebab, Kitab Suci sendiri memberi kesaksian bahwa Bunda Maria adalah pilihan Allah. Bahkan, sejak semula Allah telah merancang keselamatan itu, dan Bunda Maria adalah salah satu yang berperan dalam keselamatan itu, melalui kesediaannya melahirkan Yesus Kristus.

Selain itu, kita menemukan dalam Injil Yohanes bahwa Yesus sendiri sebelum wafat-Nya di kayu salib, Ia berkata bahwa Bunda Maria adalah ibu kita—tentu bukan hanya untuk para murid saat itu atau murid yang hadir saat itu, melainkan bagi kita juga sebagai pengikut Yesus.

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (bdk. Yoh. 19:25-27).**

Referensi:

Scott dan Kimberly Hahn. 2016 (cetakan Ketujuh belas). Rome Sweet Home (Roma Rumahku). Malang: Penerbit Dioma, hlm. 234-235. Diterjemahkan dari buku Rome Sweet Home-Our Journey to Catholicism, Scott and Kimberly Hahn, Ignatius Press, San Francisco, 1993.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289