0.2 C
New York
Saturday, March 6, 2021

Dipanggil untuk menjadi Murid dan Rasul di Dunia Maya: Bersediakah Kamu Diutus?

Dipanggil untuk menjadi Murid dan Rasul di Dunia Maya: Renungan Harian, 22 Januari 2021 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 3:1319

Dalam cerita Injil hari ini dikatakan bahwa Yesus  memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dari antara mereka yang dipanggil-Nya itu, dua belas orang ditetapkan-Nya sebagai rasul; atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan apostle.

Kelompok ‘dua belas’ ini boleh dikatakan sebagai ‘pasukan khusus’, yang menjalankan tugas-tugas yang khusus pula. Adapun tugas khusus yang mereka emban adalah untuk menyertai Dia, untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan.

Penginjil Markus memberi penekanan bahwa Yesus memanggil mereka dengan nama mereka masing-masing. Bahkan, Ia juga ‘memberi nama’ kepada mereka. Ini menandakan bahwa Ia mengenal mereka satu per satu dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.

Selain kelompok terbatas atau yang dikenal dengan sebutan ‘kelompok dua belas’ itu, Yesus juga memilih kelompok yang jumlahnya jauh lebih besar yang disebut ‘murid’ atau dalam bahasa Inggris disebut disciple.

“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya” (Mrk. 10:1).

Baik apostle maupun disciple sama-sama belajar dari Sang Guru, yaitu Yesus sendiri. Yesus membekali mereka dengan segenap kemampuan agar mereka sanggup menjalankan tugas perutusan untuk memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan-setan.

Tentu saja setiap tugas perutusan tidak pernah mudah. Yesus sendiri berkata: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk. 10:3). Makanya sangat ditekankan untuk selalu ‘bersama dengan Yesus’. Para apostles dan disciples itu harus selalu bersama dengan Yesus. Terlepas dari Yesus, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Dengan kata lain, mereka tidak boleh mengandalkan kemampuan sendiri-sendiri. Sebab, kemampuan dan kuasa yang mereka miliki bersumber dari Yesus, bukan dari diri sendiri. Jika mereka hanya mengandalkan kemampuan sendiri, mereka akan ‘diterkam’ oleh sulitnya keadaan di tempat mereka berkarya.

Panggilan untuk menjadi murid Yesus tidak saja terbatas pada zaman dulu melainkan masih berlanjut hingga saat ini. Sekarang pun kita dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi murid dan rasul-Nya. Tak boleh ada yang menolak. Sebaliknya, kita harus datang  kepada-Nya untuk menjawab panggilan-Nya itu. Sebab, Yesus sendiri berkata: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Luk. 10: 2). Jika bukan kita yang menjawab panggilan itu, lantas siapa lagi?

Jika para murid dan rasul zaman Yesus diutus ke kampung-kampung untuk memberitakan Injil, menyembuhkan segala penyakit, dan mengusir setan-setan, tugas perutusan kita saat ini tentu mengalami sedikit perubahan dan perluasan. Sekarang, kita diutus sebagai murid dan rasul tidak hanya untuk berkarya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya.

Menjalankan tugas pewartaan di dunia maya bukan sekedar mengisi waktu luang atau menghabiskan paket kuota internet. Pewartaan di dunia maya sama pentingnya dengan karya kerasulan di dunia nyata. Sebab, ada banyak umat kita yang ‘berkumpul’ di dunia maya. Di sanalah kita menjumpai mereka.

Ingat, ketika Yesus bertemu dengan Petrus di pantai danau Genesaret, Ia berkata kepada-Nya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu” (Luk. 5:4). Kata ‘jala’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata ‘net’. Kata ‘net’ ini merupakan akhiran dari kata internet. Terlihat seperti kebetulan, tapi itulah yang terjadi.

Saat ini, dunia maya merupakan ladang pewartaan yang baru. Kebun anggur ini harus diolah agar berbuah, tak bisa dibiarkan begitu saja. Tuhan memanggil kita untuk menjala (baca: merasul) di dunia maya. Tentu tugas ini tidak mudah; dan memang tidak akan pernah mudah. Tapi ingat, Tuhan memanggil kita dengan nama, bahkan Ia memberi kita nama masing-masing, yang artinya Ia tahu kemampuan kita, dan bahkan Ia memberi kita segenap kemampuan agar kita sanggup menjalankan tugas perutusan yang diberikan-Nya. Bersediakah kamu diutus?

avatar
RP Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,513FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini