2.4 C
New York
Saturday, November 27, 2021

Katolik Menjawab: Teologi Kemakmuran Tak Sesuai dengan Injil

Semua orang ingin sukses. Tidak ada orang yang ingin hidup melarat dan menderita. Itu pasti. Tapi, perlu disadari bahwa seperti halnya tak ada hari Minggu Paskah tanpa Jumat Agung, atau tak ada kebangkitan tanpa salib, demikian juga tak ada kesuksesan tanpa perjuangan.

Sayangnya, tidak sedikit orang mengabaikan atau menghindari proses dan usaha, dan maunya langsung sukses. Mereka mencoba skip dari Jumat Agung, dan menginginkan hari Paskahnya saja. Mereka tidak mau menerima salib tapi berharap bisa merayakan kebangkitan.

Teologi Kemakmuran’, mereka menyebutnya demikian. Sekarang ini sedang marak-maraknya orang mengembangkan teologi yang relatif baru ini. Apa yang diajarkan dalam Teologi Kemakmuran? Yaitu bahwa setiap orang mendapat jaminan untuk menjadi sukses dan berada; sebab setiap orang adalah anak Allah, dan anak Allah tidak boleh miskin dan menderita; anak Allah adalah anak Raja. Anak Raja tidak boleh hidup melarat.

Padahal, dalam pewartaan para rasul, dapat kita amati bagaimana sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus sering disebut secara bersamaan. Secara teologis, kedua fakta tersebut, yakni sengsara dan wafat Yesus di satu sisi dan kebangkitan-Nya yang mulia di sisi lain, merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Yang satu tidak mempunyai arti tanpa yang lain, dan keduanya merupakan fakta sentral dan fundamental bagi iman Kristiani.

Dengan demikian, kesengsaraan hidup, penderitaan, atau pergumulan, merupakan realitas hidup yang tidak bisa kita skip begitu saja. Mengapa? Karena Yesus mewariskan salib, bukan yang lain. Memikul salib setiap hari merupakan prasyarat untuk menjadi pengikut Yesus. Yesus sendiri berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Jadi, salib itu selalu ada pada kita untuk dipikul, bukan untuk dibuang.

Begitulah gambaran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para rasul dan begitu jugalah gambaran setiap orang Kristen yang mau bersatu dengan Kristus. Maka, kecenderungan orang untuk menghindari kesengsaraan dan hanya mengharapkan apa yang baik dalam hidup di dunia ini (kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, dsb.,) jelas tidak sesuai dengan Injil.

Max Lucado, pendeta senior Gereja Oak Hills di San Antonio, Texas, yang juga penulis buku best-seller ‘Facing Your Giants’, dalam bukunya yang berjudul ‘Just Like Jesus’ menuliskan bahwa ‘Allah tidak pernah berjanji untuk melepaskan kita dari pergumulan kita. Namun, Dia berjanji untuk membantu kita mengubah cara kita memandang pergumulan itu’.

Max, demikian ia disapa, mengutip Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berbunyi: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya ini kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”” (Rm. 8:35-37).

Menurut Max, apa yang disebutkan oleh Paulus dalam suratnya itu: kekacauan, masalah, penderitaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, dan ancaman kematian, merupakan hal-hal yang sebenarnya ingin sekali kita hindari. Kita maunya memilih kata depan yang lain, bukan yang itu. Kita mau memilih kata depan ‘dilepaskan’ dari semuanya ini, atau ‘dijauhkan’ dari semuanya ini, atau bahkan ‘tanpa’ semuanya ini. Tetapi, lihat, kata depan mana yang dipilih oleh Paulus? Ternyata Paulus memilih kata depan ‘dalam’ semuanya ini. Jadi, demikian Max, solusi yang terbaik bukanlah menghindari permasalahan, melainkan mengubah cara pandang kita terhadap permasalahan.

Ini tidak berarti bahwa kita harus mencari-cari salib. Tidak. Salib selalu ada pada kita. Kita cuma harus memanggulnya bersama dengan Kristus. Hanya saja, kita tidak bisa menerima gagasan bahwa orang Kristen adalah anak Allah, dan anak Allah harus sukses dan berada karena Allah adalah Raja. Mengapa? Karena Allah, Bapa Yesus Kristus itu, menghendaki agar kita meneladan sengsara Putra-Nya agar kita masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Referensi:
Pidyarto, H. 2012. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma, hlm. 340-344.
Lucado, Max. 2017. Just Like Jesus (terj). Yogyakarta: Gloria Graffa, hlm. 138.
https://www.katolisitas.org/teologi-kemakmuran-ajaran-gampang-tapi-salah/
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/why-the-prosperity-gospel-is-bankrupt

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini