Katolik Menjawab: Dogma Bunda Maria Dikandung tanpa Noda Dosa Ada Dasarnya

0
1618
photosforyou / Pixabay

Dari empat dogma tentang Maria dalam Gereja Katolik, salah satunya adalah dogma ‘Bunda Maria Dikandung tanpa Noda’. Dengan dogma ini, Gereja Katolik mengakui bahwa Bunda Maria, sejak dikandung ibunya, tidaklah berdosa. Itu berarti bahwa pada saat pembuahannya, Maria dipenuhi dengan rahmat pengudusan dari Allah.

Dasar dari dogma ini adalah: karena Kristus adalah Mesias, maka Ia tanpa salah, tanpa noda, ‘yang terpisah dari orang-orang berdosa’ (Ibr. 7:26). Keterpisahan itu mensyaratkan juga kekudusan ibu-Nya, sebab penjelmaan-Nya sebagai manusia mengambil tempat di tubuh ibu-Nya. Dengan demikian, ibu yang mengandung Kristus harus terpisah sama sekali dengan dosa – tanpa noda dosa – sebab Kristus yang dikandungnya adalah Allah.

Pertanyaannya adalah: “Sejak kapan Maria dijadikan tanpa dosa oleh Allah?” Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria dikuduskan Allah sejak ia terbentuk dalam kandungan ibunya.  Alasannya: karena sabda Allah mengajarkan bahwa kehidupan manusia dimulai sejak terbentuk dalam rahim ibu (lih. Ayb. 31:15; Mzm. 139:13), maka Bunda Maria dikuduskan – yaitu dibebaskan dari noda dosa – sejaku masih dalam kandungan ibunya. Hal itu dapat terjadi karena Bunda Maria dipersiapkan oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Putra-Nya yang kudus dan tak berdosa. Dengan demikian, kekudusan Bunda Maria merupakan karunia dari Allah yang diberikan kepadanya demi tugas istimewanya sebagai bunda bagi Sang Putra Allah.

Meski tidak ada satu pun ayat Kitab Suci yang secara gamblang menyebutkan keadaan ‘Bunda Maria sebagai yang tak bernoda’, namun ada dua teks Kitab Suci yang dapat dijadikan sebagai dasar: yaitu Kej. 3:15 dan Luk. 1:28.

Dalam Kej. 3:15, Tuhan berfirman: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Tradisi Gereja yang sangat kuno melihat ayat ini sebagai ‘Injil Pertama’ (Proto-evangelium), yang memuat cerita tentang permusuhan antara ular dan wanita. Jelas, ular yang dimaksudkan dalam Kej. 3:15 ini adalah setan; dan ‘keturunan wanita’ yang meremukkan kepala Setan hingga mati itu adalah Mesias. Nah, dengan demikian, perempuan yang bermusuhan dengan Setan dan menjadi bunda Mesias yang meremukkan kepala Setan itu, pastilah bukan Hawa si pendosa, melainkan bunda Sang Mesias.

Nah, Mesias itu adalah Yesus dari Nazaret dan ibu-Nya adalah Maria. Dengan demikian, bagi kita menjadi jelas bahwa sejak awal mula Allah menempatkan Maria sebagai musuh Setan, musuh dosa. Maria sejak semula menjadi lawan setan, artinya dibebaskan dari noda dosa.

Ayat kedua yang perlu disinggung di sini adalah salam dari Malaikat Gabriel kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Menurut Origenes, sebutan ‘yang dikaruniai’ itu tidak pernah diberikan kepada manusia lain kecuali kepada Maria; sehingga sebutan itu bukan sekedar gelar melainkan hakikat Maria.

Nah, karena hakikat Maria adalah ‘yang dikaruniai’, maka ia tidak mungkin dicemari oleh dosa asal; sebab dosa asal justru membuat manusia tidak mampu menerima kepenuhan karunia. Jadi, dari Luk. 1:28 ini Gereja Katolik menyimpulkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa. Maria diberi hak istimewa untuk dikandung tanpa dosa asal untuk menjadikannya sebagai ibu bagi Sang Penebus dan Gereja-Nya.

Referensi:
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan. Yogyakarta: Kanisius.
Pidyarto, H. 2012. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Dioma.
Tay, Stefanus & Inggrid Listiati Tay. 2016. Maria O Maria: Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
https://www.catholic.com/encyclopedia/immaculate-conception#II._THE_HOLY_SCRIPTURE
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption
https://www.catholic.com/video/was-the-immaculate-conception-necessary
https://www.catholic.com/qa/how-do-we-explain-the-necessity-of-marys-immaculate-conception
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/how-to-defend-the-immaculate-conception

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.