Renungan Masa Adven: Bertobatlah, Tuhan Datang Membawa Damai

0
340
Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas (Rasul) pada setiap 30 November.

Bertobatlah, Tuhan Datang Membawa Damai: Renungan Masa Adven, Minggu 8 Desember 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 11:10; Bacaan II: Rm. 15:4-9; Injil: Mat. 3:1-12

Kedatangan Tuhan Yesus ke tengah dunia bukan sesuatu yang tiba-tiba. Jauh sebelum kelahiran-Nya, para nabi sudah bernubuat tentang-Nya. Salah satu nabi yang sudah sejak lama mewartakan kelahiran Yesus adalah Yesaya.

Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama hari ini, menubuatkan bahwa Dia akan lahir dari keturunan Isai. Isai adalah seorang ayah dari delapan anak, yang tinggal di Betlehem. Anak bungsunya bernama Daud, yang kemudian dikenal sebagai Raja Daud.

Maka, bukan suatu kebetulan jika kemudian hari Yesus lahir di Betlehem saat kedua orang tuanya berangkat ke Yerusalem untuk mengikuti cacah jiwa. Kelahiran Yesus di Betlehem menegaskan bahwa memang leluluhur-Nya dari sana, persisnya dari garis keturunan Daud. Tapi Ia besar di Nazaret.

Nabi Yesaya menggambarkan bahwa ketika Sang Mesias itu datang, ada situasi yang tidak pernah kita alami sebelumnya. ‘Pada masa itu, serigala akan tinggal bersama domba; dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak’ (Yes. 11:6-8).

Luar biasa. Kalau kita mendengar deskripsi seperti ini, apa yang ada di benak kita? Jawabannya: damai. Yesaya menggambarkan situasi super damai yang dialami oleh manusia saat Sang Mesias itu datang. Sebab, Dia datang untuk membawa damai ke tengah dunia.

Di sinilah bedanya Yesus dengan leluhur-Nya, Daud. Daud memerintah Israel selama empat puluh tahun lamanya (lih. 2 Sam. 5:4). Masa pemerintahannya selalu  diwarnai dengan berbagai pertempuran di sana sini; sedangkan Yesus bukan hanya menjadi raja untuk bangsa Israel, melainkan menjadi raja untuk seluruh alam semesta; dan kerajaan-Nya berlangsung selama-lamanya. Dan, Dia adalah Raja Damai.

Karena itu, kedatangan Sang Raja Damai itu menuntut sejumlah persiapan dari kita. Bukan pertama-tama persiapan kue, ornamen, atau pernak-pernik, melainkan persiapan hati. Persiapan hati jauh lebih penting di atas persiapan yang lainnya. Nabi Yesaya berseru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” (Yes. 40:3).

Padang gurun di sini menggambarkan situasi kita. Yesaya mengingatkan agar apapun situasi yang kita hadapi; misalkan saja hidup kita gersang seperti padang gurun; mungkin karena banyaknya pergumulan yang kita hadapi, tetap persiapkan hati kita untuk Tuhan.

Sekiranya selama ini ada sesuatu yang mengganjal di hati, yang membuat perjalanan iman kita menjadi lekak-lekuk, alias tidak stabil. Yesaya bilang ‘ratakan dan luruskanlah’. Jangan sampai itu semua menghambat kita untuk berjumpa dengan Tuhan yang datang.

Tapi, bagaimana caranya? Yohanes Pembaptis memberitahu kita caranya. Ia bilang: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Jalan pertobatan merupakan cara kita mempersiapkan hati kita bagi kedatangan Tuhan. Maka, masa adven, harus diisi dengan upaya pertobatan.

Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yesus dengan menyerukan pertobatan. Seruan Yohanes Pembaptis ini patut menjadi bahan permenungan kita bersama.

Kita semua berdosa. Tapi, apakah kita mempunyai keberanian untuk bertobat? Tuhan tidak perlu pernak-pernik, juga tidak perlu hiasan yang macam-macam. Tuhan hanya mau kita bertobat.

Kita seringkali sibuk mempersiapkan ornamen luar, tapi lupa mempersiapan hati. Pertobatan menyangkut hati. Betapa damainya hati kita apabila kita hidup dalam keadaan bertobat. Semoga kita berani mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis; mengambil sikap tobat atas kesalahan dan cara hidup lama yang tidak berkenan di hadapan Allah.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected]