Renungan Masa Adven: Tuhan Datang untuk Membawa Perubahan

0
515
Lilin dan warna liturgi ungu melambangkan pertobatan dan penyesalan untuk mempersiapkan jiwa kita dalam menyambut Kristus pada Hari Natal.

Tuhan Datang untuk Membawa Perubahan: Renungan Masa Adven, Jumat 6 Desember 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

Saat ini kita sedang berada dalam masa Adven. Kata ‘Adven’ itu sendiri berasal dari kata bahasa Latin ‘Adventus’ yang berarti kedatangan. Pada masa ini kita menunggu kedatangan Sang Mesias yang akan lahir di tengah-tengah kita.

Bisa dipastikan bahwa tidak ada ruginya apabila kita menunggu kedatangan-Nya; dan tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang setia menunggu kedatangan Tuhan; sebab Tuhan yang akan datang itu akan mengubah segala sesuatunya menjadi baik adanya.

Perubahan ke arah yang lebih baik itu dilukiskan dengan sangat baik oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini. Nabi Yesaya bilang: “Tidak lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan” (bdk. Yes. 29:17).  

Saya sendiri belum pernah pergi ke Libanon, dan boleh jadi tidak akan pernah pergi ke sana. Tapi, dari banyak sumber yang saya baca dan lihat, dilukiskan bahwa Libanon terdiri atas pegunungan dan perbukitan yang sambung-menyambung seperti pegunungan di Indonesia. Bedanya, jika di Indonesia rata-rata kondisinya hijau karena penuh dengan pepohonan, tidak demikian dengan Libanon. Libanon tampak gersang dan gundul.

Nah, dalam situasi itu, Nabi Yesaya memberi petunjuk. Dia katakan bahwa pada saat kedatangan Tuhan, Libanon yang gersang dan gundul itu akan berubah menjadi kebun buah-buahan.

Bukan hanya itu. Pada saat Tuhan datang, orang-orang tuli akan mendengar, dan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin akan bersorak-sorak. Orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.

Semua keadaan kita akan dibalikkan oleh Tuhan yang akan datang itu seratus delapan puluh derajat. Mereka yang yang tadinya sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan.

Satu hal yang dituntut dari kita, selain setia menunggu, yaitu menaruh sikap percaya. Tuhan mau agar kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Percuma kita menunggu kalau tidak percaya.

Dua orang buta, dalam cerita Injil hari ini, disembuhkan oleh Yesus hanya karena mereka percaya kepada-Nya. Begitu pentingnya sikap percaya itu, makanya Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka.

Sikap percaya ini harus kita tanamkan dalam diri kita saat ini juga. Yakinlah, kalau kita setia menunggu dan sungguh percaya terhadap Dia yang kita tunggu, Dia akan mengubah semua yang kita alami saat ini menjadi baik adanya. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected]