Perpecahan dalam Gereja dan Lahirnya Gerakan Ekumene (2)

0
316
Sumber: Google.com

(Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya, “Perpecahan dalam Gereja dan Lahirnya Gerakan Ekumene (1).” Pada bagian ini, saya secara khusus membahas secara singkat tentang lahirnya Gerakan Ekumene dalam Gereja Protestan berdasarkan beberapa sumber yang telah saya dalami.)

 

Sejarah Singkat Gerakan Ekumene 

Ekumene berasal dari bahasa Yunani oikoumene yang berarti seluruh dunia. Setelah agama Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, kata ekumene mulai diartikan sebagai “termasuk Gereja.” Ekumene berarti juga menyangkut semua orang. Pada awal abad 20, kata ekumene diberi arti geografis yakni orientasi Gereja misioner yang terarah kepada seluruh dunia. Pada zaman ini juga, Nathan Soderblom, Uskup Agung Lutheran di Uppsala (Swedia), memberikan arti lebih teologis terhadap kata ekumene ini. Ia memakai kata ekumene untuk menjelaskan bahwa Gereja-Gereja Kristen secara fundamental bersifat satu. Ekumene merupakan ungkapan untuk Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Persekutuan dengan Kristus menjadi dasar kesatuan yang harus diwujudkan oleh Gereja-Gereja Kristen. Jadi, ekumene memiliki dua arti yang saling berkaitan yakni menyangkut seluruh dunia (universal) dan sesuatu yang menyangkut kesatuan Gereja-Gereja.

Gerakan Ekumene adalah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat kristen.[1] Kesatuan diakui sebagai ciri dasar Gereja Kristus. Harus dikatakan pula bahwa gerakan ekumene  itu pertama-tama muncul dari Gereja Reformasi.[2] Menurut Christian De Jonge, pada abad 19, sekurang-kurangnya ada empat usaha yang dilakukan oleh Gereja Reformasi (Protestan) dalam membangun kesatuan Gereja.

Pertama, usaha mempersatukan orang-orang Kristen dari gereja-gereja yang mempunyai dasar teologis dan konfensional yang sama. Kedua, usaha mempersatukan orang-orang Kristen Protestan dalam satu perhimpunan. Usaha ini dipelopori oleh seorang pendeta Skotlandia, Thomas Chalmers (1780-1847). Hasilnya adalah pembentukan Perserikatan Injili (Evangelical Alliance) di London tahun 1846. Sumbangan perserikatan ini bagi perkembangan gerakan ekumene adalah pelaksanaan Minggu Doa Sedunia untuk kesatuan Gereja, pelaksanaan konferensi dan penerbitan majalah ekumenis yang pertama, Evangelical Christendom. Ketiga, pembentukan Gerakan-gerakan Sukarela (Voluntary Movements). Yang mempersatukan anggota gerakan yang berasal dari banyak gereja (denominasi) ini adalah tugas mewartakan Injil kepada dunia. Gerakan ini pada awalnya bertumbuh di Amerika Serikat dan kemudian berkembang juga di Eropa. Keempat, kerja sama dalam bidang pewartaan Injil. Kerja sama ini mulai dalam bidang penerjemahan dan penyebaran Alkitab. Beberapa lembaga Alkitab yang melakukan ini, antara lain, Lembaga Alkitab Btitish dan Luar Negeri (British and Foreign Bible Society) yang didirikan tahun 1804; Lembaga Alkitab Belanda yang didirikan tahun 1804.[3]

Visser’s Hooft, seorang pelopor gerakan ekumene abad 20 mengungkapkan pendapatnya tentang motivasi ekumenisme.

“Hanya ada satu motivasi yang bisa memberi kekuatan dan bobot bagi gerakan ekumene yaitu kenyataan bahwa kesatuan adalah hakikat Gereja dan keterpecahan dalam bentuk apapun menggelapkan rencana Allah bagi umat-Nya. Motivasi ini harus dipertahankan tanpa peduli dengan aliran apa pun. Motivasi ini berlaku untuk abad ke-20 sama seperti abad pertama. Bila terpecah, Gereja menyangkal hakikatnya sendiri dan mengkhianati tugas perutusannya. Gereja membutuhkan persekutuan bukan karena hal itu berguna atau menyenangkan, melainkan karena termasuk inti kehidupan Gereja.”[4]

Pendapat di atas hendak menegaskan bahwa kesatuan bukan suatu ciri yang bisa ada, tetapi harus ada; ciri esensial, agar Gereja bisa mewartakan diri secara benar.[5] Kitab Suci Perjanjian Baru yang diakui oleh semua Gereja sangat menyadari bahwa kesatuan adalah ciri hakiki para pengikut Kristus.[6] Kesatuan itu merupakan perintah Yesus sendiri sebagai Kepala Gereja. Dengan demikian, jika para pengikut Kristus tidak berjuang untuk hidup dalam persekutuan, mereka melawan perintah Sang Kepala Gereja.

Usaha-usaha di atas berpuncak pada Konferensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh (14-23 Juni 1910).[7] Konferensi ini dipelopori oleh John Raleigh Mott (1865-1955) dan Joseph H. Oldham (1874-1969) dari Skotlandia. Yang hadir pada konferensi ini lebih dari 1.335 orang. Konferensi  ini dipandang sebagai titik awal gerakan ekumene abad 20.[8] Akan tetapi, yang hadir pada saat itu sebagian besar dari Eropa. Dari negara-negara di Asia hanya 17 orang yang hadir.

Konferensi Edinburgh berjalan dengan baik dan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan gerakan ekumene karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, para peserta konferensi adalah wakil-wakil atau utusan-utusan Badan-Badan Pekabaran Injil yang menghadiri konferensi bukan atas namanya sendiri. Karena itu, keputusan-keputusan yang diambilnya mengingatkan Badan Pekabaran Injil yang diwakilinya. Kedua, masalah-masalah yang dibicarakan dalam konferensi adalah masalah-masalah aktual dan mengenai hal-hal yang dihadapi bersama dalam bidang Pekabaran Injil. Hasilnya sangat nyata dalam rumusan strategi dan rencana di bidang Pekabaran Injil. Hal-hal tersebut antara lain, Pekabaran Injil kepada masyarakat bukan Kristen, pendewasaan jemaat, perlengkapan para Pekabar Injil, tugas pendidikan para Pekabar Injil dan pemupukan kerja sama untuk kesatuan. Ketiga, konferensi tidak membahas hal-hal yang memancing perdebatan panjang, misalnya yang berkaitan dengan Lembaga Iman dan tata Gereja. Keempat, masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam konferensi disalurkan dan dilanjutkan di dalam wadah kesatuan. Wadah kesatuan ini disebut Dewan Misi Internasional (International Missionary Council).[9]

Konferensi ini juga menghasilkan beberapa hal penting yang membuka jalan bagi gerakan ekumene.[10] Antara lain, pertama, peserta konferensi semakin menyadari betapa penting pewartaan Injil ke seluruh dunia. Kedua, berusaha membentuk dan mengembangkan Gereja nasional yang mencukupi kebutuhan sendiri (self-supporting), mengatur diri sendiri (self-governing) dan mengembangkan diri (self-propagating). Ketiga, menjalin kerja sama dalam menciptakan keesaan Gereja (cooperation and unity).

Konferensi di Edinburgh semakin menumbuhkan semangat Gereja-Gereja Protestan dalam membangun kesatuan Gereja.  Kemajuan ini ditandai dengan dibentuknya secara resmi Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (World Council of Churches, WCC) pada tanggal 23 Agustus 1948.[11] Yang menjadi anggota WCC berjumlah 147 gereja dari 44 negara. Ditegaskan bahwa WCC tidak boleh menjadi lembaga yang mengambil alih tugas dan wewenang gereja-gereja anggota. Selain itu, ditekankan pula bahwa Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD) adalah persekutuan yang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah dan Juru Selamat.[12] Inilah pengakuan dasar yang dibuat dan disetujui oleh semua gereja anggota. DGD adalah wadah di mana gereja-gereja dapat berkumpul, dalam satu persekutuan rohani untuk berunding dan mencari jalan menuju kesatuan Gereja yang sempurna.  Pada waktu pertemuan di Toronto tahun 1950 ditegaskan pula bahwa DGD tidak bertolak dari eklesiologi tertentu dan hanya melihat titik kesatuan dalam Kristus.[13] Tugas mewujudkan Gereja Kristus yang esa adalah tugas gereja-gereja sendiri, sedangkan DGD hanya mau menolong gereja-gereja dalam tugas ini.

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh gereja-gereja anggota DGD:

Pertama, berupaya mewujudnyatakan keesaan Gereja dalam satu iman dan satu persekutuan ekaristi.Kedua, meningkatkan kesaksian bersama mereka dalam karya untuk misi dan penginjilan. Ketiga, melibatkan diri dalam pelayanan Kristen melalui pelayanan demi kebutuhan manusia, meruntuhkan tembok-tembok penghalang antar manusia, mengusahakan keadilan dan perdamaian, serta menjunjung keutuhan ciptaan. Keempat, mengupayakan pembaruan dalam keesaan, ibadah, misi, dan pelayanan.[14]

Pada tahun 2010, Konferensi Edinburgh berusia 100 tahun. Untuk memperingati peristiwa bersejarah ini,  lebih dari 1000 orang utusan dari pelbagai persekutuan atau denominasi dari seluruh dunia berkumpul di Edinburgh pada 2-6 Juni 2010.[15]Ada banyak kegiatan yang dilakukan, antara lain, seminar yang bertujuan untuk mengembangkan wawasan ekumenis sekaligus melanjutkan perjuangan yang telah berjalan dengan baik selama ini. Peserta yang hadir pada perayaan 100 tahun ini bukan hanya dari gereja-gereja Reformasi, tetapi juga Katolik-Roma, Ortodoks dan persekutuan gerejani lainnya.[16] Salah seorang teolog Katolik yang hadir sekaligus menjadi pembicara pada perayaan tersebut adalah Steven Bevans.[17] Ia berbicara tentang tugas Gereja sebagai pewarta kabar gembira kerajaan Allah kepada dunia.

Hal-hal yang digarisbawahi pada perayaan 100 tahun Edinburgh adalah:

Pertama, gereja-gereja memiliki kesempatan untuk merayakan dan bersyukur atas apa yang Tuhan lakukan dalam perkembangan Gereja di seluruh dunia pada abad sebelumnya dan dalam doa berjanji  kepada Tuhan untuk menjadi saksi-Nya pada abad 21.Kedua, pewartaan Injil harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang konteks kontemporer dengan penekanan khusus pada makna evangelisasi dan relevansi kekristenan zaman ini. Ketiga, dialog kunci dalam misi akan diprakarsai oleh pemimpin misi  yang sudah berpengalaman  yang berkembang di  bagian Utara dan perkembangan misi baru di Timur dan Selatan, dengan dialog yang representatif dengan tradisi kekristenan tertentu. Keempat, pedoman/petunjuk akan dikembangkan dan hasil studi dipublikasikan untuk membantu gereja dan pemimpin misi dalam mengevaluasi model misi demi perkembangan yang lebih efektif. Kelima, jaringan-jaringan akan dikerahkan dan persekutuan akan dibentuk agar mengembangkan kolaborasi strategi dan sinergi yang lebih besar dalam mewujudkan mandat misi. Keenam, berdasarkan analisis kritis atas situasi dunia, sebuah visi baru atas kehendak Allah terhadap ciptaan dalam Kristus dan spiritualitas yang dibaharui dan etos misi akan dikembangkan dalam gereja-gereja di seluruh dunia.[18]

Beberapa hal yang digarisbawahi di atas menunjukkan bahwa para pengikut Kristus  membangun komitmen untuk hidup bersama dalam semangat kesatuan  demi mewartakan Injil pada zaman ini. Pewartaan itu diawali dengan mempelajari konteks dunia dan situasi aktual masyarakat sehingga Injil yang diwartakan menghasilkan buah yang berlimpah.

Saat ini, anggota DGD berjumlah lebih dari 340 gereja di sekitar lebih dari 100 negara di dunia dan mewakili sekitar 550 juta orang Kristen.[19] Sejak tahun 1948 hingga tahun 2013, DGD telah mengadakan Sidang Raya sebanyak 10 kali.[20] Yang dibahas dalam sidang-sidang ini adalah  hal-hal penting berkaitan dengan keberadaan Gereja, tantangan dan karya pelayanannya di tengah dunia saat ini. Berikut ini adalah kesepuluh Sidang Raya yang sudah dilaksanakan oleh DGD:

  1. Sidang Raya I dengan tema “Kekacauan Manusia dan Rancangan Allah” di Amsterdam, tahun 1948.
  2. Sidang Raya II dengan tema “Kristus-Pengharapan Dunia” di EvanstonIllinois, Amerika Serikat, tahun 1954.
  3. Sidang Raya III dengan tema “Kristus Terang Dunia” di New Delhi, India, tahun 1961.
  4. Sidang Raya IV dengan tema “Lihatlah, Aku Jadikan Semuanya Baru” di Uppsala, Swedia, tahun 1968.
  5. Sidang Raya V dengan tema “Yesus Kristus Membebaskan dan Mempersatukan”, di Nairobi, Kenya,  tahun 1975.
  6. Sidang Raya VI dengan tema “Yesus Kristus – Terang Dunia” di Vancouver, Kanada, tahun
  7. Sidang Raya VII dengan tema “Datanglah ya Roh Kudus – Perbaruilah Seluruh Ciptaan”, di Canberra, Australia,tahun 1991
  8. Sidang Raya VIII, dengan tema “Berbaliklah kepada Allah – Bersukacitalah di dalam Pengharapan”, di HarareZimbabwe, tahun1999.
  9. Sidang Raya IX dengan tema “Ya Allah, di dalam Anugerah-Mu, Perbaruilah Dunia”, diPorto Alegre, Brasil, tahun 2006
  10. Sidang Raya X dengan tema “Ya Allah Kehidupan, pimpin kami kepada Keadilan dan Perdamaian”, di Busan, Korea Selatan, Bulan November tahun 2013.[21]

 

Referensi:

[1]Bdk. Unitatis Redintegratio, art. 2. Bdk juga  Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 3.

[2]Bdk. Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Sejarah, Dokumen-Dokumen dan Tema-Tema Gerakan Oikumenis),  Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990, hal.6.

[3]Ibid.

[4] Pendapat Visser’t Hooft ini dikutip oleh Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 6.

[5]Ibid.,  hal. 5.

[6]Bandingkan dengan Doa Yesus dalam Yoh. 17:21

[7]Ibid., hal. 9.

[8] Bdk. Georg Kirchberger, Op. Cit., hal. 90.90

[9]Josef Konigsmann, Gerakan dan Praktek Ekumene, Ende: Nusa Indah, 1986, hal. 21.

[10] Bdk. Frederiek Djara Wellem, “Konferensi Edinburg” dalam Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hal. 222.

[11]Bdk. Christiaan De Jonge, Menuju Keesaan Gereja, Op. Cit., hal. 39.

[12]Ibid., hal. 36.

[13]Ibid., hal. 40.

[14]Ibid.

[15]Bdk. http://www.edinburgh2010.org/en/about-edinburgh-2010.html, diakses 6 Februari 2015.

[16]Ibid.

[17]Bdk. Steven Bevans, “The Mission has A Church: Perspectives of a Roman Catholic Theologian,” dalam//www.edinburgh2010.org/en/resources/papersdocuments8ad4&sechash=43e9d7d6, diakses 5 Februari 2015.

[18]http://www.edinburgh2010.org/en/about-edinburgh-2010.html, diakses 6 Februari 2015.

[19]http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Gereja-gereja_se-Dunia, diakses 22 Januari 2015.

[20]Ibid.

[21]Ibid.

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.