Renungan Masa Adven: Tuhan Datang untuk Membawa Pengharapan

0
262
Kristus datang ke dunia, hidup, berkarya, menderita, sengsara, wafat, dan bangkit untuk menebus dosa kita agar kita memperoleh hidup yang kekal.

Tuhan Datang Membawa Pengharapan: Renungan Masa Adven, JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

Situasi yang kita hadapi belakangan ini seringkali membuat kita pesimis, tak berpengharapan. Banyak orang secara masif menyampaikan propaganda-propaganda yang bernada negatif ke hadapan kita. Kita dibuat takut dan seolah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidup kita ke depannya. Pikiran kita disesatkan karena fakta dan kebenaran seringkali dibolak-balik. Kita hampir tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah karena pemberitaan dari media-media saat ini sulit dipercaya begitu saja.

Pertanyaan pokok bagi kita adalah: benarkah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dalam hidup ini? Apakah situasi kita sudah separah itu? Jawabannya: tergantung kepada siapa kita percaya. Jika kita percaya pada omongan orang, maka memang tidak akan ada lagi yang bisa diharapkan. Tetapi, jika kita percaya pada perkataan Tuhan, jelas masih ada harapan. Tuhan selalu menyediakan hal-hal indah di depan sana untuk kita. Tuhan sudah menjanjikan itu, dan itu pasti. Tuhan tidak pernah PHP. Hanya kita yang suka PHP.

Nabi Yesaya tiada henti mewartakan kabar baik mengenai apa kata Tuhan untuk kita. Ia getol sekali menyampaikan kabar mengenai kedatangan Tuhan. Kabar mengenai kedatangan Tuhan merupakan kabar baik yang penuh dengan pengharapan. Tuhan sendiri pernah berfirman, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi” (Kel. 19:5).

Nabi Yesaya meyakinkan kita bahwa jika Tuhan datang, Ia akan mengembalikan keadaan kita. Jika sekarang hidup kita susah, jangan kuatir. Ini bukan tanda hancurnya hidup kita. Jika sekarang kita mengalami ketidakadilan, jangan takut. Tuhan masih peduli pada kita. Ketika Tuhan datang, semua akan diubah-Nya menjadi baik adanya. Maka, sudah saatnya bagi kita untuk kembali menyerahkan hidup kita pada Tuhan, dan bukan pada apa kata orang.

Nabi Yesaya melukiskan bahwa pada waktu kedatangan Tuhan itu, orang-orang tuli akan mendengar dan orang-orang buta akan melihat; orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria, dan orang-orang miskin akan bersorak-sorak. Sebaliknya, orang yang sombong akan berakhir dan para pencemooh akan habis, serta semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan.

Kita sering mendengar ungkapan ‘badai pasti berlalu’, dan memang, dalam nama Tuhan badai itu pasti akan berlalu. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Apa syaratnya? Tidak lain yaitu asalkan kita sungguh-sungguh percaya pada Tuhan Yesus.

Sikap percaya pada Yesus sudah ditunjukkan kepada kita oleh dua orang buta yang diceritakan dalam Injil hari ini. Mereka sungguh percaya pada Yesus, makanya mereka berseru-seru dan berkata kepada Yesus: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat. 9:27). Pertolongan dan harapan kita hanya ada pada Tuhan, bukan pada yang lain. Maka, baiklah kalau kita hanya meminta pada Dia saja. Jika kita menghadapi suatu masalah, katakanlah kepada Tuhan, “Kasihanilah kami, ya Tuhan”.

Orang buta disembuhkan oleh Yesus karena mereka percaya pada Yesus. Betapa pentingnya sikap percaya itu. Sesuatu baru akan memberi pengaruh atas hidup kita hanya jika kita percaya. Kalau kita tidak percaya, maka tidak terjadi apa-apa. Makanya Yesus bertanya kepada kedua orang buta itu, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat. 9:28). Jika saja sikap percaya itu tidak begitu penting, tentulah Yesus tidak akan menanyakan itu kepada kedua orang buta itu. Kedua orang buta itu pun sadar, makanya mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat. 9:28). Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat. 9:29).

Kita harus belajar dari orang buta itu. Kita harus percaya pada Tuhan. Sandaran terakhir hidup kita hanyalah Tuhan. Ketika badai datang menghantam hidup kita, jangan menjauh dari Tuhan. Justru sebaliknya, kita harus semakin dekat pada Tuhan. Kita butuh Tuhan supaya selamat.

Kiranya, selama masa Adven ini kita makin menyandarkan hidup kita pada Tuhan sembari kita mempersiapkan diri kita agar kita layak dan pantas menyambut kedatangan Tuhan. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected]